KabarTerkini

Setelah Cina, Kini Indonesia Menjadi Sasaran Perang Dagang AS

biem.co – Setelah pekan lalu, Amerika Serikat dan Cina secara resmi kibarkan perang dagang, dan memberlakukan tarif sebesar USD 34 miliar ke 818 kategori produk Cina. Namun tidak tinggal diam, Cina juga mengenakan tarif ke produk-produk AS.

Hal ini, membuat Indonesia pun kena sasaran kecurigaan Donald Trump. Trump curiga dengan surplus dagang Indonesia yang nilainya mencapai 134 triliun di tahun 2017, menurutnya jumlah itu terlalu menguntungkan bagi Indonesia. Ia pun mengancam akan mencabut bebas bea masuk ke ratusan produk ekspor Indonesia.

Padahal Indonesia merupakan salah satu negara Generalized System of Preference (GPS) dari pemerintah AS, yaitu negara yang mendapat fasilitas keringanan bea masuk dari negara maju untuk produk-produk ekspor negara berkembang dan miskin.

Dilansir dari Liputan 6, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, ancaman AS itu karena ada defisit dalam hubungan perdagangan AS-Indonesia. Padahal, kata dia, ada kesalahan penghitungan dari pihak Amerika Serikat. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Enggartiasto mengaku telah mengirim surat kepada pihak AS.

“Yang GSP-nya, kita termasuk dalam daftar negara yang memiliki surplus yang besar. Tapi kami juga sudah kirim surat dan kita sudah menyampaikan mengenai yang pasti ada perbedaan angka dulu, bagaimana menghitungnya, jumlah defisit mereka dengan surplus kita berbeda angkanya,” kata Enggartiasto.

Enggartiasto mengaku telah mendekati pemerintah AS. Bahkan duta besar Indonesia untuk AS pun turun tangan melakukan pendekatan.

“Dubes kita di Amerika juga menyampaikan pendekatan, dan saya sendiri melakukan komunikasi dengan Amerika untuk meyakinkan, sebab pada dasarnya kita tidak setuju dengan perang dagang, semua pihak akan dirugikan, kita lebih senang dengan kolaborasi,” ujar dia.

Kendati demikian, jika Amerika Serikat tetap menekan bea masuk dari Indonesia, Enggartiasto menyatakan siap melawannya.

“Tetapi kalau kita dapat tekanan, maka hal itu bisa kita lakukan. Sama halnya dengan Amerika Serikat dan China, tapi itu akan berdampak di seluruh dunia,” ujar dia.

Enggartiasto mencontohkan salah satu perlawanan yang pernah dilakukan terhadap pemerintah Norwegia. Norwegia melarang masuknya impor sawit dari Indonesia, pihak Indonesia juga mengancam tidak akan mengizinkan komoditi andalan Norwegia yaitu ikan salmon masuk ke Indonesia. Akhirnya, perlawanan tersebut berhasil dan pihak Norwegia batal memblokir kelapa sawit asal Indonesia.

Untuk itu, dia optimistis bisa mencegah perang dagang Amerika dengan Indonesia. “GSP ini kita masih dalam pembicaraan untuk tidak masuk dalam watch list itu, dan nanti kita akan bahas,” ujarnya. [uti]

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Related Articles

Berikan Komentar