Cerpen

Cerpen B.B. Soegiono: Pertemuan di Gedung Istana

biem.co — Semenjak seribu tahun yang lalu, raja selalu menunjukkan kegelisahannya. Sepertinya ia mempunyai masalah yang sangat begitu serius. Malaikat-malaikat di sampingnya sering mempertanyakan masalah ini terhadapnya, tapi ia tidak pernah berusaha ingin menanggapi segala pertanyaan-pertanyaan itu. Barangkali karena masalahnya sangat-sangatlah berat dan panas, jadinya sebagai penguasa yang bijaksana, ia tidak ingin melibatkan siapa pun.

“Malaikat. Atas dasar apa dikau mempertanyakan ini kepadaku?”

“Mohon maaf Yang Mulia, bukan dasar kelancangan hamba ingin mempertanyakan masalah-masalah apa yang telah mengotori diri junjungan, sehingga bertingkah aneh tidak seperti biasanya. Bukan juga dasar kelancangan hamba ingin ikut campur terhadap apa yang menjadi permasalahan pada diri Yang Mulia. Hamba hanya prihatin ketika junjungan hanya terus-terusan memurungkan diri, mendiamkan diri, dan menutup mulut dengan rapat selama bertahun-tahun. Sampai-sampai para barisan malaikat tidak pernah Engkau sapa,” dengan tangis, malaikat itu berbicara di hadapannya.

“Lalu apa maumu sekarang?” tanyanya pada malaikat itu.

“Tidak ada mau yang ingin hamba sampaikan atas dasar kedatangan ini Yang Mulia. Hamba hanya ingin melihat Yang Mulia sebagai junjungan semesta tetap dalam keadaan baik-baik saja.”

“Itu sajakah yang ingin kamu sampaikan? Apakah tidak ada lagi?” tanyanya lagi pada malaikat yang bersimpu di depannya.

“Tidak ada Yang Mulia, hanya itu.”

Dalam keadaan menangis malaikat itu menatap mata sang raja. Sekalipun tak berterima, dan raja tetap ingin membuang muka.

“Jika sudah tidak ada yang ingin kamu sampaikan, alangkah lebih baiknya jika kamu meninggalkan ruang istana ini,” ucapnya dengan begitu lembut. “Namun jika masih ada yang ingin kamu sampaikan, lekas sampaikanlah! Jangan ragu-ragu ataupun malu,” pintanya.

“Tidak Yang Mulia,” kata terakhirnya! Sebelum ia mengepakkan sayapnya lalu pergi.

Selang beberapa menit pasca malaikat itu pergi, kemudian datanglah suara-suara yang mengguntur dari atas langit-langit istana.

“Yang Mulia…Yang Mulia…Yang Mulia.”

Suara itu berpindah-pindah tempat. Mulai dari langit-langit istana berpindah ke samping istana kemudian berpindah lagi ke depan istana.

“Bisakah engkau lebih sopan jika ingin datang kemari?” tegur raja pada yang bersuara.

“Mohon maaf Yang Mulia. Bukan hendak diri ini datang secara tidak sopan. Tapi inilah sifat dan tingkah laku hamba yang tidak dapat dibuang dan dimusnahkan” katanya dengan suara yang tidak dapat diperhaluspelankan.

“Iya. Ada apa kamu datang kemari?” tanyanya.

“Tidak ada apa hamba datang kemari. Hamba hanya ingin menangis di depan Yang Mulia. Sebab karena diri hamba inilah manusia-manusia yang berada di bawah langit Indonesia banyak yang menjadi terkutuk. Sehingga para malaikat selalu datang ke tempat para iblis untuk meminta pertanggujawaban. Katanya, kesalahan beragama manusia-manusia di sana adalah perbuatan para iblis dengan sifat setannya. Sehingga membuat Yang Mulia sangat kecewa dengan mereka. Dan hendak ingin memusnahkan tempat itu. Apakah benar demikian Yang Mulia? Apakah benar semua ini terjadi karena para iblis?”

“Bukan seperti itu! Para kerabatmu tidak bersalah. Tapi ini murni karena kesalahan tafsir manusianya sendiri. Mereka telah salah dalam mendalami agama yang sejatinya sangatlah indah sebagai pintu menuju yang maha dari kemuliaan. Terima kasih atas kedatanganmu ini. Sebab atas kedatanganmu dan laporan dari para malaikat, maka akan diadakan pertemuan anak-anakku yang dahulu kala aku utus untuk memuncaki agama. Mereka semua yang diizinkan mengambil alih kekuasaan, kemuliaan, maha, dan sang pencipta hanyalah sebuah kedok yang telah kurancang demi keindahan yang beragam. Tapi justru keberagaman mereka salah gunakan sebagai umat anak-anakku atau bagian tubuhku yang telah terbelah-belah menjadi mereka yang telah dianggap mulia. Kitab suci, mereka jadikan pedoman untuk menjadi berbeda dengan segala ajaran-ajaran di dalamnya—yang sesungguhnya adalah buah tanganku untuk diwariskan kepada anak-anakku dengan umatnya,” dengan amarah raja bercerita kepada iblis.

“Lalu apa yang bisa para iblis lakukan dengan problematik yang terjadi di atas bumi Indonesia?”

Ketika iblis selesai bertanya pada raja. Malaikat pun juga datang menukik dengan sayapnya dari langit.

“Yang Mulia, manusia yang berada di dalam negara yang bernama Indonesia itu sekarang telah membuat permasalahan lagi. Kitab suci buah tangan Yang Mulia telah mereka jadikan sumber perang dengan sesamanya. Dan sepertinya yang berada di samping hamba inilah biang keroknya,” katanya sambil menatap iblis dengan begitu benci.

“Kenapa kau tuduh aku yang sebatas sendiri di dalam istana ini malaikat? Kemarin kau juga begitu! Ketika berjamu ke tempat para iblis, kau tuduh kerabat-kerabatku yang mendalangi atas permasalahan yang terjadi di Negara Indonesia itu. Sungguh atas tuduhanmu, aku sebagai wakil dari para iblis merasa sangat kecewa kepadamu sebagai kepercayaan Yang Mulia sang junjungan,” sautnya dengan tatapan mata yang mengilap-ngilapkan api.

“Siapa yang berani menyuruhmu untuk menegur para iblis?” sapanya pada malaikat.

“Tidak ada Yang Mulia.”

“Lalu kenapa kamu berani datang ke tempat mereka hanya untuk memberi teguran?”

“Karena manusia-manusia di Indonesia itu telah bersifat setan Yang Mulia. Hamba mengira ini semua ulah dari para iblis.”

“Aku yang telah menciptakanmu, menciptakan iblis, menciptakan anak-anakku yang manusia Tuhankan, dan aku yang menciptakan segala dunia berserta isinya: yang berwujud ataupun yang tidak berwujud. Lalu kenapa kau berani menegur iblis tanpa perintahku? Bukankah kalian sama-sama ciptaanku? Bukankah yang boleh menegur kalian hanya aku? Bukankah kelakuan kalian yang baik dan kelakuan kalian jahat adalah bagianku? Maka kamu tidak berhak menegur siapa pun tanpa perintahku. Meski seekor nyamuk sekalipun. Ingat itu!”

“Baik Yang Mulia. Hamba mohon maaf atas kelancangan ini.”

Malaikat menatap kearah iblis pasca usai mengajukan permohonan maaf kepada sang raja. Ia juga menganggukkan kepala sambil tersenyum kearahnya dan iblis juga membalasnya dengan senyuman. Setelah itu, raja meminta mereka untuk menebar undangan kepada anak-anaknya untuk datang ke acara pertemuan yang bertempat di istana. Mereka spontan berangkat menyebarkan undangan dengan membawa segenggam amplop hitam yang berisikan surat yang telah dibuat oleh raja. Sedangkan raja sendiri perlahan berbalik arah menuju kamar dan ranjangnya untuk beristirahat, sembari menunggu malaikat dan iblis datang membawa kabar atas surat yang telah disebarkan.

***

Setelah lima ratus tahun surat itu disebarkan. Maka datanglah anak-anak raja secara bersamaan hari—dengan waktu tiba yang berbeda-beda. Kendaraan-kendaraan mereka terparkir di depan gedung istana. Jamuan-jamuan makanan dan minuman telah tersiapkan di depan kursi duduk para tamu undangan. Dan sesekali raja menyapa mereka yang saling menunggu saudara-saudaranya dengan tutur sapa yang sangat lembut.

“Wahai Allah yang dituhankan oleh umat Islam. Bagaimana keadaanmu?” sapanya kepada anak yang pertama.

“Baik ayah. Kondisiku tetaplah sama seperti pertama kali Kau menciptakanku dari tubuh-Mu. Hanya saja pada abad ini, umatku sering menebarkan ketakutan dan ancaman yang menimbulkan peperangan.”

“Di mana umatmu  yang menebar ketakukan dan ancaman yang menyebabkan berkibarnya bendera perang itu?”

“Di atas bumi Indonesia ayah.”

“Apakah yang terjadi pada Palestina dan Israel itu tidak sedemikian?”

“Tidak ayah. Karena perang yang terjadi antara Palestina dan Israel bukan karena kekeliruan tafsir seperti yang terjadi di Indonesia. Tetapi kedua negara itu memang sengaja aku perangkan dari masa ke masa sampai ketika dunia ini berakhir. Yang kusebut sebagai Hari Kiamat.”

“Ya, silahkan duduk kembali.”

Raja berusaha menampung segala keluh kesah para anak-anaknya. Ia terus mencoba mendalami kesalahan para manusia yang berada di atas tanah Indonesia. Dengan segala laporan yang datang dan diterima.

“Wahai putra-putra kembarku Brahma, Sri Whisnu, dan Siwa, bagaimana kabar kalian?

“Baik ayah,” jawab mereka bertiga “Tapi para umat kami tidak dalam keadaan baik seperti kami,” tambahnya.

“Kenapa dengan umat kalian? Bukankah dari setiap diri kalian memiliki umat tersendiri dan dengan ajaran yang sama? Lalu apa permasalahannya? Seharusnya umat kalian menyadari atas perbedaan itu. Yang sengaja aku ciptakan demi keberagaman yang sangat indah.”

“Atas dasar perbedaan kami bertiga, yang dikenal sebagai Trimurti, kami tidak melihat terjadinya masalah yang cukup serius dari para pengikut Agama Hindu. Sebab mereka masih memiliki sikap toleransi yang tinggi sebagai sesatu agama.”

“Lantas apa permasalahan yang terjadi pada umat kalian?”

“Mereka terdiskriminasi di dalam negara yang bernama Indonesia. Mereka hanya dijadikan sebagai bagian yang tidak memiliki banyak peran di dalam negara itu. Mereka terkungkung dan tidak dapat bergerak bebas, sekalipun dari mereka ada yang pantas menjadi seorang pemimpin. Mereka hanya diizikan berkutat di dalam satu wilayah dengan kawan-kawan yang seagama,” tutur mereka kepada raja dengan tangan yang menadah memohon.

“Iya ayah. Negara itu tidak adil terhadap hak seluruh rakyatnya yang memiliki keberagaman agama. Para umat Hindu tidak diberi keadilan dalam memimpin suatu negara. Mereka dibatasi. Mereka hanya diizikan bergerak seperti halnya para kawanan harimau yang berkiprah dalam satu hutan. Sedangkan mereka adalah bagian dari beberapa hutan disepanjang hutan Indonesia—dalam rangkulan Nusantara,” ujar Sri Wisnu.

“Cukup laporan kalian. Aku sudah sangat paham. Silahkan duduk! Sembari menunggu Yesus, Budha, dan yang tanpa nama; saudara kalian, yang oleh pengikutnya disebut alam semesta.”

Di atas kursi yang empuk dengan tumpukan-tumpukan kapas, mereka semua saling melempar-lempar segala senyum dan segala tawa. Tidak terlihat perseteruan yang terjadi seperti para umatnya di dalam negara Indonesia. Hal ini sangat membuat raja senang, meskipun ketika hendak tersenyum lepas, ia menutupi raut mukanya yang ceria dengan sehelai kain sutra warna putih yang menjalar dari belakang singgasana. Barangkali ia berusaha menutupi kegembiraannya agar tidak diketahui oleh para anaknya yang sedang saling bertutur sapa di depannya. Lalu, dengan kain sutra yang digenggamnya, sesekali ia menyogokkan pandangan kearah kanan dan kiri. Rupanya, di luar istana bagian kanan segerombolan pelangi sedang menyuguhkan keindahannya untuk menyambut kedatangan para tamu undangan. Begitu juga di luar istana bagian kiri, lautan awan berdandan menyerupai samudra dengan pasang surut ombak yang berkibar menyala-nyala. Kemudian enam suara kaki datang serempak dari depan pintu.

“Mohon maaf ayah, aku datang terlambat. Karena juga harus mengajak ibu untuk kemari,” kata seorang pemuda yang sedang membopong ibunya.

“Aku juga minta maaf atas keterlambatan ini ayah.”

“Begitu pun denganku ayah.”

Mereka berenam menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatannya. Namun tidak dengan seorang ibu yang sedang dibopong pemuda itu. Sebab dirinya tertidur pulas.

“Iya tidak apa-apa. Silahkan duduk!”  kata raja merespon mereka. Lalu, sebuah ranjang kecil melayang dari belakang singgasana, menuju pemuda dengan ibunya. “Yesus, rebahkanlah Maria pada ranjang itu. Mungkin dia sangatlah lelah. Biarkan dia tidur di atas ranjang,” tuturnya.

Setelah pemuda itu merebahkan ibunya di atas ranjang yang tersedia. Ia kembali kearea lingkaran kursi yang telah ada di dalam gedung istana.

“Wahai anak-anakku bertiga yang baru datang. Bagaimanakah kabar kalian?” tanya raja pada mereka.

Yesus pertama kali menjawab pertanyaan itu “Keadaanku baik-baik saja ayah. Tapi umatku tidak.”

“Kenapa dengan umatmu?” tanyanya.

“Aku merasakan bahwa umat-umatku sedang menderita, sedang kecewa, dan tidak diberlakukan adil di atas negara bernama Indonesia. Mereka termarginalkan di sana, bahkan hampir dari mereka tidak diberi kebebasan, kecuali untuk makan dan minum. Suara-suara mereka terhukum, pergerakan-pergerakan mereka terkekang, dan diam pun diintai dengan curiga. Bahkan mereka sering dihina dan dikafir-kafirkan. Penafian kerap terjadi, pembantai datang ke tempat ibadah. Mayat-mayat tergeletak tua dan muda. Sedangkan diriku hanya bisa menatap dari atas langit dan tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya berbalut tangis.

“Cukup anakku. Jangan diteruskan cerita umatmu! Sebab kelak mereka yang akan menjadi badai di atas gurun pasir,” sambil memintanya duduk. Lalu ia menyapa kedua anak terakhirnya “Wahai kedua anak terakhirku. Bagaimanakah kabar kalian?”

“Baik ayah. Tetapi keadaan umatku di tanah Indonesia, kurang lebih sama seperti yang disampaikan Yesus. Sebab Agama Budda juga dimarginalkan oleh mayoritas penduduk di sana,” sautnya lirih.

“Bagaimana denganmu?” sambil menuding ke anak yang satunya.

“Aku langsung saja ayah. Sebab kondisiku sudah tentu baik karena sudah bisa mengahadiri undangan ini. Tapi jika mempertanyakan keadaan umatku di tanah Indonesia, tentu saja mereka tidak dalam keadaan yang baik. Apalagi umatku yang sebatas tamu lalat yang baru datang ke tanah di sana. Sudah pasti mereka akan mengalami pengucilan, sudah pasti mereka akan mengalami diskriminasi. Apalagi para burung-burung sering membisikkan ke depan telinga, bahwa tanah itu adalah tempat orang-orang fanatik—yang dihuni kera-kera dan tikus-tikus bersurban, serta anjing-anjing berseragam putih. Dan saya yakin bahwa suatu saat tanah itu akan menjadi lahan tadus dan lebur, jika para manusianya masih menjadikan agama sebagai advokasi politik. Sedangkan kitab suci dan ajaran di dalamnya mereka jadikan perisai untuk mendobrak yang kadang bersifat menumpas,” tuturnya dengan tegas.

Dengan segala tuturan-tuturan dan problematik yang disampaikan para anak-anaknya, raja mulai kebingungan dan memikirkan dengan sangat dalam tentang kekeliruan dan kerusakan moral yang terjadi di tanah yang bernama Indonesia. Namun dalam renungannya, sungguh ia membayangkan betapa terkutuk dan bobroknya negara itu.

“Siapa mereka sebenarnya? Dan ajaran agama apa yang telah ditelan sehingga  begitu berani memporak-porandakan kebencian-kebencian yang tidak membedulikan sesamanya?” tanya kepada seluruh yang ada di dalam istana.

“Mereka adalah yang mengaku sebagai umatku. Dengan segala ajaran-ajaran yang mentah dan keras, namun mereka telan dengan begitu nikmat. Sehingga membuat mereka menjadi penganut kemudayaan radikal. Gila dan selalu mendekatkan surga pada setiap apa yang diperbuat, sehingga melupakan garis tebal merah yang menunjukkan datangnya Islam yang penuh dengan kedamaian dan disebarluaskan oleh kekasihku Muhammad. Perbuatan mereka sungguh mencoreng nama baik Islam—bagaikan menabur debu di atas kertas yang putih,” ujar dari barisan kursi sebelah kiri.

“Benar ayah. Mereka telah menerapkan agama radikal. Lebih tepatnya adalah Islam yang dimanipulasi menjadi radikalisme; ulahan politik. Dari sanalah kemudian akar ketidakadilan dan kebencian merambat dan suatu saat akan tumbuh tertular pada bayi-bayi yang masih ada di dalam para kandungan,” suara dari barisan kanan melontar.

Mendengar penjelasan-penjelasan anak-anaknya. Akhirnya raja pun mengambil sebuah kertas yang lengkap dengan satu pena. Mulailah ia menulis dengan sangat serius dan sangat lama. Suasana dalam ruangan menjadi sangat sepi sunyi. Setelah sangatlah lama ia menulis, akhirnya tulisan itu selesai. Namun tidak ada yang tahu tulisan apa yang sedang ia tulis dengan sedemikian lama. Kemudian, ia diam sebentar dengan menundukkan kepalanya kearah lantai. Tangannya menyentuh lalu menggenggam sebuah tongkat yang selalu berada di samping kanannya. Tongkat itu dihentak-hentakkan ke lantai sebanyak tida kali. Tak disangka, rupanya tongkat itu adalah alat untuk memanggil malaikat. Yang dapat menghubungkan dengan jarak yang sangat jauh. Ketika hentakan tongkat itu berakhir, datanglah apa yang ia panggil; yang bernama malaikat.

“Yang Mulia, ada apa Kau memanggil hamba?”

“Bacakan ini dengan sangat lantang, bahkan selantang-lantangnya,” pintanya sambil menyuguhkan sebuah kertas.

“Baik Yang Mulia, akan hamba bacakan.”

Malaikat pun mulai membacakan tulisan itu.

“Wahai Allah anakku, sungguh aku maha tahu. Bahwa umat-umatmu dan pembela-pembelamu yang sesungguhnya menjadi perusak ketentraman di atas tanah subur itu. Maka berikan mereka ganjaran yang setimpal dengan kelakuannya yang selalu melangkah di luar etika. Maka berikan teror-teror yang pantas pada mereka yang mengangung-agungkan Muhammad bagai dewa; kekasihmu. Aku sungguh murka dan kecewa dengan umat Islam yang lahir dari rahim para kedamaian. Mereka menjadi penindas saudara, mereka menzolimi kerabat-kerabatnya, dan mereka tega menyakiti ibu-ibu yang sedang bersilah menyusui para anak-anaknya. Dahulu kala, aku sangat mengagungkan ketakwaan dan kesuciannya dengan setangkai hati para manusia-manusianya yang sangat mulia dan bijaksana. Tapi sekarang aku dibuat kecewa dengan perilaku mereka yang memamahkan aroma bangkai politik pada setiap kawanan muslim yang polos, sehingga membuat mereka juga terhanyut dalam lembah kebusukan. Seragam-seragam putih dan surban-surban yang melilit di atas kepala, mereka jadikan lambang kesucian dengan mengatasnamakan para habaib dan keturunan Muhammad.”

Sungguh menggelegar dan meraung-raung suara malaikat ketika membacakannya. Sampai-sampai membangunkan Maria yang sedang tertidur.

“Apakah kalian sudah mendengar anak-anakku?”

“Sudah, kami mendengarnya,” saut mereka.

“Jika begitu, maka ketahuilah bahwa mereka atau manusia-manusia yang berada di tanah subur Indonesia yang begitu fanatik dengan berharap timpalan surga adalah yang terperangkap dalam kebisuan hati yang sesungguhnya meronta ingin bicara.”

“Selesai,” kata Mbah Nayan yang diminta bercerita oleh Rengganis cucunya. []

Bali, Januari 2019

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *