CerpenInspirasi

Cerpen Nessa Dinata: Sepasang Merpati yang Tersesat

biem.co — “Kai, apakah kita sekarang seimbang? Memiliki julukan dengan arti yang sama?” Lisa menyandarkan kepala pada bahu Kai yang besar dan keras. Bahu Kai, akhir-akhir ini menjadi tempat paling nyaman bagi Lisa untuk merebahkan kepala.

“Ya, orang-orang mulai bergosip tetang hubungan kita,” Kai menghisap rokoknya. Asap rokok mengepul di depan wajah mereka, Lisa sedikit sesak, tapi ia enggan mengomel. Kai bagi Lisa saat ini adalah surga. Tak peduli bahwa ia tak pernah suka asap rokok. Dan Lisa berpura-pura lupa, yang paling dia benci dari suaminya adalah rokok. Asap rokok suaminya membuat migrain Lisa selalu kambuh setiap hari.  Belum lagi puntung rokok yang mengambang di toilet atau berceceran di lantai kamar mandi. Argh, ingin sekali Lisa mengambil puntung-puntung rokok itu lalu menjejalkannya pada mulut suaminya itu. Tapi, asap rokok Kai berbeda, asap rokok Kai sangat menenangkan dan candu. Lisa semakin merapatkan tubuh kecilnya yang dibalut jaket tebal ke samping Kai. Lelaki bertubuh tinggi besar dan bertatto sepasang merpati itu memeluk Lisa dengan melingkarkan tangan kanannya. Pernah Lisa bertanya pada Kai soal tatto merpati yang terpatri di bahu kanannya. Kai menceritakan bahwa tatto itu adalah bukti bahwa ia sangat mencintai sang istri. Dua merpati yang akan hidup selamanya dalam kandang yang sama.

Cuaca di Kota Pandeglang akhir-akhir ini sangat dingin. Malam hari bisa mencapai 200 celcius. Namun bukan karena malam hari, udara terasa menusuk-nusuk persendian tulang, tapi karena mereka sedang berlari dari penat kota Jakarta dan singgah di sebuah tempat, tepat di kaki Gunung Karang. Kampung Domba, orang-orang ramai membicarakan tempat itu. Foto-foto dengan berbagi pose dan background panorama alam Kota Pandeglang dari atas ketinggian berseliweran di sosmed. Tagar #explorepandeglang menjadi petunjuk bagi Lisa untuk mengajak Kai berkunjung. Siapa pula yang peduli jika mereka bukanlah sepasang suami istri. Selain keduanya sudah terlihat berumur, siapapun akan menyangka mereka adalah sepasang suami istri yang sedang berlibur. Menikmati sejuknya udara Kampung Domba, mendengar suara-suara sapi dan domba mengembik, melempar pandangan luas ke jauh sambil menikmati segelas susu domba dicampur dengan rasa strawberry dan cemilan cilok pedas.

“Kai, katanya orang yang baik akan berpasangan dengan yang baik lagi, begitu sebaliknya. Lalu kita baik atau tidak?” ucap Lisa, pikirannya jauh menerawang ke suatu tempat. Jauh melewati labirin-labirin tak berujung, berkelok-kelok dan penuh rintangan. Pikirannya sibuk bolak-balik antara masa lalu dan saat ini.

“Aku pikir karena istriku terlalu baik, pantas mendapatkan lelaki baik yang tak sebrengsek aku,” jawab Kai sambil menghirup rokoknya lagi. Rokok kelima batang, sejak mereka sampai di Kampung Domba dan saling merenung.

“Jadi kalau kamu brengsek, bagaimana dengan aku?” Lisa mulai menghadirkan bayangan wajah milik suaminya. Wajah itu selalu tersenyum, tak pernah marah dan konyol. Lelaki macam apa sih dia? Tak ada romantisnya sama sekali, gumam Lisa kesal dalam hati.

“Ya terserah bagaimana kamu memposisikan suamimu kayak gimana? Kalau kamu pikir suamimu baik, berarti kamu… ah sudahlah untuk apa kita mencari pembenaran atas diri kita. Semua orang juga tahu kalau kita ini sedang tersesat. Kita sama-sama lelah dengan rumah tangga  dan masalah-masalah didalamnya, mungkin karena kita sedang berada diposisi yang sama, Tuhan mempertemukan dan menghadirkan rasa itu yang dulu sekali pernah kita rasakan. Dulu, sejak aku jatuh cinta pada istriku dan kamu jatuh cinta pada suamimu.”

Kai melepaskan rengkuhan tubuh Lisa. Perlahan Lisa membuat jarak. Lalu perempuan itu memeluk lututnya. Mereka berdua masih duduk di bawah pohon cengkeh dengan rumput-rumput liar yang hidup sebagaimana mestinya. Tak perlu dirawat.

“Aku rasa kita tak perlu bawa-bawa Tuhan, jelas sekali Tuhan benci dengan ketersesatan kita,” ucap Lisa lirih. Kemudian ia mengambil segelas susu domba dan meminumnya, terasa segar sekali ketika susu itu mengalir ketenggorokannya. Rasa strawberry memberi rasa asam manis dan susu tidak berbau. Disusul sesendok cilok berbumbu kacang pedas.

Kai memperhatikan Lisa makan. Perempuan cantik dengan rambut pendek sebahu itu dikenalnya setahun lalu. Mereka bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Lisa adalah seorang reporter berita di tv swasta di Jakarta, sedang Kai adalah seorang Kameramen. Suatu hari, Kai melihat Lisa menangis di lorong kantor. Rambutnya sedikit berantakan, dan paras cantiknya nampak pucat. Malam itu waktu sudah sangat larut. Jam di pergelangan tangan Kai menunjuk di angka dua belas. Tengah malam sangat tidak baik untuk perempuan berkeliaran di luar rumah. Jakarta sangat berbahaya. Kai menghampiri Lisa dan berniat mengantarkan pulang. Tapi Lisa enggan pulang, Ia menangis pada Kai. Ia menceritakan bagaimana hubungan rumah tangganya sudah tidak harmonis. Ferdi suami Lisa jarang ada di rumah. Sekalinya pulang, Ferdi dan Lisa selalu terlibat pertengkaran. Tapi lisa selalu menceritakan bahwa Ferdi tidak pernah menanggapi amarahnya, lelaki itu selalu tersenyum dan meminta maaf.

Lisa sangat kesal pada Ferdi. Lelaki itu walaupun tidak pernah marah, tapi tidak pernah peduli dan perhatian. Lisa akan menangis seharian di kamar, dan Ferdi hanya diam saja. Padahal mereka sudah saling kenal selama tiga puluh tahun, tapi Ferdi tak pernah satu kalipun mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka menikah muda. Tujuh tahun pacaran sejak di bangku SMP hingga kuliah semester satu dan menikah di usia dua puluh tahun.  Kadang Kai merasa tersentil hatinya ketika mendengar cerita Lisa, lelaki memang kadang seperti itu. Ya, seperti dirinya terhadap istrinya. Tapi pada Lisa, Ia sangat ingin memberinya banyak perhatian. Malam itu mereka menghabiskan sisa malam di sebuah hotel. Berdua, bercerita, berbagi kisah dan tertidur lelap.

“Kapan kamu menceraikan istrimu?” Tanya Lisa tiba-tiba saja membuat pikiran Kai akan masa lalu buyar.

“Cerai? Entahlah… kadang aku terlalu takut memikirkan hal buruk itu. Aku punya tiga anak, dan mereka butuh aku. Lagian istriku itu bukan perempuan yang neko-neko, ia sangat menjaga harga dirinya. Istriku menghabiskan hari-harinya mengurus rumah. Ia memang tidak cantik, parasnya biasa saja tapi istriku perempuan yang luar biasa. Aku tak bisa bayangkan jika tak ada istriku di rumah. Bisa apa aku? Hemmm…” Kai tiba-tiba rindu kehangatan yang diberikan oleh istrinya.

Lisa merasa tertohok dengan kata-kata Kai. Ada sedikit kecemburuan yang menyelinap.  “Lalu mengapa kamu bilang kita ada dalam posisi yang sama, kalau kamu tidak ada masalah dengan istrimu? Terus orang-orang akan bilang aku sebagai pelakor, sungguh tidak adil!  kamu juga seorang pebinor seharusnya.”

Wajah Lisa mulai merah, ia meredam amarah dan perasaan aneh lainnya dalam dada.

“Tapi aku bosan sayang, aku bosan dengan rutinitas yang selalu sama setiap harinya datar-datar saja. Semakin hari aku merasa rasa cintaku terkikis. Ini salah aku, salah aku yang brengsek. Aku yang tidak bisa menjaga hatiku untuk tidak jatuh cinta lagi. Aku yang tidak bisa menahan diri… aku yang jatuh cinta melihat kamu menangis di lorong kantor malam itu. Dan kamu yang datang membawa banyak kebahagian dan hari kembali membaik. Terasa lebih berwarna dan hidup. Tapi kita tahu, itu…” Kai menggantungkan kalimatnya.

“Semu…”

“Ya semu,” timpal Kai.

“Sungguh aneh, kita sama-sama sadar dengan ketersesatan ini, tapi kita enggan pulang pada rumah dan berontak ingin lepas kandang. Walaupun kita sama-sama tahu itu hal sulit dan mustahil.” Dengan suara lirih dan pelan Lisa seperti berbicara pada diri sendiri.

Hari sudah beranjak sore. Matahari sebentar lagi menghilang dari balik Gunung Karang. Awan tersapu warna hitam campur jingga. Udara semakin dingin, dan kabut datang menyelimuti kota Pandeglang. Satu persatu lampu berpijar. Adzan terdengar berkumandang di seluruh penjuru kota Pandeglang. Lisa memejamkan mata, dan dalam hati meminta ampunan pada Ilahi. Sungguh ia ingin sadar bawah ia sedang tersesat. (red)


Nessa Dinata, Karyawati Telkom Akses yang selalu bermimpi bisa jadi seorang penulis. Saat ini bagi penulis, menulis adalah cara membebaskan diri dari rutinitas. Penulis dapat dihubungi di media sosial instagramnya @Ness_dinata.

Editor : Happy Muslimah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button