Puisi

Sajak-sajak Hanif Farhan

Saya dan Anda

Saya juga Anda, kini, sudah dewasa.
Tahun ke tahun dan musim ke musim
dari kesibukan ke kesibukan yang lain,
telah lama kita lalui sebagai orang asing
yang tidak sama sekali bersinggungan.
Mungkin saya sudah lama pula tidak ada
di dalam pikiran Anda
meski hanya untuk seperkian detik.
Begitu pun dengan bayang wajah Anda,
semakin waktu semakin tidak jelas
di dalam kepala juga dada saya.

Saya pikir, ini keadaan yang cukup
menyenangkan untuk sebuah hidup.
Jiwa saya tidak lagi porak-poranda
sebagaimana dahulu.
Tidak ada lagi subuh-subuh tidak puguh
yang saya gunakan hanya untuk
memikirkan, membayangkan dan
meraba apa saja tentang Anda
sebagai sesuatu yang selalu berhasil
menimbulkan kepedihan yang aneh.
suara Anda. Bentuk jari. Warna bibir.
Kedua alis Anda yang serupa
lengkung celurit itu. Semuanya
tidak semendebarkan waktu sekolah.
Itulah mengapa saya doyan ketawa
sendiri, bila mengingatnya.

Saya memang pernah berlebihan
menghayati setiap getaran di dalam jiwa saya.
Itu, sering membuat saya lupa diri.
Saya sering melakukan begitu banyak hal
yang semestinya tidak saya lakukan.
Misal, menulis puisi cinta
yang tidak lebih baik dari kentut
di WC umum yang padat dan kumuh.
Begitu juga ketika saya menanyakan
nomor telepon Anda melalui pesan di Instagram
setelah sekian lama saya terbebas
dari kehendak mendengar suara Anda.

Mestinya saya menelepon Anda
dengan nomor telepon saya
dan kita berbicara, setidaknya,
seperti kenalan lama yang cukup akrab
tapi saya malah menelepon Anda
dengan nomor yang disembunyikan.
Ini gara-gara Anda pura-pura amnesia!
Setelah cinta Anda kepada saya habis
—seperti token listrik
yang cerewet dan mahal itu—
dan hati Anda berpindah tempat
Anda seolah-olah ingin mengatakan
bahwa Anda tidak pernah mengenal saya.
Tidak satu detik pun!
O, bagaimana Anda dapat melakukan itu
kepada orang yang namanya
pernah Anda sebut dengan sangat mesra?

Cinta memang tidak perlu dipaksa-paksa,
tapi Anda yang pura-pura
tidak pernah mencintai saya
membuat otak saya mual. Ini kelewat batas!
Saya marah dan ingin memberi Anda pelajaran.
Tetapi itu dahulu, ketika dada saya
masih menyimpan nama Anda
dengan sedikit hiasan semacam renda-renda
dan beberapa jenis bunga
seperti pada umumnya remaja
yang memilih rela menjadi budak cinta.
Ha ha. Seperti para lelaki
yang dipacari para perempuan
sebagai ojek gratis semasa Sekolah Menengah.
Sekarang, semua biasa saja.

Saya menjalani hari-hari dengan ringan.
Tidak gusar. Tidak ada lagi perasaan menggebu.
Sesekali memang ada saja geletar
ketika saya kerap dipertemukan
dengan Anda di sebuah halte dekat gedung
kampus Anda, pada sebuah garis batas
yang memisahkan kota saya dan kota Anda.
Tetapi itu, bagi saya, hanya efek kecil
dari masa lalu. Selebihnya tidak ada apa-apa.
Kenangan waktu tubuh saya juga
tubuh Anda menggigil di sebuah gubuk
ketika hujan deras turun tiba-tiba
atau pada waktu jelang fajar di mana saya dan Anda
sama-sama menatap kawah Pulosari
berlepasan ke langit seperti berlepasannya
harapan sepasang kekasih
sebelum hamparan Mandalawangi
yang diliputi kabut perlahan tampak jelas
hanya kenangan. Semacam siluet
pada perasaan yang, bagaimana pun
tidak sungguh-sungguh telah selesai.

Karena Anda menyelesaikannya
dengan cara yang semena-mena.

Saya memang pernah menjadikan Anda
satu-satunya pendosa dari setiap detik kepedihan
yang harus saya tanggung.
Tetapi saya telah mengerti, jatuh cinta lalu bosan
dan jatuh cinta lagi kepada lain wajah,
lain tubuh, dan lain hati
bukan dosa yang dapat dituntut atau digugat.
Anda berhak atas kemerdekaan Anda
mencintai atau meninggalkan siapa saja
jika gairah Anda telah hilang.
Dan saya telah lebih dari sekadar merelakan
semua yang saya cinta
terlepas begitu saja tanpa dapat ditawar.

Tentu saya tidak dapat memastikan
apakah benar perasaan saya kepada Anda
akan tetap seperti ini
atau kelak ketika kesepian hidup memuncak
dan kepedihan kembali bergejolak
saya akan kembali mencari Anda
untuk merebut sesuatu yang telah Anda curi
atau untuk sekadar mencaci maki Anda.
Tidak ada yang tahu,
karena perasaan manusia bukan besi.
Mungkin juga kelak
—ketika saya dan Anda telah menjadi tua
dirongrong encok dan maut—
saya dan Anda akan dipertemukan kembali
pada satu tempat yang pernah
atau tidak pernah saya dan Anda kunjungi.

Saya dan Anda akan saling bertanya kabar
atau mungkin akan saling bertanya:
“Anda siapa? Boleh saya tahu nama Anda?”

Cilegon, 23 April, 2019

 

Lalu, An

ingatan adalah pecahan kaca
di bawah nyala matahari
sementara cinta adalah dzarrah
pada bentuk yang lain.
Setiap yang utuh adalah yang selalu
gagal diurai oleh kata-kata,
tetapi gejolak pada dada
mendesakku untuk terus menulis
puisi yang setiap kalimat pertamanya
dimulai dari namamu.

Rumah Sastra Asean, Januari, 2019

 

Seperti Kisah Orang-Orang yang Gagal

Cinta tak terikat pada sentuhan
atau pertemuan sepasang tubuh, kekasih.
Cinta bukan yang selama ini kita yakini
atau sebagaimana yang orang bicarakan.
Jadi, baiknya kita tidak perlu ikut-ikutan
mengurai cinta dengan kata
atau dengan sekian kubik umpama
yang bertumpahan itu.

Para filsuf dan buku-buku sejarah
telah mencatat ribuan kisah cinta,
dan itu hanya menjadi sebuah bayangan
pada cermin yang agak cembung.
Itulah juga yang kemudian diimani
oleh para pecinta yang membutuhkan kias
untuk sekadar meyakini bahwa
cinta sungguh-sungguh ada, wujud,
dan bukan sekadar ilusi makhluk bumi.

Seperti kisah orang-orang yang gagal
memahat Tuhan pada batu-batu,
cinta pada kias-kias menjadi profan
jauh dari kesyakralan.
Oleh karena itu, kita akui saja bahwa kita
tak pernah berhasil mewujudkan cinta
selain dalam wujud cinta itu sendiri
yang wujudnya tak pernah kita ketahui,
sekalipun kita selalu berkata:
“Ada cinta di sini!”

Cinta hadir pada setiap manusia
dan kita hanya punya keyakinan itu.
Selebihnya, kita biarkan saja
pengertian-pengertian cinta terus lahir
dari omongan ke omongan,
menjadi buku-buku.
Karena barangkali memang begitu
ejawantah gairah para pecinta
untuk mewujudkan cinta di luar
wujud cinta itu sendiri,
sekalipun semua akan kembali seperti kisah
orang-orang yang gagal…

Rumah Sastra ASEAN, Sya’ban, 1440


Hanif Farhan, kelahiran 25 mei 1999, lulusan Otomasi Industri, sekarang belajar di pesantren Al-Hidayah, Palas, Cilegon. Ia tercatat sebagai mahasiswa filsafat di UIN SMH Banten dan merupakan anggota Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra ASEAN). Ia menggeluti sastra sejak masih duduk di bangku SMK. Sampai saat ini ia menulis novel dan puisi. Bukunya yang sudah terbit, (Berkelana Di Sepasang Matamu, ZA Publisher, 2018).

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar