InspirasiPuisi

Sajak-sajak Firda Rastia

Oleh Firda Rastia

SAJAK DUA REMBULAN
: Aomame & Tenggo

Di dunia dengan dua rembulan di langit
orang-orang kecil mengernyit
sambil merajut malam demi malam dalam diam
sesekali tangan mereka meraih benang-benang
yang mengambang di udara

Tapi malam tidak selamanya diam, sebab
sepasang rembulan yang bertengger di langit
selalu ucap “selamat malam”
kepada sepasang maza dan dohta
yang dirajut di udara di antara dua dunia
yang bertukar tempat melewati 240 purnama.

Sepasang maza dan dohta
menunggu di atas papan luncur–musim dingin saat itu

tanpa tahu dan tanpa perlu untuk tahu
tentang dua dunia yang bertukar tempat
sementara di langit
masih hidup dua rembulan yang saling berdampingan

Orang-orang kecil mengernyit
sambil tetap merajut malam demi malam dalam diam
“Ho-ho” sorak orang-orang kecil
dengan tangan yang mengambil benang di udara
dan bulan masih tetap sama
sepasang maza dan dohta masih di sana. 

Serang,
Juli 2015-April 2016

KATAMU TENTANG DEWA-DEWA
Firda Rastia

Katamu,
Dewa itu semacam lelucon yang memainkan peran
di atas panggung Noh
dan orangorang akan tertawa
lihat lelaki memoles bibir dan pipinya
dengan perona merah muda
sambil melenggak-longgok pinggulnya
serupa Geisha yang menari di hadapan Danna

Katamu dilain jumpa,
Dewa itu serupa orangorang yang berbaris di depan gedung
yang menyuarakan wadahwadah berisi receh setengah penuh
menunggu pertunjukkan usai
sambil mengelus perut yang keroncongan
menahan kerongkong dari kekeringan
maka terpaksa menegak ludah atau air kencing
yang sayang untuk dibuang

Tapi seratus atau seribu tahun kemudian
engkau berkata demikian:

Dewa itu ternyata bersembunyi dibalik kata “sarjana”
yang tegak memakai toga lalu berfoto dan tersenyum gembira
sesudah itu meng-uploadnya di media
besoknya, mereka lupa pada gelarnya
lupa pada pertunjukan yang dimainkannya
lupa pada perannya, lupa pada sumpahnya
lupa pada tempatnya
ahai! Sekarang aku tahu bahwa dewa itu ternyata pelupa

di panggung fantasi,
01 Maret 2016

 

UNTUK PENYAIR YANG BICARA CINTA

Jangan kautulis sajak tentang cinta
Sekecil apapun aku tak mengerti apaapa

Meski mencintai adalah sederhana
yang menjelma serupa aku dalam kata

seperti penyair itu pernah berkata:
mecintailah
seperti angin pada siut
air pada ricik
api pada jilat
gunung pada terjal
sampai menembus jarak
menuju cakrawala

tak kutemukan cinta yang kau jelmakan
begitu saja

jangan kau tulis lagi tentang cinta
sebab nanti jika sampai aku mencintaimu
aku tak lagi mencari apaapa

Serang, 08-22 April 2016

SAJAK DUA REMBULAN 2

O, demi malam yang telah melewati senja
hingga berputarnya menit pertama
takjuga kutemukan kau di mana-mana
kecuali di mimpiku saja

setelah habis masa purnama
baru kutahu kau hanya sekadar
cerita biasa
yang menarik alur dari mana
entah ke mana

maka demi dua rembulan yang takpernah ada
kucukupkan saja berpikir tentang maza dan dohta
yang merajut malam demi malam dengan paksa
sebab semua itu hanya sekadar cerita biasa saja

Serang, 08 April 2016


Penulis bernama lengkap Firda Rastia. Lahir di Temanggung, 12 Oktober 1993, menetap di Komplek Bumi Serang Timur, Serang-Banten. Bergiat di Komunitas Perubahan Budaya (Kubah Budaya). Penulis menggilai novel-novel Agatha Christie, dan sempat bermimpi untuk menjadi cucunya. Pembaca  puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Penulis dapat dihubungi melalui email: [email protected].


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *