BANTEN, biem.co – Banyak yang berpikir bahwa ketika kita membahas tentang oksigen, pikiran langsung tertuju pada hutan hujan tropis yang rimbun dan hijau. Hutan-hutan itu memang dijuluki “paru-paru dunia” karena perannya menghasilkan oksigen lewat proses fotosintesis.
Namun, sedikit yang tahu bahwa laut, lewat organisme mikroskopis bernama fitoplankton, justru menjadi penghasil oksigen terbesar di planet ini. Menurut data dari NOAA, Prochlorococcus, jenis fitoplankton tertentu, menyumbang lebih dari 20% oksigen di biosfer Bumi—lebih banyak daripada yang dihasilkan oleh seluruh hutan tropis.
Lautan dan mikroorganisme di dalamnya adalah sumber kehidupan. Tapi kini, mereka berada di bawah ancaman serius: mikroplastik.

Mikroplastik dan Laut Indonesia: Bahaya Nyata, Bukan Sekadar Isu Global
Istilah mikroplastik merujuk pada partikel plastik berukuran <5 mm. Di Indonesia, ancaman ini bukan teori semata. Berdasarkan riset LIPI (kini BRIN) tahun 2018, lebih dari 70% sampel air laut di pantai-pantai Indonesia, termasuk Teluk Jakarta dan Selat Makassar telah terkontaminasi mikroplastik. Bahkan, mikroplastik ditemukan dalam tubuh ikan konsumsi di pasar-pasar tradisional.
Tak hanya berasal dari limbah industri, sebagian besar mikroplastik datang dari sampah rumah tangga yang tidak terkelola, seperti deterjen berbutir, scrub wajah, dan potongan plastik dari kantong atau botol minuman.
Alga Laut dan Produksi Oksigen: Peran yang Sering Terlupakan

Alga, terutama fitoplankton, memiliki peran besar dalam ekosistem laut. Dengan bantuan sinar matahari, mereka menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Tapi kehadiran mikroplastik bisa menjadi penghalang sinar dan mengganggu proses fotosintesis ini.
Sebuah studi dari Universitas Hasanuddin (2021) menunjukkan bahwa paparan mikroplastik menurunkan laju pertumbuhan fitoplankton hingga 32% dalam simulasi laboratorium. Bila ini terjadi secara masif di perairan Indonesia, bukan hanya produktivitas laut yang turun, tapi juga kontribusinya terhadap ketersediaan oksigen dunia.
Mikroplastik dan Masyarakat Pesisir: Rantai Dampak yang Nyata
Di Indonesia, sekitar 65 juta orang tinggal di wilayah pesisir dan bergantung pada laut untuk pangan dan mata pencaharian. Sayangnya, pencemaran mikroplastik tidak hanya mengancam biota laut, tapi juga kesehatan manusia, karena plastik itu masuk ke dalam rantai makanan.
Penelitian dari Universitas Indonesia (2020) menemukan mikroplastik dalam 55% sampel kerang hijau dari Teluk Jakarta. Padahal, kerang hijau adalah sumber protein harian masyarakat pesisir.
Menjaga Laut: Tanggung Jawab Kolektif Kita
Mikroplastik mungkin kecil dan tak kasat mata, tapi dampaknya sangat besar. Laut bukan sekadar tempat wisata atau sumber ikan, tapi juga paru-paru yang menyuplai kehidupan. Menjaga laut berarti menjaga napas kita sendiri.
Gerakan kecil seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan ikut bersih-bersih pantai, adalah langkah nyata yang bisa dimulai dari rumah. Indonesia sebagai negara maritim punya tanggung jawab lebih untuk jadi garda terdepan dalam perlindungan laut.
Dengan ini, kita mungkin tak bisa langsung membersihkan seluruh lautan dari mikroplastik. Tapi kita bisa mulai dari satu tindakan kecil yang konsisten. Karena bumi butuh kita, sama seperti kita butuh oksigen yang diciptakan makhluk kecil bernama fitoplankton. (Red)






