BANTEN, biem.co – Waste is a form of material that no longer holds value or worth, as it refers to items that are no longer used or have been discarded by their owners. This leads to the accumulation of waste, which negatively impacts the surrounding environment, such as roads, rivers, drains, and other areas. Household waste, in particular, comes from daily human activities, making it a major contributor to pollution. Waste can cause various problems, including diseases and environmental degradation, which ultimately make our surroundings unsafe and uncomfortable. One of the key solutions to this issue is the implementation of the 3Rs (Reduce, Reuse, Recycle), alongside ongoing campaigns to discourage littering, especially in areas where surveys have shown a low level of environmental awareness. Even if someone maintains cleanliness in their home, their actions can still harm the natural environment around them. The methodology used in this discussion is based on various literature sources related to waste, such as: Household waste,Environmental pollution, Human activities A total of 12 articles were carefully reviewed—from abstracts to conclusions—to gather information about waste and to provide direction for this article. Improper waste disposal is, in fact, an irresponsible act. As social beings, we must work together to address this issue. The goal is to raise public awareness about the importance of maintaining cleanliness by managing waste for the sake of environmental preservation, and to instill the habit of proper waste disposal. As human beings who depend on the environment, we must do everything we can to foster a community that cares about cleanliness and sustainability. The outcome of this article is to contribute to reducing environmental pollution caused by household waste.
ABSTRAK
Sampah merupakan bentuk dari material yang tidak memiliki nilai ataupun harga, karena sampah merupakan benda yang telah tidak dipakai atau telah dibuang oleh pemiliknya. Dengan begitu terjadinya sebuah penumpukan sampah dan menyebabkan lingkungan disekitar kita seperti jalanan, sungai, selokan, dan lain sebagainya. Sampah juga dapat dikatakan sebagai limbah rumah tangga mengapa begitu karena sampah berasal dari kegiatan sehari-hari. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari limbah sampah baik itu penyakit bahkan kerusakan lingkungan menjadi tidak aman dan nyaman. 3R menjadi salah satu solusi, selain itu kampanye untuk tidak membuang sampah sembarangan harus terus dilakukan, terutama di daerah yang sudah disurvei tingkat kepeduliannya terhadap lingkungan sekitarnya kurang. Benar jika lingkungan rumahnya bersih akan tetapi, lingkungan alam sekitarnya menjadi rusak dikarenakan tindakan itu. Metode yang digunakan dalam hal ini juga dihasilkan dari berbagai literatur- literatur tentang sampah seperti halnya 1).Sampah rumah tangga, 2).Pencemaran lingkungan, 3)Aktivitas manusia. Dari 12 artikel yang sudah di baca dengan baik serta teliti dari abstraknya sampai dengan simpulan, agar informasi mengenai sampah dapat kita ketahui dan kita cermati mampu memberikan arahan untuk artikel ini. Hal seperti ini merupakan tindakan yang tidak terpuji sebenarnya, maka demikian kita sebagai manusia, makhluk sosial sudah seharusnya untuk bergotong royong. Dalam hal tersebut bertujuan untuk kesadaran masyarakat akan hidup bersih perlu ditingkatkan dengan mengelola sampah untuk kepentingan pelestarian lingkungan, membiasakan membuang sampah.
Pendahuluan
Masalah sampah merupakan isu yang terus muncul dalam kehidupan masyarakat, karena keberadaannya sering dikaitkan dengan gangguan terhadap kenyamanan, kesehatan, keindahan, estetika, serta kebersihan lingkungan. Menurut Bintaro, timbunan sampah dapat merusak nilai estetika dan kenyamanan lingkungan masyarakat. Ia menganggap sampah sebagai bentuk pencemaran dan degradasi lingkungan yang memiliki dimensi sosial. Salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan serta rendahnya kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah. Sampah sendiri merupakan hasil buangan dari aktivitas manusia yang sudah tidak digunakan lagi, seperti sisa makanan, plastik, atau kemasan minuman. Sampah termasuk limbah padat yang sebagian besar mengandung zat organik, yang apabila tidak dikelola dengan benar dapat membahayakan lingkungan dan menghambat keberlangsungan pembangunan. Namun, masalah utama bukan pada jenis sampah itu sendiri, melainkan pada perilaku masyarakat yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Jadi, yang menjadi persoalan bukanlah sampahnya, melainkan cara kita memperlakukan sampah tersebut, yang pada akhirnya mencemari lingkungan dan menimbulkan berbagai penyakit.
Peningkatan jumlah penduduk, baik di kota maupun di desa, serta urbanisasi yang pesat, menyebabkan jumlah penduduk yang semakin banyak. Hal ini turut memicu peningkatan sampah, terutama limbah rumah tangga. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan disebabkan oleh ketidaktahuan mereka mengenai dampak sampah. Banyak orang yang dengan mudah menghasilkan sampah dan membiarkannya dibuang sembarangan, padahal hal tersebut berpotensi membahayakan lingkungan sekitar. Aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian, dan piring, meskipun dianggap sepele, sebenarnya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang tidak menyadari dampak negatifnya terhadap lingkungan, terutama lingkungan laut. Dari sekian banyak aktivitas pembuangan limbah manusia, sampah rumah tangga merupakan salah satu yang paling berbahaya. Limbah yang dihasilkan dari sampah rumah tangga memiliki dampak negatif yang signifikan, sehingga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal ini berbeda dengan limbah industri, yang berasal dari hasil pembuangan industri, seperti limbah yang dihasilkan oleh sektor tekstil.
Kurangnya partisipasi dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga menyebabkan masalah sampah semakin parah. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita sebagai masyarakat untuk lebih peduli dalam mengelola sampah, seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan dan selalu membuangnya pada tempatnya agar kita bisa menikmati lingkungan yang lebih nyaman. Pemerintah juga perlu lebih menegakkan peraturan yang ketat mengenai pembuangan sampah sembarangan dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. (Fatmawati, K. et al., 2020).
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Hatta, pada tahun 2010, “kerusakan lingkungan masih menyebabkan kerugian besar bagi kehidupan masyarakat, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga hingga merenggut nyawa manusia.” Pengelolaan sumber daya alam yang tidak memperhatikan kelestarian menunjukkan bahwa rasa cinta terhadap lingkungan mulai terabaikan (Suharwati, S. I., & Rahman, A. M., 2018). Tujuan dari hal ini adalah untuk memahami asal mula pencemaran limbah sampah serta mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan oleh limbah tersebut.
Pembahasan
Sampah menjadi ancaman besar bagi manusia karena pembuangannya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Hingga saat ini, masih banyak orang yang enggan membuang sampah karena merasa kesulitan membuka tutup tempat sampah yang kotor dan berbau. (Fatmawati, K., 2020). Selain itu, sampah juga dapat merusak keindahan pemandangan di sekitar kita.
Limbah merujuk pada sisa-sisa yang dihasilkan dari proses produksi, baik itu dari industri maupun domestik, yang keberadaannya di tempat dan waktu tertentu dianggap sebagai limbah yang tidak diinginkan oleh lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomi. Danusaputro (1985) menjelaskan bahwa lingkungan hidup adalah keadaan segala sasaran dan kekuatan yang ada dalam ruang tempat manusia berada, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka. Menurut Soemarwoto (2001), lingkungan hidup adalah ruang yang dihuni oleh makhluk hidup dan tidak hidup, seperti tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroorganisme. Berdasarkan definisi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa lingkungan adalah ruang tunggal yang dihuni oleh makhluk hidup dan mati. (Kristyowati, R., & Purwanto, A. 2019).
Kebiasaan membuang sampah dapat ditemukan di hampir semua lapisan masyarakat, baik itu di kalangan masyarakat miskin maupun mereka yang berpendidikan tinggi. Hal ini sangat disayangkan karena kurangnya pemahaman tentang sampah dan dampaknya. Perilaku negatif ini semakin meluas akibat terbatasnya fasilitas sanitasi yang mudah diakses oleh masyarakat. Limbah, dalam konteks lingkungan hidup, bisa dipandang sebagai sisa-sisa dari berbagai kegiatan, seperti halnya limbah rumah tangga yang dihasilkan oleh aktivitas masyarakat di rumah. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 menyatakan bahwa sampah rumah tangga disebabkan oleh kegiatan sehari-hari yang terjadi dalam rumah tangga.
Sampah rumah tangga memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan sekitar, salah satunya adalah terhadap kualitas air. Pencemaran air akibat sampah rumah tangga membuat air tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan rumah tangga. Air yang tercemar tidak dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat menimbulkan berbagai masalah sosial yang meluas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dibersihkan. Selain itu, air yang tercemar juga tidak dapat digunakan untuk keperluan industri maupun pertanian.
Lingkungan hidup merupakan sumber penting bagi manusia karena dapat memastikan kelangsungan hidup serta mendukung kelestarian manusia dan organisme lain di bumi. Namun, berbagai masalah pencemaran lingkungan, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, termasuk salah satunya adalah masalah sampah.
Membiasakan perilaku baik memang tidak mudah dan memerlukan berbagai upaya untuk mencapai tujuan hidup sehat di lingkungan yang bersih. Tentu saja, ada beberapa langkah yang bisa kita ambil. Kami mendukung kebiasaan baik yang harus diperkenalkan dan diterapkan kembali. Kami sering membantu orang untuk kembali bersemangat dan mengubah limbah menjadi produk yang bermanfaat. Promosi kesadaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengadakan lomba kebersihan lingkungan, pameran, pemutaran film edukatif tentang lingkungan, serta kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Menurut Gelbert dkk (1996), dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, limbah yang dibuang sembarangan dapat menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai organisme, seperti tikus, yang dapat menularkan penyakit seperti diare, kolera, tifus, demam berdarah, dan infeksi jamur kulit. Kedua, limbah yang dibuang sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah. Sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau ke sungai dapat mencemari air, yang berdampak buruk pada kehidupan organisme air, serta dapat menyebabkan banjir saat musim hujan. Limbah, khususnya yang bersifat anorganik, juga dapat merusak kesuburan tanah. Selain itu, penumpukan limbah dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca seperti metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), yang berpotensi merusak atmosfer Bumi. Ketiga, sampah dapat merusak nilai estetika dan kenyamanan lingkungan. Adanya sampah dan bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kualitas hidup di sekitar area tersebut, serta menyebabkan biaya tambahan yang tidak terduga, seperti biaya medis akibat penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus dari sampah. (Hidayat, E., & Faizal, L. 2020).
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sampah bukan lagi sekadar benda yang tidak berguna. Menurut para ahli, masalah sampah terkait erat dengan budaya dan sosial masyarakat Indonesia. Sampah dapat menimbulkan berbagai masalah, tidak hanya terhadap tanah, tetapi juga terhadap udara dan air. Dampak negatif limbah terhadap lingkungan, seperti cairan yang meresap ke dalam tanah, dapat mencemari air tanah. Selain itu, limbah yang dibuang ke air dapat membunuh spesies yang hidup di dalamnya dan menyebabkan kepunahan. Sampah yang terurai menghasilkan gas-gas berbahaya seperti asam organik dan metana, yang memiliki bau tidak sedap dan berpotensi meledak pada konsentrasi tinggi. (Husada, S. SM, 7). Sampah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dan peningkatan jumlah sampah yang dibuang sembarangan menimbulkan masalah serius bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Sampah juga menjadi ancaman bagi sektor pariwisata, terutama di Bali. Oleh karena itu, untuk menciptakan lingkungan yang bersih, indah, dan sehat, serta memastikan pariwisata yang berkelanjutan, diperlukan peran aktif dan kesadaran dari semua pihak—baik pemerintah, swasta, masyarakat, maupun wisatawan—untuk bersama-sama memerangi masalah sampah. (Sutrisnawati & Purwahita 2018).
Dampak sampah, baik dari segi penyakit maupun kerusakan lingkungan, dapat menciptakan kondisi yang tidak aman dan nyaman. Salah satu solusi untuk mengatasi hal ini adalah penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), namun hal ini memerlukan kampanye yang berkelanjutan, terutama di daerah dengan kesadaran lingkungan yang rendah. Meskipun begitu, jika lingkungan rumah kita bersih, tindakan kita dapat berkontribusi pada pelestarian alam di sekitar kita. Sebagai makhluk sosial, kita seharusnya bekerja sama dalam upaya ini karena ini adalah tindakan yang baik. Melihat dari kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup bersih, pengelolaan sampah yang tepat sangat diperlukan untuk pelestarian lingkungan dan membiasakan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Kita harus selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk menciptakan masyarakat yang bersih dan ramah lingkungan. (Red)
Daftar Pustaka
Fatmawati, K., Sabna, E., & Irawan, Y. (2020). Rancang Bangun Tempat Sampah Pintar Menggunakan Sensor Jarak Berbasis Mikrokontroler Arduino. Riau Journal Of Computer Science, 6(2), 124-134.
Hidayat, E., & Faizal, L. (2020). STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGELOLAAN SAMPAH DI ERA OTONOMI DAERAH. ASAS, 12(2), 68-79.
Husada, S. S. M. Pengaruh Perilaku Masyarakat Membuang Sampah di Sungai.
Mutiani, M. (2017). IPS dan pendidikan lingkungan: urgensi pengembangan sikap kesadaran lingkungan peserta didik. SOSIO-DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 4(1), 45-53.
Rusmaniah, R. PEMBINAAN MORAL REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PSBR BUDI SATRIA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. Jurnal Socius, 6(02).
Subiyakto, B., & Mutiani, M. (2019). Internalisasi nilai pendidikan melalui aktivitas masyarakat sebagai sumber belajar ilmu pengetahuan sosial. Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, 17(1), 137-166.
Subiyakto, B., Syaharuddin, S., & Rahman, G. (2017). Nilai-Nilai Gotong Royong Pada Tradisi Bahaul Dalam Masyarakat Banjar Di Desa Andhika Sebagai Sumber Pembelajaran IPS. Vidya Karya, 31(2).
Suharwati, S. I., & Rahman, A. M. (2018). Menumbuhkan Karakter Cinta Lingkungan dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Melalui Outdoor Study. Sutrisnawati, N. K., & Purwahita, A. R. M. (2018). Fenomena sampah dan pariwisata Bali. Jurnal Ilmiah Hospitality Management, 9(1), 49-56.






