biem.co – Tidak lama lagi kehadiran datangnya bulan yang Istimewa, yaitu bulan kelahiran sang Nabi Agung Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yaitu bulan Rob’ul Awwal (Musim semi pertama), dikatakan juga Robi’ul Anwar (Musim semi yang bersinar).
Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad saw kita persiapkan dari sebelum datangnya bulan kelahiran untuk memantik gerakan perubahan peradaban kemanusiaan kita hari ini yang telah kehilangan “ruh” moral akibat kuatnya pengaruh materialisme, hedonisme, konsumerisme dan sejenisnya yang menjadikan hilangnya potensi kemanusiaan dan tidak berdaya untuk tunduk pada hati nurani.
Sosok Nabi kita yang Agung Nabi besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang dipuji dan di tunggu dari sebelum kehadiranya di alam dunia, ketika masa hidupnya, begitu juga setelah wafanya, Nabi kita yang agung masih dipuji ditunggu karena sosoknya dan karenya syafa’atnya, tidak hanya diberikan kepada umatnya saja, umat Nabi – Nabi sebelumnya pun bias mendapatknya syafaat darinya.
Oleh karena ia, Ulama mengatakan untuk menulis tentang keistimewaan dan keagungan Nabi tidak akan pernah ada batas dan habisnya untuk ditulis, hingga detik ini dalam Bahasa arab ratusan Buah buku yang menulis dan menceritakan Sosok Nabi besar Muhammad, belum lagi buku – buku yang belum tersebar, belum lagi buku – buku dengan ragam Bahasa lainya yang ada di dunia.
Tidak heran juga seorang orientalis barat yang dikenal Michael H. Hart bahwa Nabi Muhammad mendapat peringkat pertama dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam buku yang berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” atau dalam bahasa Indonesia berarti 100 Peringkat Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.
Memposisikan Nabi pada urutan pertama, bukan tanpa sebab dan alasan yang kompleks, jika ia menulisa karena sentiment terhadap Agama sangat mustahil ia menempatkan Nabi Muhammad saw pada urutan pertama, itulah karena kejujuranya dan dengan didorong pada fakta – fakta yang ada, sehingga tidak bisa dingkari bahwa Nabi adalah Satu-Satunya Manusia yang Memiliki Keberhasilan Spektakuler.
Terkait kemaksuman Nabi Muhammad saw, baik sebelum atau sesudah diutus menjadi Rasul, para ulama mencatat secara detail dalam kitab-kitab mereka. Bahkan, dibuatkan bab khusus dalam beberapa kitab. Seperti Abu Nu’aim al-Asfihani (wafat 430 H) dalam kitabnya Dalâilun Nubuwah, Imam as-Suyuti (wafat 911 H) dalam kitabnya al-Khashâishul Kubrâ. Lebih dari itu, ada satu kitab secara spesial membahas kemaksuman Nabi Saw, yaitu Raddu Syubuhâti Haula ‘Ishmatinnabi (Membantah Syubhat Seputar Kemaksuman Nabi saw) karya Syekh ‘Imad as-Syirbini dan masih banyak lagi kita kitab lain yang secara khusus membahasan kemaksuman Nabi.
Pujian kepada Nabi samapai detik inipun tidak ada habisnya untuk diungkapkan, sehingga Ulama mengatakan bahwa Allah menciptakan Muhammad bagaimana maunya Allah dengan sangat sempurna, meski demikian dia tetap sebagai manusia yang memiliki tabiat manusia pada umumnya, beliau makan, minum, tidur, menikah dan prilaku lainya yang umum yang tidak sampai dan terjatuh pada kewibawaan dan kemuliaan satu contoh bersandau guruau yang berlebihan.
Sebagaimana dijelaskan Dr. Musthafa as-Shiba’i menjelaskan, pada masa muda, Nabi Muhammad saw tidak pernah terlibat melakukan senda gurau dan hal-hal yang tidak patut bersama teman sebayanya. Allah telah menjaganya dari perbuatan semacam itu. (As-Shiba’i, Sîratun Nabawiyyah Durûsun wa ‘Ibar, halaman 20). Demikian pula Syekh Said Ramadhan al-Buthi menegaskan, semua ini merupakan bukti bahwa Nabi saw langsung dibimbing oleh Allah swt tanpa melalui perantara apapun. (Al-Buthi, Fiqhus Sîrah, halaman 79). Hikmah kedua, track record atau rekam jejak seorang dai sangat berpengaruh dalam dakwahnya. Dr. Musthafa as-Shiba’i menegaskan, banyak orang berdakwah dan mengajak umat untuk memiliki budi pekerti baik, tetapi karena memiliki masa lalu kelam, akhirnya masyarakat berpaling dari ajakannya. Bahkan masa kelam yang pernah dilalui olehnya menimbulkan keraguan bagi masyarakat untuk menerima dakwahnya. (As-Shiba’i, Sîratun Nabawiyyah, halaman 23).
Dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan hal yang belum banyak diurai tentang Sosok Nabi Agung Muhammad Shallahu alaihi wasallam dalam kemaksumanya yaitu “Tidak terpengaruhnya Nabi daripada keadaandan lingkungan, kebudayaan dan peradaban yang ada” yang justru malah beliau sebagai figure yang disegani, figure yang pemberani figure yang mampu menghadapi musuh musuhnya yang terwariskan kepada pengikut dan umat berikutnya.
Tiga peradaban besar yang dihadapkan kepada Nabi ketika ia dilahirkan di dunia, antara lain:
1. Peradaban Arab Jahiliyah Pra Islam
Kita tahu bahwa lingkungan atau keadaan tempat kita tinggal akan sangat berdampak pada kepribadian bahkan kepada pembentukan karakter seseorang, oleh karena Lingkungan memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Karakter dapat diartikan sebagai serangkaian nilai, sikap, dan perilaku yang dimiliki seseorang.
Lingkungan mencakup segala aspek yang mempengaruhi kehidupan seseorang, mengutip dari laman web edukasi.com bahwa manusia dipengaruhi dari dua sisi, sisi eksternal dan sisi eksternal, sisi internal mungkin yang ruang lingkupnya masih terjangakau atau dekat sepert, Keluarga, tempat belajar, tempat tinggal, dan teman dekat. Sisi eksternal yang saat itu tengah berkuasa yaitu Persia dan Romawi.
Lantas, kondisi tempat hidup bangsa Arab yang berupa hamparan gurun pasir gersang yang panas dan keras memengaruhi watak kasar, agresif, keras kepala, keji, suka berperang dan merampas dari bangsa Arab masa itu.
Perbuatan keji, tidak bermoral, dan tidak manusiawi yang saat itu umum terjadi dalam adat istiadat masyarakat Arab pra-Islam. Perbuatan masyarakat Arab pra-Islam antara lain seperti merendahakan harga diri wanita, bepesta minum khamer, gemar bermain judi, mencuri dan merampok, berseteru berkelahi dan berperang,
Lain sisi harus diakui bahwa arab memiliki peradaban yang cukup besar seperti dikatakan “Arab ketika itu (abad ke-6) bukan merupakan tempat yang terisolasi, tetapi merupakan bagian dari dunia berbudaya yang sangat luas yang mencakup wilayah Timur Dekat dan Mediterania Timur,” tulis sejarawan Fred M. Donner dalam bukunya yang kontoversial, Muhammad dan Umat Beriman: Asal-Usul Islam (2015: 3).
Entitas politik besar terakhir di semenanjung Arab adalah Kerajaan Himyar di Yaman yang hanya bertahan selama empat abad (runtuh tahun 525). Karena tidak adanya kerajaan, ditambah lagi dengan sumber-sumber pertanian yang terbatas, kekuatan politik masyarakat Arab terpecah ke dalam banyak suku dan klan.
Di tengah konteks geopolitik macam itulah Nabi Muhammad lahir. Ia kemudian mengubah percaturan politik di semenanjung Arab dan meraih tempat tersendiri dalam sejarah dunia. dalam konteks ini jelas Nabi tidak terpengaruh dengan keadaan justru malah Nabi sebagai pelopor perubahan yang lebih baik dan lebih maslahat.
2. Peradaban bangsa Persia
Dunia dipimpin dua negara besar yang letaknya tidak jauh dari jazirah Arab. Dua negara besar ini adalah Persia yang terletak di di sebelah Timur Laut Jazirah Arab dan Romawi posisinya membentang di bagian Utara dan Barat Jazirah Arab.
“Yang masing-masing negara-negara besar tersebut memiliki peradaban yang mencakup ilmu undang-undang dan ideologi yang mereka anut,” kata Syekh Manna Al Qattan penulis terkenal kitabnya Ilmu Al Qur’an.
lanjut kata Syekh Manna mengatakan orang-orang Persia dikenal sebagai masyarakat yang suka menyembah fenomena natural. Ajaran-ajaran Zoroaster atau orang yang dianggap sebagai nabi oleh orang Persia berdiri atas dasar bahwa ada perbedaan dan perselisihan antara kekuatan-kekuatan yang saling berseberangan seperti cahaya, kegelapan, kesuburan, kegersangan dan seterusnya.
Pada era Rasulullah SAW, Persia menjadi salah satu negeri yang menjadi perhatian dunia. Suksesi di negeri itu menjadi pusat perhatian. Maklum saja, kala itu, Persia adalah salah satu dari dua kekuataan besar di dunia. Satunya lagi adalah Romawi.
Persia dengan penduduk mayoritas Majusi, sedangkan Romawi berpenduduk Nasrani. Dua kekuatan ini di kemudian hari diambil-alih Arab yang Muslim, menggantikan Persia.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW sempat mengomentari suksesi di Persia. Humaid meriwayatkan, suatu waktu ketika raja di Persia digantikan, Rasulullah bertanya, “Siapa yang menggantikannya?”
Mereka menjawab, “Anak perempuannya (maksudnya adalah anak perempuan Abarwiz).”
Kemudian dalam riwayat yang berkaitan, Abu Bakrah berkata, ketika sampai berita kepada Rasulullah SAW bahwa orang Persia mengangkat putri Raja sebagai penggantinya, Rasulullah bersabda, “Tidak sukses suatu kaum (masyarakat) yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (HR Bukhari)
Atau dalam versi lain, hadits itu berbunyi, “Sebuah bangsa tidak akan pernah makmur yang mempercayakan urusannya kepada seorang wanita.” (HR al-Masudi dan Ibnu Qutaibah).
Uraian diatas meberi pelajaran bahwa Nabi begitu memperhatikan keadaan bangsa Persia, sampai meberikan hal hala yang akan terjadi pada bangsa romawi.
3. Peradaban bangsa romawi
Bangsa Romawi adalah bangsa yang cukup besar dan Panjang dalam literasi sejarah Dunia, begitu juga bangsa romawi berhadapan dengan masanya Nabi Muhammad amatlah mendalam sehingga tertuang di dalam surat Ar rum. Tidaklah ada peristiwa amat menakjubkan kecuali tertuang di dalam Al Qur’an, termasuk surat Ar rum ini.
Hal yang paling menakjubkan adalah kekalahan bangsa Romawi diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, Surat Ar – Rum, ayat 1 – 7. ayat ini sebagai peneguh jiwa kaum muslimin, karena Allah menjanjikan kemenangan Islam atas bangsa Romawi.
Beberapa kebesaran bangsa ini antara lain Bangsa ini dikenal memiliki peradaban yang sangat tinggi. Dan, bukan hanya itu, salah satu surah dalam Alquran juga dinamakan dengan surah Ar-Rum [30]. Ini menunjukkan bahwa bangsa ini memang dikenal hebat dan terkenal sejak dahulu kala. Kemudian Romawi merupakan tempat kuno di Eropa yang menjadi sumber kebudayaan Barat. Lalu keberadaan Kota Roma sebagai pusat pemerintahan Romawi. Tidaklah berlebihan pepatah lama yang terkenal “banyak jalan menuju roma” perkataan ini saya kira bukan tanpa makna dan sebab, pasti memiliki nilai historisnya.
Hal lain pula bahwa Bangsa Romawi sudah ada sejak abad ke-9 Sebelum Masehi (SM). Bangsa Romawi mendominasi Eropa Barat dan wilayah sekitar Laut Tengah. Konon, kekuasan Romawi dulu, bertahan hingga 1000 tahun atau 10 abad. Yakni, 500 tahun sebelum kelahiran Isa Al-Masih dan 500 tahun sesudahnya. Namun, ada pula yang menyebutkan selama 12 abad.
Sebagaimana disebutkan Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rusul, negara ini dinamakan dengan Romawi karena dikaitkan dengan ibu kota dan tempat titik tolak peradabannya di Kota Roma, Italia. Pada abad keenam sebelum masehi, Roma mengadakan ekspansi hingga menguasai keseluruhan Italia. Masa ini disebut dengan masa Romawi Kuno. Kemudian, wilayahnya meluas hingga negeri-negeri Yunani, semenanjung Balkan, Asia Kecil, Syam, dan Mesir sampai Carthage di Tunisia.
Pada akhirnya Bagaimanapun, mendekati abad ketujuh Masehi, Romawi dan Persia sama-sama kehabisan tenaga. Penyebabnya tidak hanya dilatari konflik berkepanjangan di antara keduanya. Masing-masing memiliki masalah besarnya sendiri. Pada pertengahan abad keenam, Konstantinopel dilanda wabah pes yang menewaskan ribuan orang. Sementara itu, perebutan kekuasaan di istana Persia memicu ketidakstabilan politik dalam negeri.
Islam berhasil menyatukan seluruh Semenanjung Arab sejak tahun 620-an. Nabi Muhammad SAW menyampaikan nubuat tentang kejayaan Muslimin atas Bizantium dan Persia di masa depan. Beliau bersabda, “Jika Kisra (raja Persia) binasa, tidak akan ada lagi Kisra lain sesudahnya. Jika Kaisar (raja Bizantium) binasa, tidak akan ada lagi Kaisar lain sesudahnya. Dan demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian (umat Islam) akan mengambil perbendaharaan kekayaan keduanya di jalan Allah.” (HR Bukhari).
Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Nabi dengan sosoknya yang sempurna menjadi contoh terbaik bagi umat manusia dan bangsa. Selain dari pada itu hal yang paling penting adalah bahwa Nabi tidak bisa dipengaruhi dari keadaan tiga peradaban besar terhadap eksistensinya sebagai seorang Nabi. beliau tidak bisa ditaklukan justru menjadi penakluk bangsa bangsa yang ada. Wallahu A’lam. ***
Penulis: Taufik Imron, Dosen PAI Fakultas Agama Islam Universitas Primagraha








