KampusTerkini

Fatah Sulaiman: UNTIRTA Berkomitmen Mewujudkan Visinya Sebagai Kampus Healthy, Integrative, Smart, and Green

UI GreenMetric Instagram Live Discussion: Seri Pahlawan Lingkungan bertema Dari Limbah Jadi Manfaat: Mewujudkan Kehidupan yang Lebih Berkelanjutan.

JAKARTA, biem.co – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) menegaskan komitmennya dalam mewujudkan kampus berkelanjutan melalui partisipasi aktif dalam UI GreenMetric Instagram Live Discussion: Seri Pahlawan Lingkungan bertema Dari Limbah Jadi Manfaat: Mewujudkan Kehidupan yang Lebih Berkelanjutan.

Acara yang disiarkan langsung melalui akun @ui.greenmetric ini menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, S.T., M.T. (Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa), Prof. Ir. Wiratni, S.T., M.T., Ph.D., IPM. (Sekretaris Direktorat Kemitraan dan Relasi Global Universitas Gadjah Mada), serta Prof. Dr. Prabang Setyono, M.Si. (Kepala Program Studi S3 Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret). Diskusi ini menjadi ruang berbagi inspirasi tentang bagaimana limbah dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat untuk kehidupan yang lebih hijau.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNTIRTA, Prof. Dr. Fatah Sulaiman, menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk menjadi agen perubahan, khususnya dalam isu lingkungan.

Perguruan tinggi adalah mediator perubahan positif. Di lingkungan pendidikan tinggi, pengelolaan limbah tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral dan visi institusi,” tegasnya.

Ia menambahkan, UNTIRTA berkomitmen mewujudkan visinya sebagai kampus Healthy, Integrative, Smart, and Green, di mana aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kecerdasan teknologi menjadi satu kesatuan. Untuk itu, universitas telah membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang fokus menangani pengelolaan sampah dan inisiatif lingkungan berkelanjutan.

Fatah Sulaiman

Langkah tersebut, diakui Prof. Fatah, tidak selalu mudah karena masih ada tantangan perilaku di kalangan sivitas akademika.

Awalnya terasa asing, karena budaya peduli sampah belum terbentuk. Tapi sekarang sudah mulai tumbuh kesepahaman bahwa sampah harus dikelola dengan baik dan bisa memiliki nilai tambah,” ungkapnya.

Sebagai wujud nyata pengelolaan limbah, UNTIRTA juga telah membangun plan kecil di dekat incinerator untuk menangani limbah organik dari kantin dan kegiatan kampus. Sebagian limbah dimanfaatkan untuk pembakaran, sementara sebagian lainnya digunakan untuk budidaya maggot (larva lalat) sebagai pengurai alami limbah organik.

Kami bahkan sedang meneliti potensi maggot sebagai agen pengurai limbah yang efektif dan ramah lingkungan. Ini bagian dari inovasi untuk menjadikan kampus benar-benar hijau dan berkelanjutan,” tutur Prof. Fatah.

Selain penguatan kebijakan dan teknologi, UNTIRTA juga mendorong partisipasi mahasiswa melalui program Duta Green Smart Campus, yakni mahasiswa terpilih yang menjadi agen perubahan dalam mewujudkan kampus berwawasan lingkungan. Mereka dibekali pemahaman tentang gaya hidup berkelanjutan, indikator Sustainable Development Goals (SDGs), serta konsep ramah lingkungan yang relevan dengan visi universitas.

Prof. Fatah menegaskan bahwa keberhasilan kampus hijau tidak dapat dicapai secara individu, melainkan harus didorong oleh kolaborasi. Ia mengapresiasi peran UI GreenMetric sebagai mitra strategis dalam mengembangkan sistem tata kelola keberlanjutan di perguruan tinggi.

Diskusi kemudian ditutup dengan refleksi bahwa universitas merupakan miniatur peradaban, cerminan perilaku masyarakat di sekitarnya. Tantangan terbesar bukan hanya membangun sistem atau infrastruktur, melainkan membentuk budaya sadar lingkungan di setiap level komunitas kampus. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button