CerpenKampusTerkini

Wajahmu

Oleh: Aulia Ramadhani Safitri

CERPEN, biem.co – Dengan penuh kesadaran akademik, aku akui penelitian kali ini bias; sebab sejak awal, yang kuteliti hanyalah wajahmu. Rangga Bintang Asmara Yudha, aku akui nama itu bagus, siapa yang memberikannya? Ayahmu? Ibumu? atau Kakek dan Nenekmu? kita bahas soal itu lain waktu. Yang terpenting saat ini, aku hanya ingin mengungkapkan bagaimana rasa syukurku karena Tuhan telah mempertemukan kita.

Selasa, 7 Oktober 2025 gerbong tiga dari depan, tujuan akhir Stasiun Rangkasbitung. Aku sedang membaca buku “Tentang Kamu” dari penulis ternama Tere Liye sambil mendengarkan musik. Di sampingku seorang pria yang kuperhatikan duduknya sangat gusar sedari tadi. Ada saat dimana mata kami saling bertemu, sampai akhirnya aku tersenyum canggung. Hanya sepersekian detik hingga satu pernyataan terdengar.

“Keren kak.” ucapnya.

“Makasih, abangnya juga keren.” jawabku sambil melepas satu bagian earphone yang kukenakan.

“Aduh, jangan panggil abang.”

“Terus? Mas?”

“Rangga. Mbaknya?” jawabnya sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Aulia” kataku sambil meraih jabat tangannya.

Hingga pada akhirnya, kereta yang kami naiki sudah sampai pemberhentian terakhir Stasiun Rangkasbitung. Saat itu, aku harus menunggu Abang menyelesaikan pekerjaannya, agar bisa pulang bersama. Tidak kusangka, pria yang baru aku kenal 20 menit lalu, dengan senang hati menawarkan diri untuk menemaniku. Obrolan kami berlanjut di sebuah warung kecil dekat Stasiun Rangkasbitung. Banyak hal yang kami bicarakan, dari mulai menggerutu mengapa dihari itu panas sekali, gerbong kereta yang selalu padat oleh penumpang, menanyakan tempat tinggal, pekerjaan, dan perkuliahan.

Kurang lebih pukul 08:00 WIB Abang sampai, dan kami saling berpamitan, tidak lupa memperkenalkannya pada Abangku. Untunganya sebelum kami berpamitan, kami saling bertukar Instagram. Hari, tanggal dan tempat dimana Tuhan mempertemukan kita. Aku bahkan tak pernah menyangka, pertemuan kami terjadi di tempat sesederhana itu—sebuah kereta yang melaju di antara riuh dunia dan sunyi pikiranku.

Sesampainya di rumah perbincangan kami berlanjut, kami bertukar pesan lewat Instagram. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, mengingat besok aku harus kembali menjalankan rutinitasku sebagai Mahasiswa. Bangun pukul 03:30 dini hari, bergegas siap-siap, dan menaiki kereta pukul 04:29 WIB ahhh semoga badanku tetap sehat.

Kampus, Rabu, 8 Oktober 2025. Ponsel di saku celanaku bergetar pelan. Notifikasi Instagram mucul – dari akun yang tak asing.

Rangga: “Belajar yang baik, Lia.”

Rangga: “Nanti kalo agak stres dikit tinggal minum Teh Tarik.”

Rangga: “Semangat.”

Saat kami berbincang di warung dekat stasiun, aku memberitahunya bahwa aku sangat suka Teh Tarik.

Aulia: “Pasti. Teh Tarik itu menu wajib.”

Aku menyimpan ponselku kembali.

Perbincangan kami berjalan mulus, sampai-sampai saling bertukar nomor telepon. Setiap hari, jam, dan menit selalu saja ada topik pembicaraan yang seru.

Kamis sore, 16 Oktober 2025. Udara di kota lumayan dingin, karena tadi siang diguyur hujan. Aku duduk di kursi tunggu Barbershop kecil di jantung kota Rangkasbitung, sambil mempehatikan rambutnya yang perlahan jatuh ke lantai.

Dia duduk di depan cermin, dengan cape hitam menutupi bagian bahu hingga ke bawah, sementara tukang cukur sibuk menata sisi rambutnya dengan presisi. Lima belas menit kemudian, rambutnya selesai dirapikan. Aku hampir tak berkedip ketika dia melepas cape hitam itu.

“Ganteng.” ucapku pelan supaya tidak terdengar abang tukang cukur.

“Sttt, jangan gitu.” jawabnya pelan sambil tersenyum tipis.

Kami keluar dari Barbershop, angin sore menyambut dengan lembut. Jalanan mulai ramai, sayangnya langit oranye tidak muncul, karena hujan tadi siang.

“Let’s go, kita ke Kasiko.” ucapnya riang.

“Let’s go!” balasku tak kalah riang.

Rabu kemarin kita memang sudah merencanakan untuk bertemu. Kasiko, tujuan utama kami ke sana, kafe kecil di sudut kota Rangkasbitung. Meja di pojok, lantai dua, dengan satu gelas minuman Ice Black, satu gelas minuman Red Velvet, dan satu porsi Nasi Cumi Daun Jeruk di antara kami. Kami membicarakan banyak hal – tentang bagaimana keseharian kami berdua, tentang bagaimana menyenagkannya hari itu, dan tentang rambut barunya. Aku menatapnya cukup lama malam itu. Mungkin karena lampu kafe terlalu lembut, atau karena senyumnya terlalu tenang. Tapi, yang aku tahu, aku tak ingin waktu berhenti di manapun, kecuali di sini – di hadapan laki-laki yang baru saja memotong rabutnya, dan tanpa sadar, sedikit memotong hatiku juga.

Hari-hari terus berputar dengan ritme yang sama. Aku sibuk dengan tugas kuliah yang tak pernah ada habisnya, sementara dia masih bergulat dengan pekerjaan baristanya di sebuah optik bernama Saturdays, di salah satu mall yang sangat ramai di Jakarta Selatan. Kami jarang bertemu, tapi entah mengapa, percakapan kami lewat pesan dan telepon menjadi sangat menyenangkan.

Sampai akhirnya, Sabtu itu datang.

Sabtu, 18 Oktober 2025.  Entah dorongan dari mana, aku tiba-tiba ingin memberinya kejutan – datang langsung ke tempat dia bekerja.

Aku berangkat dengan hati yang deg-degan setengah mati. Sesampainya di mall, dengan polosnya aku berjalan bolak-balik, berputar ke arah yang sama. Setelah merasa benar-benar tersesat, aku akhirnya menanyai satpam.

Empat kali. Ya, empat kali. Karena setiap kali ditunjukkan arah, aku selalu salah belok.

“Maaf, Pak, Saturdays di sebelah mana, ya?”

“Oh, lurus aja, Mbak, nanti kelihatan kok. Tempatnya persis depan eskalator.”

Dan benar saja. Mataku langsung menangkap tulisan Saturdays di papan nama toko.

Jantungku berdebar.

Lucu ya, seseorang bisa terlihat begitu memikat hanya karena sedang melakukan yang ia sukai.

“Permisi!” ucapku.

Ekspresi itu berubah sepersekian detik setelah dia mendengar teguranku – antara kaget, tak percaya, dan senang sekaligus.

“Loh… kamu?” katanya pelan, tapi senyumnya langsung muncul, hangat sekali.

“Masuk dulu, duduk” lanjutnya.

Dia membawakan tas yang aku bawa, aku duduk di kursi paling dekat dengan bar. Suatu bentuk perhatian kecil yang membuat pipiku memanas.

“Mau pesen apa?” tanyanya kepadaku.

“Nanti aku ke depan”

Aku mengeluarkan laptop dari dalam tasku. Diam sejenak melepas penat, karena sudah menjelajah lantai UG di mall itu.

Tak berselang lama, aku memesan minuman, sebelum menggeluti laptop untuk mengerjakan tugas kuliah.

“Aku mau Lychee Bliss.”

“Jangan leci.”

“Terus apa?”

“Ini aja.” ucapnya sambil menunjuk Earl Grey Latte di kertas menu.

“Ya udah, apa aja yang penting enak.”

“Oke, nanti diantar.”

Sambil menunggu, aku duduk di tempat semula.

“Ini pesanannya.”

“Loh aku kan ngga pesen cookies” ucapku sambil mengernyitkan dahi.

“Dimakan ya, semoga kamu suka. Di sini ngga ada Teh Tarik.” tambahnya sambil tertawa kecil.

Lagi pula siapa yang jual Teh Tarik merk Max Tea di mall, ada ada saja.

Di sela-sela kesibukannya, dia datang sebentar. “Tunggu ya. Jam 2 aku break nanti kita keluar, aku temenin.”

Aku mengangguk. “Santai aja, kerja dulu. Aku juga sambil kerjain tugas kuliah di sini, biar ga bosen.”

Dan itu benar. Melihatnya tertawa dengan rekan kerjanya, melayani pelanggan dengan sabar – anehnya, justru itu membuatku bahagia. Ada sesuatu yang menenangkan melihat seseorang melakukan hal yang ia sukai.

Ketika waktu istirahat tiba, dia kembali menghampiriku.

“Ayo, kita keluar. Tapi, kita beli camilan dulu.”

“Let’s go”

Kami menuju tempat di mana para pegawai mall beristirahat sambil membawa sekantong kecil camilan dan minuman. Tidak ramai, hanya ada kami, dan enam pegawai mall. Kami berbincang lama, lebih tepatnya aku yang banyak bicara.

Satu jam sudah terlewati, dia harus kembali bekerja. Menurutku itu sangat singkat, itu belum cukup untuk menceritakan kejadian hari itu. Tapi, hari itu bukan tentang lama atau tidaknya kami bersama, tapi tentang keberanian kecilku datang ke tempatnya – dan tatapan hangatnya seolah berkata ‘aku senang kamu di sini.’

Waktu berjalan pelan. Lampu-lampu mall masih tetap terang benderang. Dari tempat dudukku, kulihat dia masih sibuk dibalik mesin kopi – kadang tersenyum pada pelanggan, kadang mengelap meja sambil bercanda riang dengan temannnya. Beberapa kali dia sempat melirik ke arahku, lalu mengangkat alis pelan seolah berkata “Sebentar ya.”

Aku tidak keberatan menunggu. Dia bilang baru selesai jam 6, dan entah kenapa, aku ingin ada disana, sampai hari kerjanya benar-benar berakhir.

Jam kerjanya telah selesai, kami keluar dari toko bersama. Mall masih tetap terang benderang. Dia berjalan di sampingku, dengan pakaiannya yang selalu saja keren, dengan wangi parfumnya.

“Maaf ya, pulangnya jadi kemalaman.” Katanya pelan.

Aku menggeleng. “Ngga apa-apa. Aku seneng liat kamu kerja.”

Dia menatapku, lalu tersenyum.

Kami berjalan pelan menuju pintu keluar mall. Udara malam itu terasa sedikit dingin.

Kami duduk di bangku plastik kecil angkringan dekat Stasiun Kebayoran. Lampu-lampu jalan memantukan cahaya kekuningan.

Dua gelas air mineral dengan es batu berembun di sisi luar, satu mangkuk bakso, dan satu mangkuk mie ayam terhidang di depan kami. Sederhana, tapi entah kenapa terasa pas.

Dia makan dengan tenang, sesekali tertawa kecil sambil bercakap dengan salah satu pelanggan lain yang duduk tak jauh dari kami. Bahasa Jawa menuncur begitu fasih di bibirnya – hangat, cair, penuh logat khas yang tak kumengerti. Aku hanya bisa tersenyum, selebihnya tidak paham apa yang mereka bicarakan.

Setelah makan, kami berjalan ke peron. Duduk di bangku tunggu, sambil mendengarkan musik bersama.

Kereta datang 20 menit kemudian.

Kami berjalan bedampingan menuju pintu, tanpa banyak bicara. Aku menatapnya lama, dalam diam, aku tersenyum. Entah sejak kapan, setiap hal kecil tentangnya mulai terasa berarti. Caranya tertawa, caranya berbicara – semuanya membuatku bersyukur pernah bertemu dengannya.

Kadang aku berpikir. Tuhan, kadang lucu cara menyelipkan orang ke dalam hidup kita – tanpa tanda, tanpa aba-aba, hanya lewat senyum kecil di gerbong kereta.

Aku tidak tahu akan seperti apa hari esok. Tapi aku tahu, aku ingin kamu tetap seperti hari ini – seseorang yang mencintai apa yang kamu lakukan, yang sabar, yang penuh perhatian pada hal-hal kecil yang sering diabaikan orang. Tetap menjadi Asmara yang aku kenal di hari itu: hangat, sederhana, tapi mampu membuat siapapun merasa diterima.

Dan jika suatu saat nanti kita berjalan di arah yang berbeda, aku hanya ingin kamu tahu satu hal, aku tidak akan pernah menyesal telah mengenalmu. Karena dari sekian banyak pertemuan di dunia ini, pertemuan denganmu adalah salah satu yang paling aku syukuri. (Red)

Aulia Ramadhani Safitri, penulis adalah Mahasiswa Universitas Pamulang Program studi Manajemen S1

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button