SkriptoriaTerkini

Ilmu Itu Penting, Tapi Adab Lebih Utama!

SKRIPTORIA, biem.co – Wilujeng Morning! Beberapa waktu yang lalu, salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan yang sama dengan saya mencoba peruntungan ikut seleksi menjadi calon Direksi di sebuah Badan Usaha Milik Daerah yang bergerak di bidang jasa kepelabuhan.

Konon karyawan tersebut sempat lulus dari seleksi administrasi dan berhak ikut ke tahapan berikutnya berupa verifikasi dokumen asli, seleksi Uji Kelayakan dan Kepatutan dan Wawancara dengan Panitia Seleksi.

Selama dua hari karyawan tersebut bergrak senyap, pagi buta datang ke kantor kemudian mengendap-endap pergi dari kantor untuk mengikuti tahapan demi tahapan yang telah ditentukan waktu dan tempatnya.

Sayangnya, karyawan tersebut tidak lulus untuk mengikuti babak final yaitu interview dengan Kepala Daerah setempat yang kemudian akan ditetapkan siapa yang terpilih menjadi Direksi.

Dari obrolan warung kopi bersama kolega yang kebetulan tahu persis jalannya proses seleksi tersebut, terungkaplah penyebab utama kenapa karyawan tersebut gagal menjadi calon direksi.

Padahal, karyawan tersebut katanya cukup memiliki kemampuan yang lumayan, ini terbukti dengan jawaban-jawabannya yang cukup baik, hanya saja dari psikotest dan gesture tubuh pada saat diwawancara malah menjadi faktor X yang membuat dirinya gagal.

Faktor X tersebut adalah Adab, ilmu bisa dipelajari sedangkan Adab adalah karakter yang terbentuk dari kebiasaan bertahun-tahun dan sulit diubah dalam waktu sekejap.

Adab bukan sekadar tata krama, melainkan fondasi yang membentuk karakter pribadi seseorang, menjadikannya memiliki empati, kejujuran, dan integritas.”

 

Orang yang memiliki adab yang baik akan cenderung tidak melakukan perbuatan tercela dan dapat menjadi panutan di lingkungan sekitar, mencerminkan karakter yang mulia.

Itu kenapa banyak perusahaan menjadikan Adab sebagai syarat utama yang sangat menentukan dalam proses rekrutmen. Banyak perusahaan yang mengabaikan faktor ini lalu kemudian waktu dan energinya akan habis terkuras untuk mengubah karakter sesuai yang diinginkan.

Banyak orang tua yang bekerja keras untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan warisan berupa harta, properti, atau pendidikan yang baik.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dan abadi dari semua itu. Rasulullah SAW bersabda, “tidak ada seorang ayah yang meninggalkan warisan terbaik kepada anaknya, kecuali adab.” (Kanzul Ummal, Jil. 16, Hal. 460).

Warisan yang kelihatannya gampang diberikan, tapi lumayan susah dalam prosesnya. Kita bahkan masih sering menganggap sepele tentang pentingnya mengajarkan adab pada anak.

Pendidikan adab sejak dini dapat membantu membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, disiplin diri, dan memiliki kesadaran diri yang baik dalam berinteraksi sosial. 

Mohon maaf keteladanan orangtua belum tentu tercermin pada anaknya, pada kenyataannya adab tidak berbanding lurus dengan prestasi akademik atau agama seseorang.

Syekh Abdul Qadir Al Jailani pernah berkata, “Aku lebih menghargai orang yang beradab, daripada orang yang berilmu. Karena jika hanya berilmu, iblis pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia.”

Bahkan Imam Abu Zakariya al-‘Anbariy menggambarkan, “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.”

Jadilah orang yang responsif, bukan reaksioner. Responsif adalah menjadi pribadi yang cepat tanggap, sensitif, dan tidak masa bodoh terhadap lingkungan sekitar, yang membuat orang lain merasa dihargai. Sedangkan reaksioner adalah seseorang yang menentang perubahan dan selalu bereaksi negatif dan cenderung merusak  terhadap apa yang dianggap orang lain sebagai kemajuan tetapi menurut dirinya akan mengganggu kekuasaan dan kenyamanan yang dimilikinya.

Salam Berkarya dan Berbagi Inspirasi !

 

Serang, 26 November 2025
Irfan Nur Ma’ruf

 

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button