TEKNOLOGI, biem.co – Ketahanan pangan adalah isu penting yang semakin mencuat menjelang tahun 2035, saat populasi global terus bertambah sementara ketersediaan bahan makanan harus menghadapi tantangan dari perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan menurunnya kualitas lingkungan. Di Indonesia, hambatan ini menjadi semakin mencolok karena kebutuhan gizi masyarakat yang semakin meningkat tidak selalu sejalan dengan ketersediaan makanan yang bergizi, terjangkau, dan berkelanjutan.
Dalam hal ini, tanaman kelor atau dikenal dengan nama latin Moringa oleifera memiliki potensi besar sebagai sumber makanan fungsional yang dapat mengatasi beberapa tantangan terkait gizi dan keberlanjutan di masa mendatang. Kelor bukan hanya tanaman yang mudah dibudidayakan, tetapi juga kaya akan kandungan nutrisi sehingga sangat layak diperhitungkan sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional menuju tahun 2035.
Sebagai tumbuhan tropis yang telah lama dimanfaatkan dalam praktik pengobatan tradisional, daun kelor dikenal memiliki kandungan nutrisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan banyak sayuran lainnya. Daun kelor memberikan profil protein yang lengkap dengan kadar yang cukup signifikan, disertai dengan kandungan vitamin A, C, dan E yang berfungsi sebagai antioksidan alami, serta mineral penting seperti kalsium, magnesium, dan zat besi yang berkontribusi pada kesehatan tulang dan pencegahan anemia.
Di samping itu, kelor juga menjadi sumber fitokimia bioaktif seperti flavonoid, senyawa fenolik, dan isotiosianat yang memiliki peranan sebagai antioksidan, anti-inflamasi, dan antidiabetes, serta senyawa yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan profil gizi yang demikian, kelor tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar asupan gizi, tetapi juga memberikan banyak keuntungan fungsional untuk kesehatan serta pencegahan penyakit degeneratif.
Berbagai penelitian, baik internasional maupun nasional, melaporkan bahwa daun kelor mengandung fitonutrien yang sangat penting sebagai sumber makanan sehat. Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Timotius (2022) mengungkap bahwa daun kelor sangat kaya akan quercetin dan kaempferol, dua jenis flavonoid utama yang berfungsi sebagai agen antioksidan dan anti-inflamasi.
Penelitian Ghaly (2023) juga menunjukkan ekstrak dari daun kelor mampu mengatasi radikal bebas dengan baik, karena kandungan fenolik dan vitamin C yang melimpah. Selain itu, Khoerunisa et al. (2024) mencatat bahwa daun kelor mengandung asam amino esensial yang lengkap seperti lisin dan triptofan, sementara kadar klorofil, -sitosterol, dan serat larutnya berkontribusi terhadap pengelolaan kolesterol dan kesehatan sistem pencernaan.
Konsistensi hasil temuan dari berbagai peneliti ini menjadi dasar ilmiah yang kuat untuk mendorong pengembangan kelor sebagai bahan pangan fungsional yang modern. Hasil penelitian ini tidak hanya menggambarkan beragam nutrisi pada daun kelor, tetapi juga membuka kesempatan untuk penelitian lebih lanjut tentang kekuatan senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya.
Kandungan bioaktif dalam daun kelor yang cukup berlimpah telah dibuktikan oleh serangkaian penelitian ilmiah. Penelitian oleh Ramadhan et al. (2024) yang menggunakan ekstrak etanol dari daun kelor menunjukkan bahwa total kandungan fenolik mencapai sekitar 19,51 mg GAE/g, yang mengindikasikan adanya potensi antioksidan yang signifikan. Dalam penelitian Wahid et al. (2021) ditemukan bahwa kandungan flavonoid total pada ekstrak daun kelor mencapai 155,61 mg QE/g, yang menunjukkan bahwa flavonoid adalah elemen bioaktif penting di dalam daun kelor.
Hasanah et al. (2017) juga menambahkan bahwa hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak etanol daun kelor memberikan nilai IC₅₀ yang mengindikasikan kemampuan dalam menetralkan radikal bebas cukup kuat dan berhubungan dengan manfaat kesehatan jangka panjang. Penelitian lainnya oleh Peñalver et al. (2022) melaporkan adanya kapasitas tinggi untuk antioksidan menggunakan metode FRAP, ABTS, dan ORAC, yang berkaitan erat dengan adanya senyawa fenolik serta mineral mikro seperti besi dan kalsium. Hasil penelitian tersebut memperkuat potensi kelor sebagai bahan pangan fungsional yang patut dikembangkan dengan nilai kesehatan yang tinggi.
Potensi kelor sebagai sumber pangan fungsional sangat besar dan dapat diwujudkan dalam berbagai produk yang disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan masyarakat. Kelor berpeluang untuk dijadikan minuman kesehatan dalam bentuk teh celup, minuman serbuk instan, atau jus hijau yang kaya akan antioksidan. Selain itu, daun kelor yang sudah dikeringkan dan dihaluskan juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan makanan, seperti tepung kelor yang bisa dicampurkan ke dalam roti, mie, atau biskuit.
Di sisi lain, pembuatan permen herbal (chewable) berbahan kelor juga sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Permen kecil dengan rasa lembut dari ekstrak daun kelor bisa menjadi pilihan praktis untuk memperoleh manfaat kelor sebagai antioksidan atau imunomodulator. Produk-produk ini tidak hanya akan meningkatkan keberagaman jenis pangan, tetapi juga membuat kelor lebih mudah diakses dan dikonsumsi sebagai bagian dari diet sehat sehari-hari.
Melihat kandungan nutrisi serta senyawa bioaktif yang terdapat di dalamnya, salah satu inovasi yang menjanjikan untuk dikembangkan adalah chewable herbal yang terbuat dari ekstrak daun kelor. Produk kunyah fungsional ini dapat diformulasikan menggunakan ekstrak kelor berkonsentrasi tinggi yang dikombinasikan dengan pemanis alami rendah gula, pengikat nabati, dan rasa buah agar lebih diterima oleh beragam kelompok usia.
Chewable ini dirancang untuk memberikan efek imunomodulator, antioksidan, dan peningkat energi sehari-hari dengan cara yang praktis, modern, dan mudah untuk dikonsumsi tanpa membutuhkan proses seduhan atau pengolahan. Dengan kemasan yang ringkas, tetap stabil saat disimpan, dan cocok untuk anak-anak hingga orang dewasa, chewable herbal kelor bisa menjadi terobosan yang signifikan dalam menyediakan nutrisi mikro bagi masyarakat secara luas. Inovasi ini memiliki potensi besar untuk menambah nilai komoditas kelor dan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di sektor pangan fungsional berbasis bahan alami.
Gambar 2. Chewable herbal dari ekstrak daun Kelor
Proses pembuatan chewable herbal dari daun kelor diawali dengan pengambilan daun kelor segar yang selanjutnya dikeringkan pada suhu rendah (40-50°C) untuk mengawetkan vitamin dan senyawa bioaktifnya. Setelah tahap pengeringan, daun tersebut digiling menjadi bubuk halus atau diekstraksi dengan pelarut food grade seperti campuran etanol dan air untuk menghasilkan ekstrak yang kaya akan antioksidan.
Ekstrak ini kemudian dipadatkan dan dicampurkan dengan bahan yang memberikan tekstur seperti pektin atau gum arab, pemanis alami yang rendah kalori seperti stevia, serta perasa buah untuk meningkatkan selera. Campuran tersebut selanjutnya dibentuk menjadi tablet kunyah (chewable) menggunakan teknik cold compression agar senyawa bioaktif yang sensitif terhadap panas tetap terjaga stabilitasnya selama proses.
Pada tahap akhir, dilakukan pencetakan dengan diameter sekitar 8 mm. Proses penekanan dilakukan dengan tekanan sedang, sehingga tablet kunyah yang dihasilkan cukup padat tetapi tetap mudah untuk dikunyah oleh konsumen (Syukri 2018).
Peran saya dalam STE[A]M untuk dua dekade mendatang akan berorientasi pada pengembangan produk makanan bergizi dari kelor, khususnya chewable herbal berbasis kelor sebagai suatu terobosan nutrisi modern. Dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti sains, teknologi, teknik, dan inovasi, saya bertekad untuk menciptakan tablet kunyah kelor yang tidak hanya stabil dan aman untuk dikonsumsi, tetapi juga lezat, dengan tetap menjaga elemen bioaktif penting seperti flavonoid dan senyawa fenolik.
Produk ini dirancang tidak hanya sebagai pilihan pemenuhan nutrisi, tetapi juga sebagai solusi kesehatan yang praktis bagi masyarakat, khususnya di daerah dengan akses pangan yang minim. Prinsip keberlanjutan menjadi landasan utama, mulai dari pemanfaatan kelor yang ditanam oleh petani lokal, metode produksi yang hemat energi, sampai penerapan kemasan yang ramah lingkungan.
Melalui pengembangan yang berlandaskan penelitian ilmiah dan pendekatan STE[A]M yang menyeluruh, saya berharap chewable herbal kelor dapat menjadi produk yang diterima secara luas, membantu mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan inovasi, pengetahuan, dan pandangan berkelanjutan, saya ingin menjadi bagian dari generasi yang menjadikan kelor sebagai simbol pangan fungsional Indonesia menuju tahun 2035. (Red)
DAFTAR PUSTAKA
Ghaly R. 2023. Analisis Aktivitas Antioksidan Senyawa Flavonoid dari Daun Kelor (Moringa Oleifera) Menggunakan Teori Fungsi Kerapatan [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Hasanah N, Susilo J, Oktianti D. 2017. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk) dengan Metode DPPH. J. Gizi dan Kesehatan. 9(21): 97-102.
Khoerunisa P, Fizriani A, Tubagus R. 2024. Chemical Characteristics and Acceptability of Bagelen Dry Bread with the Addition of Moringa Leaf Flour (Moringa Oleifera Lam). J. FoodTech Pangan. 7(1): 16-25. doi: https://dx.doi.org/10.26418/jft.v7i1.79426.
Peñalver R, Martínez-Zamora L, Lorenzo JM, Ros G, Nieto G. 2022. Nutritional and Antioxidant Properties of Moringa oleifera Leaves in Functional Foods. Foods. 11(8):1-13. doi: https://doi.org/10.3390/foods11081107.
Rahayu I, Timotius KH. 2022. Phytochemical Analysis, Antimutagenic and Antiviral Activity of Moringa oleifera L. Leaf Infusion: in Vitro and in Silico Studies. Molecules. 27(13):1-14. doi: https://doi.org/10.3390/molecules27134017.
Ramadhan NU, Ariastuti R. 2024. Uji Kandungan Fenolik Total Ekstrak Etanol Daun dan Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera). J. Farm. Kesehat. Sains (FASKES). 2(1): 136-143. doi: https://doi.org/10.32665/faskes.v2i1.3211.
Syukri Y. 2018. Teknologi Sediaan Obat dalam Bentuk Solid. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Wahid RSA, Raudah S. 2021. Uji Senyawa Komponen Bioaktif dan Kadar Total Flavonoid Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera). J. Tek. Lab. Medik Borneo. 1(1): 1-7. doi: https://doi.org/10.35728/jutelmo.v1i1.836.








