KabarKetahanan PanganTeknologiTerkini

Aplikasi Teknologi Cold Plasma Sebagai Metode Non-Termal Meningkatkan Umur Simpan dan Kualitas Buah Segar

Oleh: Putri Risfa Melinda, Mahasiswa Magister Ilmu Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

KETAHANAN PANGAN, biem.co – Permasalahan utama pada buah segar yang memiliki kadar air tinggi dan aktivitas respirasi pascapanen yang masih berlangsung, sehingga mudah mengalami kerusakan akibat mikroorganisme, reaksi enzimatis, dan faktor lingkungan selama penyimpanan. Metode pengawetan konvensional berbasis panas dinilai kurang efektif dalam mempertahankan kualitas buah karena dapat menyebabkan penurunan nutrisi, perubahan warna, tekstur, serta karakter sensori. Kondisi ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji karena muncul kebutuhan akan teknologi pengawetan non-termal yang mampu menjaga keamanan pangan tanpa merusak mutu produk. Cold plasma kemudian menjadi gagasan utama dalam pembahasan karena teknologi ini mampu menghasilkan spesies reaktif seperti ROS dan RNS yang efektif menginaktivasi mikroorganisme tanpa meningkatkan suhu secara signifikan. Selain mampu memperpanjang umur simpan buah, teknologi ini juga dinilai berpotensi mempertahankan kualitas nutrisi dan sensori produk. Namun demikian, pembahasan juga memuat berbagai tantangan penerapan cold plasma, seperti belum adanya standarisasi parameter proses dan perbedaan respons antar jenis buah, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengoptimalkan aplikasinya dalam industri pangan.

Pembahasan

Prinsip Kerja Cold Plasma
Cold plasma merupakan teknologi non-termal yang dihasilkan dari proses ionisasi gas menggunakan energi listrik sehingga menghasilkan campuran partikel aktif seperti ion, elektron, radikal bebas, dan molekul bebas. Gas yang digunakan dalam pembentukan plasma biasanya berupa udara, oksigen, nitrogen, atau argon yang kemudian diubah menjadi plasma pada suhu relatif rendah. Berbeda dengan plasma panas, teknologi ini dapat diaplikasikan pada bahan pangan tanpa menyebabkan kerusakan termal yang signifikan. Partikel reaktif yang dihasilkan, seperti reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS), dapat berinteraksi dengan komponen biologis pada permukaan bahan pangan. Interaksi tersebut menjadi dasar mekanisme kerja cold plasma dalam menginaktivasi mikroorganisme serta meningkatkan keamanan pangan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Shill dan Sit (2025), bahwa “cold plasma is a partially ionized gas containing reactive oxygen and nitrogen species”.

Pengaplikasian pengolahan pangan, cold plasma dapat dihasilkan menggunakan beberapa metode seperti Dielectic Barrier Discharge (DBD), plasma jet, dan corona discharge. Metode tersebut memungkinkan pembentukan plasma pada tekanan atmosfer sehingga lebih mudah diterapkan dalam industri pangan. Partikel aktif yang dihasilkan mampu merusak membran sel mikroorganisme, protein, serta materi genetik melalui proses oksidasi. Selain itu, radiasi ultraviolet dan medan Listrik yang terbentuk juga berkontribusi terhadap efek antimikroba dari teknologi ini. Kombinasi berbagai mekanisme tersebut menjadikan cold plasma sebagai teknologi inovatif untuk pengawetan pangan tanpa penggunaan suhu tinggi. Hal tersebut didukung oleh penelitian Barrios-Rodríguez et al. (2021), yang menyatakan bahwa teknologi cold plasma banyak dikembangkan dalam bidang pangan karena kemampuannya dalam proses sanitasi produk pangan.

Efektivitas Cold Plasma terhadap Mikroorganisme
Cold plasma telah terbukti efektif dalam menginaktivasi berbagai jenis mikroorganisme yang terdapat pada bahan pangan, termasuk bakteri, kapang, dan khamir. Senyawa reaktif yang dihasilkan selama proses plasma mampu merusak struktur dinding sel dan membran mikroba sehingga menyebabkan kebocoran komponen seluler. Kerusakan pada DNA juga dapat terjadi sehingga menghambat kemampuan mikroorganisme untuk berkembang biak. Hal ini diperkuat oleh penelitian Wang et al. (2026), yang menyatakan bahwa perlakuan cold plasma dapat menurunkan jumlah koloni mikroba pada permukaan buah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efektivitas cold plasma dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis gas yang digunakan, waktu perlakuan, serta jenis mikroorganisme target. Mikroorganisme dengan struktur dinding sel yang lebih kompleks biasanya membutuhkan waktu perlakuan yang lebih lama untuk diinaktivasi. Kondisi permukaan bahan pangan juga dapat memperngaruhi distribusi plasma dan efektivitas proses dekontaminasi. Cold plasma umumnya lebih efektif pada permukaan bahan pangan dibandingkan pada bagian internal. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Shill dan Sit (2025), bahwa teknologi cold plasma efektif dalam mengurangi kontaminasi mikroba pada permukaan buah.

Pengaruh terhadap Umur Simpan
Penerapan cold plasma pada bahan pangan dapat berkontribusi dalam memperpanjang umur simpan produk Hal ini terutama disebabkan oleh kemampuan teknologi tersebut dalam menurunkan jumlah mikroorganisme pembusuk dan patogen pada permukaan bahan pangan. Penurunan aktivitas mikroorganisme, proses kerusakan biologis dapat diperlambat secara signifikan. Selain itu, cold plasma juga dapat mempengaruhi aktivitas enzim yang berperan dalam proses deteriorasi pangan. Hal ini didukung dan sejalan dengan penelitian Rana et al. (2019), yang menyatakan bahwa teknologi cold plasma merupakan metode non-termal yang menjanjikan untuk meningkatkan keamanan mikrobiologis pada produk segar.

Penelitian pada buah stroberi menunjukkan bahwa perlakuan atmospheric cold plasma dapat meningkatkan stabilitas mikrobiologis selama penyimpanan baik pada suhu ruang maupun suhi dingin. Teknologi ini memungkinkan pengawatan tanpa peningkatan suhu yang dapat merusak struktur bahan pangan. Efektivitas perpanjangan umur simpan juga dilaporkan pada penelitian lain yang menunjukkan bahwa penyimpanan stroberi setelah perlakuan plasma dapat berlangsung lebih lama. Hal ini sesuai dengan pernyataan  Rana et al. (2019), bahwa “the shelf-life of ACP trated strawberry was extended to 5 days at 25 °C and 9 days at 4 °C”.

Pengaruh terhadap Kualitas Nutrisi dan Sensori
Salah satu keunggulan teknologi cold plasma adalah kemampuannya dalam mempertahankan kualitas nutrisi. bahan pangan. Proses ini berlangsung pada suhu rendah, sehingga kerusakan terhadap vitamin, nutrisi, dan senyawa bioaktif relative lebih kecil dibandingkan dengan metode pengolahan termal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlakuan plasma tidak menyebabkan perubahan signifikan pada kandungan nutrisi utama dalam bahan pangan. Paparan plasma yang terlalu lama dapat memicu reaksi oksidatif pada beberapa komponen sensitive. Hal ini sesuai dengan penelitian Barrios-Rodríguez et al. (2021), bahwa perlakuan plasma dapat mempengaruhi komponen nutrisi tergantung pada kondisi perlakuan.

Selain aspek nutrisi, cold plasma juga dapat mempengaruhi karakteristik sensori seperti warna, aroma, dan tekstur produk pangan. Umumnya, perlakuan dengan durasi yang tepat tidak menyebabkan perubahan sensori yang signifikan. Namun dalam beberapa kondisi, reaksi oksidasi dapat menyebabkan perubahan warna atau sedikit perubahan rasa pada produk. Faktor seperti jenis bahan pangan, komposisi kimia, dan intensitas perlakuan plasma sangat mempengaruhi perubahan tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian (Barrios-Rodríguez et al. 2021), yang menyatakan bahwa perlakuan plasma umumnya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap karakteristik sensori produk.

Kelebihan Teknologi Cold Plasma
Cold plasma memiliki berbagai kelebihan yang menjadikannya teknologi yang menarik dalam industri panganmodern. Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan untuk menginaktivasi mikroorganisme tanpa menggunakan suhu tinggi. Hal ini memungkinkan perlakuan pada bahan pangan yang sensitive terhadap panas seperti buah segar. Teknologi ini tidak memerlukan penggunaan bahan kimia tambahan sehingga lebih ramah lingkungan. Teknologi ini juga dianggap sebagai metode minimal processing yang dapat mempertahankan kualitas produk pangan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Shill dan Sit (2025), bahwa “this technology has gained attention as a minimal processing method for fruits”.

Keunggulan lainnya adalah fleksibilitas dalam sistem aplikasinya yang dapat diterapkan pada tekanan atmosfer maupun sistem tertututp. Cold plasma juga dapat digunakan dalam sistem pengemasan aktif untuk meningkatkan keamanan produk selama penyimpanan dan distribusi. Teknologi ini berpotensi mengurangi penggunaan bahan pengawet kimia dalam produk pangan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Shill dan Sit (2025), bahwa meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk pangan yang lebih alami dan minimal proses. Oleh karena itu, teknologi ini dianggap sebagai inovasi baru dalam pengawetan pangan.

Tantangan dalam Penggunaan Cold Plasma
Meskipun memiliki banyak potensi, penerapan teknologi cold plasma dalam industri pangan masih menghadapibeberapa tantangan. Salat satu tantangan utama adalah keterbatasan pemahaman mengenaik mekanisme interaksi plasma dengan komponen pangan yang kompleks. Variasi komposisi bahan pangan dapat mempengaruhi efektivitas proses serta kemungkinan terjadinya perubahan kualitas produk. Standarisasi parameter proses seperti jenis gas, tegangan listrik, dan waktu perlakuan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Hal ini penting untuk memastikan konsistensi hasil dalam aplikasi skala industri. Hal tersebut juga disampaikan Barrios-Rodríguez et al. (2021), bahwa penelitian mengenai teknologi cold plasma masih terus berkembang dalam bidang ilmu pangan.

Tantangan lainnya berkaitan dengan aspek ekonomi dan teknologi dalam implementasi skala besar. Peralatan plasma yang digunakan saat ini masih membutuhkan investasi awal yang relatif tinggi. Integrasi teknologi ini ke dalam sistem produksi pangan yang sudah ada memerlukan penyesuaian proses yang tidak sederhana. Aspek keamanan pangan serta regulasi penggunaan teknologi baru juga menjadi perhatian penting. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dan pengembangan teknologi yang lebih efisien sangat diperlukan untuk mendukung penerapan teknologi ini secara luas dalam industri pangan.

Penutup

Kesimpulan
Cold plasma merupakan teknologi non-termal yang memiliki potensi besar dalam pengawetan buah. Penerapan teknologi ini terbukti efektif dalam menurunkan jumlah mikroorganisme pada permukaan buah sehingga dapat memperpanjang umur simpan produk tanpa menimbulkan kerusakan akibat panas. Penggunaan cold plasma juga menunjukkan pengaruh relatif kecil terhadap kualitas nutrisi dan karakteristik sensori buah apabila diaplikasikan dengan parameter proses yang tepat. Mekanisme kerja cold plasma melibatkan pembentukan spesies reaktif seperti Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS) yang mampu merusak struktur sel mikroorganisme melalui proses oksidasi. Efektivitas proses ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, antara lain jenis gas yang digunakan, durasi perlakuan, tegangan listrik, serta karakteristik bahan pangan yang diproses. Oleh karena itu, teknologi cold plasma dapat menjadi alternatif inovatif dalam pengawetan buah yang mampu meningkatkan keamanan pangan sekaligus mempertahankan kualitas produk.

Saran

  1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk optimasi parameter proses cold plasma.
  2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan kondisi optimal penggunaan cold plasma.
  3. Pengembangan teknologi untuk skala industri untuk meningkatkan aplikasi komersial.
  4. Perlu pengkajian lebih lanjut terkait regulasi dan standar penggunaan cold plasma agar teknologi ini dapat diterapkan secara luas.

 

Daftar Pustaka

Barrios-Rodríguez YF, Reyes CAR, Campos JST, Giron-Hernandez J, Rodríguez-gamir J. 2021. Infrared spectroscopy coupled with chemometrics in coffee post-harvest processes as complement to the sensory analysis. Food Sci Technol. 145 March:1–7. doi:10.1016/j.lwt.2021.111304.

Rana S, Mehta D, Bansal V. 2019. Atmospheric cold plasma ( ACP ) treatment improved in-package shelf-life of strawberry fruit. J Food Sci Technol., siap terbit.

Shill N, Sit N. 2025. Application of cold plasma as a technique for minimal processing of fruits. J Food Prod Process Nutr. 7(43):1–22.

Wang C, Fu Y, Zhang Y, Zhu Y, Li Y, Shi J, Li L. 2026. Cold Plasma Treatment : A Novel Approach for Microbial Inactivation and Shelf-Life Enhancement of Strawberries. J Food Saf Food Qual. 77(1):1–15.

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button