KabarSejarahTerkini

Indeterminasi Buih dan Fosil | Uji coba Kartografi Dinamis Dalam Menonton Presentasi Pertunjukan

Oleh: Peri Sandi Huizche | Mahasiswa doktoral di Pascasarjana ISI Surakarta, sedang menggeluti topik medan sosial sebagai pertunjukan.

PACITAN, biem.co – Seorang pemain berdiri di belakang penonton dengan baju gelap. Mulutnya terbuka, lalu mengucapkan satu kata: “Buih.” Jeda. “Fosil.” Jeda lebih panjang. Di sudut panggung, seorang masuk, duduk bersila, menabuh gong. Ia tidak memukul gong mengikuti irama tertentu, tetapi sesekal —tepat saat atmosfer terasa paling kendur—ia memukulnya. Suara menggelegar, lalu laki-laki yang tadinya diam menjawab dengan kata lain: “Angin.” Gong kembali berbunyi. “Langit.” Gong. “Gelap.” “Guntur”.

Yang Tampak di Mata

Seorang pemain berdiri di belakang penonton dengan baju gelap. Mulutnya terbuka, lalu mengucapkan satu kata: “Buih.” Jeda. “Fosil.” Jeda lebih panjang. Di sudut panggung, seorang masuk, duduk bersila, menabuh gong. Ia tidak memukul gong mengikuti irama tertentu, tetapi sesekali—tepat saat atmosfer terasa paling kendur—ia memukulnya. Suara menggelegar, lalu laki-laki yang tadinya diam menjawab dengan kata lain: “Angin.” Gong kembali berbunyi. “Langit.” Gong. “Gelap.” “Guntur”. Saya duduk di belakang, mencatat di dalam kepala: ada pola, tapi tidak jelas. Lalu pemain lain masuk. Seorang perempuan berjalan perlahan sambil merintih, nadanya naik turun seperti orang yang sedang mengigau. Dari arah berlawanan, seorang lelaki menari dengang estur yang tegas dan gagah, mirip buto atau raksasa?. Sepintas lalu, itu bukan tari sakral yang kaku, namun gerakannya kadang menghentak, kadang lemah seperti wayang yang kehilangan dalang. Ia menyenandungkan dangdanggula (setelah ditanyakan ke Pakar Dalang yang menonton), tembang macapat dengan irama yang seharusnya teratur, tetapi ia menyanyikannya patah-patah, kadang mendahului gamelan, kadang ketinggalan.

Gamelan itu sendiri dimainkan oleh satu orang di sisi kanan panggung. Bunyinya kadangt eratur dalam satu gending pendek, lalu tiba tiba berhenti, lalu hanya satu saron yang berbunyi sendiri, lalu ditabuh keras tanpa pola. Seorang pemain lain—saya sempat tidak melihat dari mana ia muncul—mulai menabrakkan tubuhnya ke sebuah pohon panggung. Sekali, dua kali, tiga kali. Bukan dalam ritme yang sama. Kadang cepat bertubi, kadang lama jedanya. Seorang yang lain dengan mengenakan topi caping di kepala dan tubuhnya dibalut tisu? Mengenakan serpihan kain sebagai rok, seperti boneka sawah pengusir hama?. Ia bergerak amat lambat di radius kecil, hampir tidak berpindah tempat,hanya tangannya yang sesekali mengayun seperti mengusir burung.

Yang paling membingungkan sekaligus memesona adalah seorang pemain yang membawa gulungan wayang beber. Ia membeberkannya perlahan, memperlihatkan gambar aneka wayang yang menumpuk dengan tanah, langit dan peristiwa yang dibangunnya. Ia tidak bercerita, hanya sesekali menggetarkan gambarnya, lalu melanjutkan membeber. Tidak ada urutan yang jelas antara gambar itu dengan apa yang terjadi di panggung. Tubuh Bima kadang mendekati gambar dibeberkan, kadang menjauh. Boneka sawah tetap di tempatnya. Gong berbunyi lagi. Kata “fosil” diucapkan untuk kesekian kalinya. Di sinilah saya mulai kehilangan pegangan. Pertunjukan ini kacau. Atau setidaknya, itulah kesan pertama.

Seorang penonton di sebelah saya berbisik, “Ini nggak nyambung.” Saya mengangguk, tapi di dalam kepala saya mulai bertanya: apakah kekacauan ini sengaja? Apakah ia menyembunyikan keteraturan jenis lain yang tidak biasa kita baca?

Mereka adalah Arko, Adhif, Reni, Dunung, Turah, Kharisma, Sekar, Faris, Mako, dan Bondan yang sore itu mempresentasikan karya untuk ujian novelty-karya di Pacitan.

Membaca Ulang Catatan

Setelah pertunjukan usai, saya membaca ulang catatan-catatan yang saya tulis diam diam di saku ingatan. Saya mencoba menerapkan kerangka yang saya pelajari dari buku Dynamic Cartography karya María José Martínez Sánchez. Buku itu mengajarkan bahwa tubuh, suara, ritme, dan ruang dapat dibaca sebagai sebuah peta dinamis. Bukan peta yang menunjukkan jalan, melainkan peta yang menunjukkan hubungan, proses, dan memori kolektif. Kekacauan, jika kita merelakan kebiasaan membaca narasi linear, justru dapat menjadi sebuah kartografi yang kaya.

Pertunjukan ini, menurut saya, adalah contoh dari apa yang disebut dalam buku sebagai indeterminasi. Berbeda dengan improvisasi  yang bebas tanpa batas, indeterminasi adalah kebebasan di dalam aturan. Pencipta pertunjukan menyusun sejumlah batasan kata kunci, pemicu bunyi, zona ruang—lalu membiarkan para pemain merespon secara spontan namun tetap dalam koridor itu. Kata. “buih”, “fosil”, “angin”, “langit”, “gelap” bukanlah pilihan acak. Mereka adalah medan semantik tentang kepunahan, unsur, dan waktu geologis. Gong tidak dipukul sembarangan; ia merespon akumulasi ketegangan. Gamelan yang kacau mungkin mengikuti aturan internal: setiap kali tubuh menabrak pohon, dua nada dimainkan; setiap kali orang-orang sawah bergerak, satu nada dihentikan.

Saya mulai membaca pertunjukan ini sebagai sebuah score. Dalam buku, Lawrence Halprin mendefinisikan score sebagai simbolisasi proses yang melampaui waktu. Tubuh Bima yang menari dangdanggula patah-patah, misalnya, adalah sebuah gestur yang merespon kata “fosil” yang diucapkan sepuluh detik sebelumnya. Orang-orangan sawah yang bergerak lambat adalah kontras dinamis terhadap tubrukan tubuh cepat ke pohon. Wayang beber yang membeberkan aneka peristiwa adalah lapisan memori yang lebih tua, sebuah palimpsest yang mengingatkan bahwa buih lahir dari laut dan fosil terbentuk dari daratan yang dulunya laut. Semua lapisan ini berjalan bersamaan, tidak sinkron, tetapi saling mempengaruhi.

Saya teringat konsep corpography dalam buku itu: jejak lingkungan yang terinternalisasi dalam tubuh lalu dieksternalisasi sebagai gerakan. Tubuh Bima, yang bergerak seperti orang yang sedang mencari sesuatu, adalah corpography dari narasi “fosil” yang membatu. Rintihan perempuan adalah corpography dari “buih” yang lenyap. Orang-orangan sawah adalah corpography dari praktik pertanian yang menjadi fosil. Dengan kata lain, kekacauan yang tampak di permukaan sebenarnya adalah peta dari proses internalisasi dan eksternalisasi yang terus berulang.

Saya juga menggunakan alat analisis yangkarang disebut Viewpoints dalam buku. Sembilan parameter seperti tempo, durasi, respons kinestetik, pengulangan, bentuk, gestur, arsitektur, hubungan spasial, dan topografi, semuanya hadir di sini. Tempo berubah drastis antara gerak lambat boneka sawah dan tubrukan cepat tubuh ke pohon. Durasi kata “buih” selalu pendek, sementara rintihan panjang. Respons kinestetik terlihat ketika gong berbunyi tepat setelah seorang pemain berhenti bergerak. Pengulangan terjadi pada tubrukan ke pohon, yang saya hitung berlangsung puluhan kali dengan interval tidak teratur. Bentuk gerak Bima melingkar dan vertikal, sementara boneka sawah statis horizontal. Gestur mengusir dari orang-orangan sawah tidak pernah berubah. Sayangnya hubungan spasial antar satu pemain dengan pemain lain belum terbaca dari Topografi panggung, semisal antara simbolisasi wayang beber dengan gerak orang-orangan sawah, sebenarnya bisa memetakan zona “darat” di dekat konteks  tertentu dan zona “laut” di dekat konteks lainnya, dalam zona biner.

Jika kita membuat tabel, semua parameter itu terisi dengan angka dan deskripsi yang konsisten. Itulah yang membuat saya yakin: kekacauan ini terstruktur. Strukturnya tidak berbentuk plot, melainkan berbentuk sistem aturan yang tidak dijelaskan kepada penonton. Kita sebagai penonton tidak diundang untuk “memahami cerita”, tetapi untuk melacak hubungan. Seperti mendetektif yang tidak mencari siapa pembunuhnya, melainkan bagaimana jejak kaki, bau, dan cahaya saling berkaitan. Selain itu, para pemain ini telah membawa kemelekatan identitas yang tegas, mereka bukanlah pemain baru di panggung pertunjukan, mereka adalah orang-orang yang telah lama menghidupi panggung di mana mereka tumbuh. Namun begitu, karya hasil saling respon ini perlu didalami kembali, seperti penyelam, tidak cukup satu kali menyelam untuk menjelaskan keindahan terumbu karang.

Lalu apa yang bisa didapatkan dari konfigurasi yang tampak acak ini?

Saya mendapatkan tiga hal: Pertama, saya mendapatkan pengalaman ruang yang tidak bisa diberikan oleh teater naratif. Saya tidak tahu apakah Bima mati atau hidup, apakahb uih itu nyata atau ilusi, tetapi saya merasakan ketegangan antara tembang dan tubuh yang menabrak pohon, orang-orang sawah yang diam dan vibrasi gong yang menggetarkan, antara nyanyi lirih perempuan dan wayang beber. Ketegangan itu nyata, dan ia mempengaruhi detak jantung saya; Kedua, saya mendapatkan kesadaran bahwa kekacauan adalah bagian dari realitas. Kehidupan sehari-hari kita penuh dengan percakapan yang terlalu rapi justru palsu. Pertunjukan ini jujur; Ketiga, saya mendapatkan metode untuk m embaca: berhenti bertanya “apa maksudnya”, mulailah bertanya “bagaimana ia bekerja”. Begitu saya melakukannya, sub teks muncul: pertunjukan ini mungkin berbicara tentang kepunahan, tentang transmigrasi, tentang kegagalan komunikasi sebagai bentukkomunikasi itu sendiri.

Selesai pertunjukan, perasaan saya terasa ganjil-tumpang-tindih. Saya tidak bisa berceritak epada teman tentang “alur cerita” yang menarik. Yang bisa saya ceritakan adalah tentang gong, tentang tubuh Bima, tentang wayang beber, dan tentang bagaimana semuanya akhirnya masuk akal dengan caranya sendiri. Seperti buih yang meski pecah tetap meninggalkan bekas di pasir. Seperti fosil yang meski mati tetap bercerita tentang kehidupan. Presentasi Pertunjukan ini adalah sebuah kartografi dinamis. Ia tidakm emberi saya peta, tetapi memberi saya kemampuan untuk memetakan. Dan itu, mungkin, adalah hadiah yang potensial untuk dikembang-tumbuhkan oleh mereka yang mementaskan dan menciptakan pertunjukan dengan sungguh-sungguh.(Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button