Film & MusikGekrafsKabarTerkini

Banten Menjadi Pilot Project “Gerakan Sinema Nuswantara” Berbasis Budaya.

KOTA SERANG, biem.co – Sebuah kolaborasi di bidang perfilman, pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif hadir di Provinsi Banten melalui program KITAB NUSWANTARA.

Program yang diinisiasi oleh Tim Lumbung Dongeng Nuswantara (LDN) menunjuk Provinsi Banten sebagai pilot project film layar lebar edukatif yang mengangkat cerita, sejarah, budaya dan kekayaan Nusantara melalui medium sinema.

“Apalagi yang kita angkat adalah tema yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di Banten,” ujar Agustinus Gusti Nugroho atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nugie ditengah kegiatan Open Casting Talenta Banten 2026-2027 yang pertama di Aula Dinas PUPR Provinsi Banten, KP3B, Kota Serang, Kamis (3/9/2026).

Penggagas project film Laras ini mengatakan, filmnya akan dimulai dari Banten karena alasan yang cukup sederhana, yakni sebagai warga asli Banten Nugie merasa mendapat berbagai akses kemudahan dalam melakukan persiapan serta dukungan yang begitu besar dari Pemerintah Daerah (Pemda).

Laras

Menurut Direktur Utama PT Memayu Hayuning Nuswantara, Brama Yudha Prawira mengatakan program yang dikelola oleh production house bernama Lumbung Dongeng Nuswantara (LDN) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten, Gyokai Indonesia, Gekrafs Banten, Sanggar Guriang dan BSM rental. Dirancang sebagai ekosistem sinema yang tidak hanya menghasilkan film, tetapi juga menjadikan film sebagai medium untuk menghibur, mendidik, melestarikan budaya, mengembangkan talenta lokal, serta menciptakan nilai ekonomi kreatif.

“Banten dipilih sebagai pilot project untuk mengembangkan model tersebut. Pelaksanaan program mencakup delapan kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Yudha, sebagai karya perdana, KITAB NUSWANTARA akan memproduksi film layar lebar berjudul LARAS, dengan tagline ‘Menjaga Tanah Leluhur.’ Film berdurasi sekitar 120 menit ini mengusung genre Adventure, Mystery, dan Family, menggunakan bahasa Indonesia dengan sasaran penonton semua umur.

Cerita berpusat pada Laras, seorang siswi SMA di Banten yang tidak pernah menyangka bahwa dirinya merupakan keturunan dari para Penjaga KITAB NUSWANTARA, sebuah warisan yang menyimpan pengetahuan tentang sejarah, ilmu pengetahuan, dan jati diri bangsa.

Ketika sebuah peninggalan bersejarah ditemukan dan mengarah pada perjalanan penuh teka-teki mengunjungi 8 kabupaten/kota, Laras bersama teman-temannya mulai menelusuri berbagai jejak sejarah di Banten. Di sisi lain, organisasi rahasia Amaga Dagaj berusaha menguasai kitab demi menghapus jejak sejarah Nusantara.

Dengan bimbingan Ki Dharma dari Gunung Honje, perjalanan Laras membawa mereka menemukan bagian pertama KITAB NUSWANTARA sekaligus memahami bahwa menjaga warisan bukan sekadar menjaga benda, tetapi juga menjaga identitas bangsa.

Sementara itu, Direktur Kreatif PT Memayu Hayuning Nuswantara, Aby Azy Taufik Rochman mengatakan keunggulan utama KITAB NUSWANTARA terletak pada konsepnya yang menghubungkan produksi film dengan pemberdayaan masyarakat.

Program ini dirancang melalui tahapan :

Open Casting → Produksi → Gala Premiere → Distribusi Bioskop → CSR & Sponsorship → Roadshow 100 Layar → Next Film.

“Open casting dimulai hari ini dan akan dilaksanakan di 8 kabupaten/kota di Banten sebagai bagian dari upaya menemukan dan mengembangkan talenta lokal. Peserta terpilih kemudian mendapatkan pembinaan sebelum mengikuti proses produksi, dengan materi antara lain akting film, olah tubuh, olah vokal, character building, etika produksi, dan dasar perfilman,” terangnya.

Begitu juga dengan Ketua Gekrafs Banten Agung Winarto berharap masyarakat Banten tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diberi ruang untuk terlibat langsung sebagai bagian dari ekosistem perfilman.

“Kolaborasi hexahelix yang melibatkan enam unsur pelaku utama dari berbagai sektor seperti pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, masyarakat dan media informasi, akan menciptakan transformasi menuju ekosistem perfilman dengan inovasi terbuka,” tuturnya.

Inovasi tersebut juga dilakukan setelah produksi, LARAS dirancang untuk mendapatkan distribusi melalui jaringan bioskop nasional dan platform digital, kemudian dilanjutkan dengan program Roadshow 100 Layar Tancap sepanjang Januari-Desember 2027.

Roadshow tersebut ditujukan untuk menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Banten, termasuk sekolah, kampus, desa, komunitas, dan ruang publik yang tidak memiliki atau sulit mengakses bioskop.

Konsep roadshow juga dirancang bukan sekadar pemutaran film. Kegiatan pendukung dapat mencakup bazaar UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi dan literasi film, pentas budaya lokal, serta talkshow dan diskusi.

Agung Winarto mengapresiasi program KITAB NUSWANTARA yang dirancang keberlanjutan melalui pengembangan film di provinsi-provinsi lain, platform digital Nusa Play, festival tahunan, akademi perfilman, roadshow nasional, dan pengembangan intellectual property (IP).

Dalam sambutannya, Yudha menjelaskan project besar Kitab Nuswantara ini membawakan cerita-cerita dongeng yang didalamnya tentu akan bersinggungan dengan berbagai literasi, terutama pada nilai-niai keluhuran yang ada di wilayah masing-masing.

“Termasuk di Banten ini banyak nilai budaya, kuliner dan tempat-tempat sejarah yang bisa kita ceritakan dalam layar lebar. Bahkan Banten ini dulu mempunyai pelabuhan yang sangat besar bertaraf internasional. Itu sangat meanrik dan akan kita ceritakan melalui Laras ini,” pungkasnya.

Pengembangan IP juga diarahkan ke berbagai bentuk, termasuk animasi, game, buku, dan merchandise.

Dengan pendekatan tersebut, Banten diharapkan menjadi tempat lahirnya sebuah model ekosistem perfilman yang dapat dikembangkan ke wilayah Indonesia lainnya.

“Budaya adalah akar, kreativitas adalah kekuatan, keberlanjutan adalah warisan. Bersama, kita bangun industri kreatif budaya yang berdaya saing dunia, ” tutup Yudha. (Red)

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button