CerpenInspirasiTerkini

Suara Jangkrik dan Kenangan pada Mantan

Oleh: Agus Hiplunudin

CERPEN, biem.co – “Istriku, tidakkah engkau merasakan suatu kedamaian, kala dirimu mendengar suara-suara jangkrik yang bersahutan?” tanya Adiwilaga pada Evi.

“Suamiku, aku pun balik bertanya padamu; tidakkah kau merasa terganggu oleh suara-suara jangkrik itu? Sungguh bagiku, suara-suara jangkrik tersebut memekakan telinga, hingga mengganggu dalam pendengaranku, dan aku bisa gila karenanya,” tanya dan pernyataan Evi dengan tegas dan lugas.

Seputar itulah perdebatan suami istri yang baru tiga bulan menikah itu. Masa-masa bulan madu mereka dihabiskan dengan perdebatan yang kira-kira tidak perlu—yakni seputar suara jangkrik.

Kejengkelan Evi terhadap suaminya semakin lama semakin menjadi-jadi, karena Adiwilaga dengan sengaja, ia miara jangkrik-jangkrik yang dimasukkan kedalam sebuah ruas bambu, kemudian ruas bambu tersebut diletakkan di samping kasur tempat mereka bercengkrama, bergumul memadu kasih. Perbuatan Adiwilaga tersebut sangat mengganggu mood Evi, hingga bulan madu mereka yang seharusnya dihabiskan dengan bercintaan, namun malah dihabiskan dengan bersungut-sungut yang terkadang dibarengi dengan beradu mulut—berbantah-bantahan.

Musim pancaroba yang kala malam menimbulkan dingin menusuk kulit hingga tembus kedalam palung tulang telah berakhir, digantikan oleh musim semi yang hangat dan riang, di mana kuncup-kuncup bunga kecubung bermekaran, dan daun-daun padi menghijau di persawahan.

Adiwilaga mengalah pada istrinya, ia membuang ruas bambu yang berisi jangkrik-jangkrik itu. Namun, dengan suatu syarat; Adiwilaga meminta ijin pada Evi bahwa dirinya hendak pulang ke rumah kedua orangtuanya, dan tuk beberapa hari kan menginap di sana—kebetulan rumah kedua orangtua Adiwilaga berada di pinggir persawahan yang memang ruah dengan suara jangkrik, berbeda dengan rumahnya itu yang memang berada di kota dan tentunya sepi dari suara jangkrik. Evi pun mengabulkan permintaan dari suaminya itu.

“Istriku, jika kau mau ikut denganku, kusilakan.”

“Tidak, aku di rumah saja.”

Hari itu juga, Adiwilaga berkemas diri membawa sebuah tas ransel yang dijejali pakaian, tak banyak cing-cong lagi, ia menyalakan sepeda motornya yang telah tersetandar di halaman rumahnya itu, dengan mengendarai sepeda motor tersebut Adiwilaga bergegas menuju rumah kedua orangtuanya—hanya untuk mendengarkan suara jangkrik yang sahut-menyahut di kediaman kedua orangtuanya tersebut.

Malam menjelang, sekitar pukul delapan, Adiwilaga mengurung diri di dalam kamar, ia duduk di bibir ranjang, sambil mendengarkan suara jangkrik yang sahut-menyahut, seakan para jangkrik itu sedang saling bicara antara satu dengan yang lainnya. Namun, jelas terlihat telah terjadi perubahan pada raut wajah Adiwilaga, mukanya yang semula sumringah berseri, tetapi kini telah berisi mendung benuansa kesedihan tak terperikan. Tampak pasang mata Adiwilaga berkaca-kaca, selanjutnya air matanya jatuh dari kelopak, membasahi dua bilah pipinya.

Lain halnya dengan Evi, dengan ketiadaan suara jangkrik, ia dapat membaringkan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur empuk dalam kamarnya, tampak pasang mata Evi terpejam, selanjutnya hanya senggal dada Evi yang kentara naik turun—menandakan bahwa dirinya telah tidur terlelap dibuai mimpi-mimpi indah, mimpi yang tentunya tanpa kebisingan suara jangkrik-jangkrik.

*

Tujuh hari sudah Adiwilaga berada di rumah kedua orangtuanya, ia pun merasa telah puas dengan suara-suara jangkrik yang dapat menenangkan hatinya itu. Akhrinya Adiwilaga berpamitan pada ayah dan ibunya, ia kembali ke rumahnya, tuk kembali membersamai istrinya yang mungkin tengah merindukannya setengah mati.

Sesampainya di rumah, Adiwilaga disambut mesra oleh Evi, semur jengkol dan goreng udang makanan favorit Adiwilaga pun segera terhidang di atas meja makan, mereka makan malam bersama, penuh canda juga tawa.

Malam itu, Adiwilaga enggan terpejam, puas dirinya membolak-balikan tubuhnya, namun rasa kantuk itu tak pula merambati pasang matanya. Hal tersebut terjadi karena Adiwilaga merindukan suara-suara jangkrik. Namun, lain halnya dengan Evi, ia dengan segera melelapkan dirinya, tidur dan dibuai mimpi-mimpi indahnya yang kian tak pernah berunjung dan bertepi.

Seminggu sudah Adiwilaga melewati malam-malamnya tanpa kehadiran suara jangkrik, seminggu itu pula ia tak dapat lelap melenakan dirinya, dan hal itu membuat Evi tersentuh hatinya, Evi merasa iba belas kasihan pada suami semata wayangnya.

“Suamiku, kuperhatikan; kau seminggu terakhir ini tak pernah tidur dengan pulas. Aku tahu hatimu gersang tanpa kehadiran suara-suara jangkrik itu. Dan, mulai dari sekarang kubolehkan engkau membawa ruas bambu berisi jangkrik-jangkrik, biar kau dapat merebahkan tubuh dengan lena dan tenang,” lembut suara Evi sambil menatap sayu suaminya yang duduk di sampingnya di bibir ranjang kamar peraduan mereka, kala malam berlalu dan menyisakan sunyi dan sepi.

“Istriku, aku menghargai juga memulyakanmu—yang memang tak menyukai suara jangkrik, istriku aku sadari bahwa kini engkau telah menjadi bagian hidupku, dan karenanya apa-apa yang tak kau sukai, maka aku pun harus berusaha dan mencoba membencinya,” kata Adiwilaga dan mencium kening istrinya penuh kasih.

“Akupun seperti halnya dirimu, dan kau telah menjadi bagian dari hidupku, oleh karenanya; aku harus belajar mencintai segala hal yang engkau sukai.”

Dan, malam itu, merupakan malam yang memiliki arti penting bagi mereka, suatu malam di mana mereka merasakan indahnya makna bulan madu dalam ikatan suci pernikahan mereka—yang nyaris belum pernah mereka rasakan.

Keesokan malam harinya, Adiwilaga membawa sebuah ruas bambu berisi jangkrik-jangkrik kedalam kamarnya, dan disimpan di pojokan samping kasur. Dengan dihibur suara-suara jangkrik itu, tampak pasang mata Adiwilaga terpejam, sebentar kemudian ia tidur dengan lenanya.

Namun, lain halnya dengan Evi, ia nampak resah dan gelisah dengan suara jangkrik-jangkrik itu, dan karenanya pasang mata Evi tak pula dirambati rasa kantuk, bahkan jelas terlihat kedua bola mata Evi berkaca-kaca, sebentar kemudian air matanya menitik dari kelopak.

Seminggu sudah, suara-suara jangkrik itu melenakan Adiwilaga pada malam-malamnya.

“Istriku, aku tahu engkau tak nyaman dengan suara jangkrik-jangkrik itu, dan membuat kau tak dapat tidur terlelap,” kata Adiwilaga pada sebuah malam dalam kamar, selekas dirinya membuang ruas bambu berisi jangkri-jangkrik tersebut.

“Kau benar, suamiku.”

Tampak, mereka saling diam, kiranya mereka sedang saling mendalami perasaan mereka masing-masing. Kemudian Adiwiliga bertutur, ia mencoba keluar dari kebisuan yang memenjarakan mereka;

“Evi, karena engkau kini telah menjadi istriku, dan telah menjadi bagian dari hidupku. Atas karenanya tak layak bagiku menyembunyikan sebuah rahasia pun padamu. Sesungguhnya, suara-suara jangkrik itu, sebuah suara yang dahulu amat disukai oleh dia—mantan kekasihku. Evi maafkan aku, hingga detik ini aku masih merindukannya, dan untuk mengobati rasa rinduku padanya cukuplah suara jangkrik-jangkrik itu sebagai penawarnya.”

Mendengar penjelasan dari suaminya seperti itu, Evi melinangkan air matanya hingga kedua bilah pipinya yang kemerahan kian membasah.

“Suamiku, sebenarnya aku pun telah menyembunyikan sebuah rahasia darimu. Mengenai suara jangkrik-jangkrik itu. Dahulu dia—mantan kekasihku, sangat membenci suara jangkrik-jangkrik, dan karena dia tak menyukai suara jangkrik sehingga aku pun kian membenci suara itu. Atas karenanya aku selalu terganggu oleh suara-suara jangkrik yang sangat kau sukai tersebut. Suamiku, maafkan aku, aku pun hingga kini belum dapat melupakan dia, aku selalu merindukan mantan kekasihku itu.”

“Istriku, lantas bagaimana dengan nasib pernikahan kita? Tubuh kita bersatu setiap waktu, namun sebenarnya hati kita tidak pernah saling bertemu.”

***

Yogyakarta, 27 April 2016-Rangkasbitung, 12 Desember 2025

 

Agus  Hiplunudin,1986  lahir  di  Lebak-Banten,  adalah  lulusan  Fakultas  Ilmu Sosial  dan  Ilmu  Politik  Universitas  Sultan  Ageng  Tirtayasa  dan pada April 2016 telah menyelesaikan studi di sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kini bergiat sebagai dosen di IKNUS (Institut Kemandirian Nusantara). Cerpennya telah tersiar pada berbagai media massa di antaranya Swarasa Sastra, Majalah Sagang, Koran Madura, Satelit News dan lainnya. Adapun karya penulis yang telah diterbitkan yakni:

  1. Kumpulan Cerpen Edelweis yang Merindu 2019, Spektrum Nusantara
  2. Kumpulan Cerpen Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut 2019, Spektrum Nusantara
  3. Kumpulan Cerpen Uke Damarwulan, Guepedia Publisher, 2019
  4. Kumpulan Cerpen Babi Ngepet, Guepedia Publisher, 2019
  5. Kumpulan Puisi Nya 2019, Spektrum Nusantara
  6. Novel Dendam yang Indah 2018, Jejak Publisher
  7. Novel Orang Terbuang 2019, Spektrum Nusantara
  8. Novel Derita 2019, Spektrum Nusantara
  9. Novel Cincin Perak 2019, Spektrum Nusantara
  10. Novel Awan 2019, Spektrum Nusantara.

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button