INSPIRASI, biem.co – Informasi adalah minyak baru (new oil), demikian Yuval Noah Harari membuka bukunya yang berjudul “Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI” ini. Ya, sejak dulu, informasi bukan hanya berperan sebagai pengetahuan an sich melainkan sebagai senjata yang mengubah dan membentuk peradaban manusia. Menurut Harari, sejarah umat manusia yang dijalin oleh sistem politik, sosial, budaya dan ekonomi dibentuk alurnya oleh jaringan informasi.
Seperti diulas dalam buku pertamanya berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind (2015), Harari menyebut bahwa jejaring informasi pertama umat manusia adalah fiksi. Fiksi yang lantas bertransformasi menjadi jaringan fiksi sosial inilah yang lantas membentuk komunitas hingga pada level paling tinggi bernama kekuasaan. Makanya, bagi Harari, informasi tidak identik dengan fakta objektif dan tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak. Bahwa manusia telah membangun jaringan informasi besar-besaran bukan dengan landasan fakta dan akurasi, melainkan melalui mitologi, fiksi, delusi kolektif, dan narasi-narasi yang merekatkan secara psikososial. Maka, dalam kaca mata Harari, informasi tidak semata-mata merepresentasikan realitas objektif, melainkan konstruk atas realitas sosial dan sekaligus sebagai bumbu yang memasak jaringan kekuasaan baik dalam bentuk agama, ideologi, negara, maupun sistem algoritmik dalam era digital. Maka tidak mengherankan apabila kekuasaan, jejaring besar, luas dan kompleks tersebut, dapat diakui jika dilegitimasi sosial, politik, bahkan agama.
Selain mengungkap akar jejaring informasi sejak dulu, Harari juga membedah tantangan besar manusia di era modern. Tantangan itu bernama teknologi dan algoritma yang makin hegemonik. Menurut Harari, perkembangan pesat teknologi telah mengubah sumbu jejaring informasi berupa mitos yang diciptakan oleh akal manusia. Mitos telah mengalami transformasi menjadi apa saja yang lahir dari rahim akal imitasi. Pada belokan ini, manusia kehilangan daya dan kuasanya atas pengendalian informasi. Informasi lahir, membanyak dan menyebar bukan lagi oleh “tangan sadar” manusia, melainkan oleh dominasi algoritma. Manusia kehilangan esensinya sebagai manusia, karena sudah tak lagi mampu melakukan proses pemaknaan sehingga informasi yang menyebar tidak lagi merepresentasikan kepentingan manusia. Dalam karya Harari yang lain, yakni Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2022), contoh raibnya kesadaran dan pemaknaan manusia pada kesadarannya sendiri adalah ketika manusia lebih percaya pada peranti lunak Google Maps saat melakukan perjalanan dibandingkan dengan potensi kemanusiaannya dalam membaca petunjuk arah atau bertanya kepada sesama manusia bila tersesat jalan. Pada level yang lebih luas, dengan dominasi akal imitasi dan nalar kritis yang undur diri, muncullah disinformasi, populisme digital, serta sentralisasi kekuasaan atas data dan informasi.
Sebagai seorang sejarawan kontemporer, Harari tampak luwes menggunakan berbagai disiplin ilmu. Mulai dari filsafat, teori komunikasi, perkembangan teknologi serta kritik budaya digital. Kecakapan menguasai lintas disiplin ilmu tampak pada kemampuannya dalam, bukan hanya menyajikan data-data historis, tetapi juga dalam memprovoksi pembaca untuk melakukan refleksi kritis tentang diri dan eksistensinya, terutama dalam memandang jalin-kelindan informasi, kekuasaan, dan kontrol sosial.
Setelah membaca buku ini, saya memandang bahwa apa yang ditulis Harari sangat relevan dengan fenomena kontemporer, seperti maraknya berita palsu, pengaruh media sosial dalam politik, dan ketergantungan kita pada akal imitasi (kecerdasan buatan). Setelah ini, saya menjadi skeptis. Setiap informasi saya yakini tidak pasif dan berdiri sendiri. Informasi adalah jaringan atas kepentingan dan kekuasaan yang dilegitimasi oleh mitos yang telah tertanam dalam DNA yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Buku ini, menurut saya, adalah pengingat kepada kita untuk tetap menjadi manusia yang beradab dengan etika sebagai suluhnya. (Red)








