Surat Mel
Surat ini kubuat kala hatiku lengang
Bagai pohon tanpa daun
Bagai taman tanpa bebungaan
Surat ini kubuat kala langit tak lagi beratap
Kala bumi tak lagi bertanah
Kala laut tak lagi berair
Seperti cintaku yang mustahil kugenggam
Seperti rinduku yang tak mungkin kupeluk
kumelamarmu
Kupinang engkau dengan perpisahan
Perpisahan yang tak kunjung kuundurkan
Mulai detik dan hari ini
Selamat tinggal.
Surat ini belum rampung kutulis
Sebab;
Darahku telah tak tersisa
Kulitku telah mengelupas
Dan air mataku telah kerontang.
Banten, 2026
Kekasihku
Sepi dan sunyi jika engkau tak di sampingku
Tawa dan air mataku telah menjadi milikmu
Dan aku bagai angin puting beliung yang berputar-putar di tengah gurun
Lelah mencari tempat berpulang
Lelah mencari tempat bersinggah
Akhirnya musnah dan lenyap
Akhirnya sepi dan senyap
Dan itu cukup, aku, dan kamu yang tahu.
Banten, 2026
Pendulum Rindu
Paling tidak
Pada suatu hari kelak
Engkau tak lagi mampu mengelak
Bahwa aku pernah hadir dalam hatimu yang bersinar bagai perak
Suatu hari nanti
Engkau akan mencari
Sesuatu yang telah hilang dari sanubari
Dan yang hilang itu adalah aku yang tersimpul dalam cinta sejati
Bila
Suatu masa
Engkau merasa
Dalam renungan cinta
Bahwa tak ada yang lain yang bertahta
Dan yang bertahta itu adalah aku yang tinggal kenang dalam rasa
Perlahan engkau pasti’akan mengenang
Saat cinta kita sandang
Semua hanya kenang
Telah hilang
Hilang
Yogyakarta, 9 September 2014-2016
Berisi Rindu
Sial dan keberuntungan setipis kulit ari
Cinta dan kebencian setipis kulit bawang
Rindu dan dendam setipis iris mata
Sesali, apa yang perlu kau sesali
Tangisi, apa yang perlu kau tangisi
Sebab bahagia dan derita seakrab gigi dengan lidah
Sial berisi keberuntungan, keberuntungan berisi sial
Cinta berisi kebencian, kebencian berisi cinta
Rindu berisi dendam, dendam berisi rindu
Semuanya berpasangan seperti dua bibir yang menjadikan mulut
Yogyakarta, 19 Oktober 2015-2026
Laron
Senja menjelang
Jutaan laron ke luar dari liang
Membenjiri angkasa
Mengenyangkan perut burung pemangsa
Ditangkapi anak-anak tuk makanan unggas atau umpan ikan
Laron yang terbang
Segera melepas dua sayapnya
Segara saling bertemu dengan pasangannya
Dengan cara berjayak pantat mereka berjalan bersama
Mencari tempat yang lebab
Tuk segera membuat koloni baru
Yogyakarta, 20 Oktober 2015-2026
***
Agus Hiplunudin lahir di Lebak-Banten, adalah lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan telah menyelesaikan studi pada sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kini bergiat sebagai dosen IKNUS (Institut Kemandirian Nusantara). Cerpennya telah tersiar pada berbagai media massa di antaranya Swarasa Sastra, Majalah Sagang, Koran Madura, Satelit News dan lainnya. Adapun karya penulis yang telah diterbitkan diantaranya:
- Kumpulan Cerpen Edelweis yang Merindu 2019, Spektrum Nusantara
- Kumpulan Cerpen Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut 2019, Spektrum Nusantara
- Kumpulan Cerpen Uke Damarwulan, Guepedia Publisher, 2019
- Kumpulan Cerpen Babi Ngepet, Guepedia Publisher, 2019
- Kumpulan Puisi Nya 2019, Spektrum Nusantara
- Novel Dendam yang Indah 2018, Jejak Publisher
- Novel Orang Terbuang 2019, Spektrum Nusantara
- Novel Derita 2019, Spektrum Nusantara
- Novel Cincin Perak 2019, Spektrum Nusantara
- Novel Awan 2019, Spektrum Nusantara.








