TANGERANG, biem.co – Transformasi digital dan penguatan ekonomi syariah menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Shafara dan Digiwara Festival 2026 yang resmi dibuka Gubernur Banten, Andra Soni, di Bintaro Jaya Xchange Mall, Jumat (22/5/2026).
Festival yang digelar Bank Indonesia tersebut menjadi upaya memperkuat daya saing UMKM dan industri halal di Provinsi Banten melalui pengembangan ekonomi syariah dan percepatan digitalisasi transaksi.
Dalam sambutannya, Andra Soni mengapresiasi sinergi yang terus dibangun Bank Indonesia Banten bersama pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan pelaku industri dalam memperkuat perekonomian daerah.
Menurutnya, ekosistem ekonomi syariah di Banten terus menunjukkan perkembangan positif, mulai dari sektor makanan halal, fesyen muslim, pesantren, hingga layanan keuangan berbasis syariah.
“Momentum ini menjadi langkah strategis bersama untuk meningkatkan daya saing UMKM dan industri halal agar semakin inovatif dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” ujar Andra.
Ia juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 2024, ekonomi Banten tumbuh sebesar 4,7 persen dan meningkat menjadi 5,37 persen pada 2025.
“Target akhir tahun 2026 diproyeksikan mencapai 5,9 persen, karena dalam RPJMD kami menargetkan pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 6 persen,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa, menjelaskan bahwa tahun ini menjadi kali pertama Shafara dan Digiwara digabung dalam satu rangkaian kegiatan.
Menurutnya, Shafara berfokus pada pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, sedangkan Digiwara diarahkan untuk mempercepat digitalisasi ekonomi daerah.
“Penggabungan ini memberikan mutual benefit. Banyak transaksi syariah saat ini sudah dilakukan secara digital. Apalagi Banten dikenal sebagai salah satu digital province di Indonesia,” ujarnya.
Ameriza juga menegaskan bahwa BI Banten mendorong pemerataan digitalisasi hingga ke wilayah selatan Banten melalui sistem penilaian Digiwara Award berbasis rasio, bukan sekadar volume transaksi.
“Kami menggunakan rasio transaksi nontunai dibanding total pendapatan daerah. Jadi bukan berdasarkan besar kecilnya ekonomi daerah, tetapi effort pemerintah daerah dalam memperluas digitalisasi,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, BI Banten turut meluncurkan program percontohan bersama Masjid Raya Bintaro Jaya untuk menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Program tersebut mencakup wakaf produktif berbasis aplikasi yang memungkinkan dana wakaf digunakan sebagai modal usaha bergulir bagi UMKM. Dalam waktu kurang dari satu bulan, program tersebut berhasil menghimpun dana Rp70 juta di Tangerang Selatan dan lebih dari Rp100 juta di Kabupaten Tangerang.
Selain itu, BI Banten juga menjalankan program penguatan UMKM berbasis ekosistem masjid serta meluncurkan program 1.000 Masjid dengan Kencleng Digital bekerja sama dengan Bank Muamalat Indonesia melalui sistem pembayaran berbasis QRIS.
Shafara dan Digiwara Festival 2026 sendiri menargetkan transaksi langsung sebesar Rp3,1 miliar dan diharapkan mampu melampaui capaian omzet tahun sebelumnya yang mencapai Rp11 miliar.
Kegiatan tersebut diikuti 61 booth yang terdiri dari 18 booth lembaga keuangan syariah, 35 booth UMKM, dan 8 booth kopi. Selain itu, hadir pula Jawaramart yang menampilkan produk dari 114 UMKM asal Banten.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BI Banten yang kembali memilih Tangerang Selatan sebagai lokasi penyelenggaraan festival.
Ia mengatakan Pemerintah Kota Tangerang Selatan saat ini terus mendorong digitalisasi layanan publik, termasuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui QRIS dan sistem transaksi nontunai.
“Kami siap mendukung penuh program Gubernur dan BI agar Banten, khususnya Tangerang Selatan, menjadi percontohan nasional dalam digitalisasi dan ekonomi syariah,” tandas Pilar. ***








