Kabar

Berawal dari Pembayaran yang Macet, UMKM Banten Ini Berani Menembus Pasar Ekspor

TANGERANG, biem.co – Menembus pasar ekspor bukan selalu soal memiliki modal besar atau kapasitas produksi yang melimpah. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), keberanian untuk belajar, menjaga kualitas produk, dan membangun kepercayaan dengan pembeli bisa menjadi langkah awal menuju pasar internasional.

Pengalaman itu dibagikan Susi Julianti dalam bincang-bincang UMKM pada hari kedua Karya Kreatif Banten (KKB) dan Banten Investment Forum (BIF) 2026 di Bintaro Jaya XChange Mall, Tangerang Selatan, Sabtu (10/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Susi berbagi perjalanan mengembangkan usahanya hingga mampu melakukan pengiriman ekspor. Ia mengaku, salah satu hal yang mendorongnya mencari pasar di luar negeri adalah persoalan pembayaran dari pelanggan domestik yang kerap terlambat, bahkan hingga berbulan-bulan.

Bagi usaha yang masih berada pada skala mikro, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena dapat mengganggu perputaran modal dan keberlangsungan usaha.

Pengalaman itu membuat Susi mulai mempelajari peluang ekspor pada 2018–2019. Setelah menjalani proses belajar dan mempersiapkan usahanya, ia akhirnya melakukan pengiriman ekspor pertama pada Oktober 2019.

“Waktu itu saya berpikir, saya harus berani belajar ekspor dan memulai dari awal. Saya tidak ingin selamanya berada dalam kondisi yang sama,” ungkap Susi dalam sesi talkshow yang dimoderatori oleh Shafira Adlina.

Perjalanannya tidak berlangsung instan. Ia harus mempelajari persyaratan pasar internasional, menyesuaikan pola komunikasi dengan pembeli yang berbeda zona waktu, serta memenuhi standar produk yang diminta negara tujuan.

Saat pandemi Covid-19, Susi juga memanfaatkan fasilitas dan dukungan pemerintah untuk meningkatkan kesiapan usahanya, termasuk dalam pengurusan sertifikasi dan pemenuhan standar produk.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengembangkan usaha. Namun, keberanian mengambil peluang perlu diikuti dengan kesiapan memenuhi kebutuhan pasar.

Salah satu hal yang ditekankan Susi adalah pentingnya mengukur kemampuan produksi sebelum menerima pesanan dari pembeli luar negeri.

Menurutnya, pelaku UMKM perlu terbuka mengenai kapasitas produksi agar dapat menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi komitmen pengiriman.

“Kalau ada pembeli yang meminta dalam jumlah besar, kita harus melihat kemampuan produksi terlebih dahulu. Mulai dari jumlah kecil, pastikan produk sesuai dan pembeli percaya, kemudian kapasitas bisa ditingkatkan secara bertahap,” tuturnya.

Strategi tersebut memungkinkan pelaku usaha membangun hubungan bisnis secara bertahap. Ketika kualitas produk terjaga dan kepercayaan pembeli terbentuk, peluang untuk meningkatkan jumlah pesanan pun dapat berkembang.

Susi juga mengingatkan bahwa memasuki pasar ekspor membutuhkan kedisiplinan dan kemauan untuk terus belajar. Pelaku UMKM tidak harus langsung menguasai seluruh proses sejak awal, tetapi perlu bersedia memahami persyaratan dan memperbaiki kekurangan usahanya.

Pandangan serupa disampaikan Abu Amar, Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, yang hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.

Ia mendorong pelaku UMKM untuk melihat ekspor sebagai peluang memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk.

“Pasar Indonesia memang besar, tetapi pasar dunia jauh lebih besar. Karena itu, UMKM perlu berani melihat peluang di luar pasar domestik,” ujarnya.

Abu Amar menjelaskan, ekspor dapat memberikan sejumlah manfaat bagi UMKM, mulai dari memperluas pasar dan mendiversifikasi pelanggan hingga meningkatkan nilai tambah serta memperkuat merek dagang.

Meski demikian, produk yang diminati konsumen lokal belum tentu langsung diterima di pasar internasional. Pelaku usaha perlu memahami karakteristik konsumen di negara tujuan, termasuk preferensi rasa, komposisi, kemasan, dan ketentuan keamanan produk.

Kesiapan lainnya mencakup konsistensi mutu, kapasitas produksi, ketepatan pengiriman, serta kelengkapan legalitas dan dokumen ekspor.

“Ekspor bukan dimulai dengan mencari sebanyak-banyaknya pembeli, tetapi dengan menyiapkan produk kita sendiri. Ketika kualitas dan kapasitas produksi sudah siap, peluang untuk masuk ke pasar ekspor akan semakin terbuka,” jelas Abu Amar.

Ia juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan informasi pasar atau market intelligence untuk mempelajari kebutuhan konsumen dan mengidentifikasi peluang permintaan di negara tujuan ekspor. ***

Editor:

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button