InspirasiOpini

Meski Tanpa Tembakau, Rokok Elektronik Tetap Berbahaya!

biem.co – Akhir-akhir ini vaping atau penggunaan rokok elektronik semakin. Dari anak muda sampai bapak-bapak, semua ramai-ramai vaping. Rokok elektronik dijual di mana-mana, di dalam mall, di pinggir jalan, dengan harga yang semakin lama semakin murah. Rasa yang beraneka ragam yang terkandung di dalam rokok elektronik semakin menarik minat orang-orang yang mencari pilihan lain pengganti rokok batangan biasa. Makanya, rokok elektronik lama-lama semakin digemari. Tetapi, apakah rokok elektronik yang ramai dibicarakan sebagai rokok yang lebih sehat, sama sekali tidak memiliki efek samping bagi kesehatan? Apakah uang lebih yang dikeluarkan untuk membeli peralatan rokok elektronik sebanding dengan berkurangnya risiko kesehatan yang didapat?

 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, rokok elektronik dikategorikan sebagai sistem penyampaian nikotin (senyawa dalam rokok yang menyebabkan ketagihan dan menimbulkan perasaan menyenangkan bagi penikmatnya) elektronik (electronic nicotine delivery systems, ENDS), yaitu alat yang dirancang untuk penyampaian nikotin ke dalam sistem pernapasan ketika tembakau tidak digunakan. Dengan kata lain, rokok elektronik merupakan rokok tanpa tembakau yang memberikan efek kurang lebih sama dengan rokok batangan biasa. Rokok elektronik terdiri dari nikotin serta beberapa zat kimia lainnya termasuk perasa dan air (Polosa et. al., 2013). Zat yang dihirup oleh pengguna rokok elektrik sendiri dihasilkan oleh pemanasan cairan di dalam rokok elektrik. Rokok elektronik sendiri pertama kali diproduksi di Tiongkok pada tahun 2004 (WHO, 2008) dan akhirnya berkembang menjadi produk pengganti rokok biasa yang mendunia.

 

Kemudian, setelah mengetahui apa sih sebenarnya rokok elektronik itu, apa kira-kira pengaruh yang mungkin ditimbulkan oleh benda sekecil itu terhadap kesehatan? Satu hal yang pasti bahwa, pemakaian rokok elektronik tetap menyebabkan kecanduan akan nikotin, bahkan kemungkinan yang lebih kecil untuk berhenti merokok jika rokok elektronik dipakai bersamaan dengan rokok batangan biasa (Fernandez et. al., 2014). Sudah sering kita dengar bahwa segala sesuatu yang berlebihan pastinya tidak baik untuk kita, begitu juga dengan penggunaan rokok elektronik. Ketika penggunaan rokok elektronik diharapkan untuk menjadi alternatif yang lebih sehat dan dapat menghilangkan kecanduan terhadap kebiasaan merokok, dan ternyata rokok elektronik memiliki suatu zat yang kurang lebih memiliki efek yang sama dalam menyebabkan kecanduannya, lalu apa gunanya penggunaan rokok elektronik dalam menghilangkan kebiasaan merokok? Toh, rokok elektronik sebenarnya hanya rokok biasa tanpa tembakau yang dibungkus lebih modern, yang walaupun mengurangi efek buruk bagi kesehatan dari tembakau (Burstyn, 2014), tetap saja menyebabkan kita ‘terlena’.

 

Selain itu, tetap saja ada beberapa efek buruk yang mungkin ditimbulkan oleh rokok elektronik bagi tubuh. Menurut Burstyn (2014) zat kimia lain yang terkandung dalam rokok elektronik, yaitu propylene glycol dan glycerin yang membantu dalam menghasikan nikotin, dapat memiliki efek yang buruk terhadap fungsi dan gejala pernapasan. Bagaimanapun, zat asing yang masuk ke dalam tubuh, baik sedikit ataupun banyak, pasti akan menimbulkan suatu akibat yang kurang baik terhadap tubuh itu sendiri bukan?

 

Selanjutnya, terutama bagi para perempuan, efek dari nikotin itu sendiri tidak baik bagi perempuan hamil dan perempuan dalam masa subur, dalam masa kehamilan ataupun sebelum kehamilan (CDC, 2014). Walaupun belum diketahui efek khusus apa yang disebabkan rokok elektronik terhadap perempuan, ada baiknya jika perempuan tidak menggunakan rokok elektronik sebagai pengganti penggunaan rokok batangan biasa.

 

Akhirnya, jika kita memilih vaping sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan rokok batangan biasa, kenapa tidak sekalian saja kita berusaha untuk berhenti merokok? Selain dapat memberikan keuntungan bagi kesehatan yang lebih besar, juga pastinya dapat menghemat uang untuk pengeluaran yang lebih ‘sehat’. (*)


Artikel ini ditulis oleh Ajeng Nurina Ayuningtyas, mahasiswa S1 program studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia angkatan 2013. Ajeng saat ini aktif sebagai Ketua di organisasi Rumah Panda (Forum Mahasiswa Peduli Kesehatan Reproduksi Remaja) FKM UI. Selain itu, Ajeng juga aktif sebagai relawan di yayasan Bina Antarbudaya (AFS Indonesia). Ajeng pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat pada tahun 2011-2012 dalam program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) dengan mendapat beasiswa penuh dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Selama di Amerika, Ajeng pernah mengikuti seminar Civic Education Workshop di Washington DC yang diselenggarakan oleh American Councils for International Education dan American Civics Center selama seminggu pada bulan Februari 2012. Ajeng juga pernah mendapat Silver Medal di tingkat provinsi (State) pada kompetisi pidato Forensics. 

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *