CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 11)

Episode Jembatan Itu Bernama Sabar

 

Belum baca kisah sebelumnya? Klik di sini!

 

Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Masih mengendap dalam pikiran Adi ayat yang disampaikan dalam kuliah sepuluh menit dari Ustad Aslah sebelum dimulainya shalat tarawih tadi malam.

 

Kalimat tersebut terngiang di telinga dan berlarian dalam benak Adi, sekalipun secara fisik Adi sedang menatap koran untuk menyerap berbagai informasi dan berita yang sedang hangat.

 

Matanya terarah kepada berita seorang pemulung yang sukses menjadi sarjana dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di sebuah intitut teknologi yang ternama di Kota Bandung.

 

Tertulis dengan jelas kisah Wahyudin, sang pemulung tersebut pada berita di halaman depan.

 

Sepuluh tahun lalu, Wahyudin kecil memulai harinya dengan berjalan kaki menyusuri jalan Alternatif Cibubur. Ditemani tetangganya, yang dipanggilnya Bibi Ani, sulung dari tiga bersaudara itu berangkat sekitar pukul 01.00 untuk memunguti sampah.

 

Bocah yang masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar itu pun resmi menjadi pemulung. Sejak itu, Wahyudin menjadi perbincangan para tetangga di sekitar tempat tinggalnya, Kampung Kalimanggis Gang Lame RT1/4, Jatikarya, Jatisampurna, Kota Bekasi, tulis koran itu.

 

Dituliskan juga pengalaman mental Wahyudin yang seringkali menerima cibiran dan hinaan ketika mengatakan bahwa dirinya berniat sekolah hingga menjadi sarjana, sekalipun mencari nafkah sebagai pemulung.

 

Hingga akhirnya, hari ini Wahyudin hanya membutuhkan beberapa semester lagi untuk mengemban gelar MBAT dari kampus tempat dia kuliah magister.

 

Menyimak berita itu, Adi termenung lama, membayangkan perjuangan Wahyudin ditengah kesulitan mengumpulkan biaya sekaligus memelihara semangat agar tetap berkobar untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

 

Sebetulnya, Adi banyak juga mendapat cerita serupa tentang perjuangan seorang anak manusia dalam menjalani cita-cita yang hendak dicapainya.

 

Adi sering mendengar kisah dari Kang Pri, dosen yang dikenalnya ketika masa kuliah dahulu. Salah satunya kisah Kang Pri tentang seorang anak lulusan SMU benama Beni.

 

Kang Pri bertemu Beni untuk pertama kali ketika hendak menuju ruang kerja rekor melihat seorang anak berbaju pramuka dengan mata sendu didampingi ibunya dengan busana yang amat sangat sederhana, bahkan cenderung lusuh.

 

Dengan air mata menetes, sang ibu bercerita tentang kesulitannya untuk mendapat uang, memenuhi persayaratan pedaftaran bagi mahasiswa baru yang diterima melalui jalur tes. Sehingga dia hendak menemui rektor untuk meminta pengunduran batas waktu pembayaran. Karena menurut petugas yang melayani, batas pembayaran uang daftar ulang adalah hari itu, dan jika calon mahasiswa baru tidak melakukan pembayaran maka akan dianggap mengundurkan diri.

 

Mendengar keterangan demikian, berhamburanlah air mata sang ibu, karena dia tahu bahwa menjadi mahasiswa adalah cita-cita yang teramat sangat diinginkan oleh sang anak.

 

Melihat sang ibu menangis, petugas bagian daftar ulang menyarankan agar sang ibu menemui rektor untuk meminta kebijakan agar bisa mengundurkan batas waktu pembayaran untuk dirinya, karena sang Ibu masih berusaha mendapat sejumlah biaya yang dibutuhkan untuk melakukan daftar ulang ulang.

 

“Baiklah, Bu, saya akan berusaha meyakinkan Rektor agar beliau memberikan kebijakan penundaan batas waktu pembayaran,” ucap Kang Pri meyakinkan sang Ibu bahwa dia akan berusaha sebisanya agar batas pembayaran untuk sang ibu tidak ditutup hari itu.

 

Tidak berapa lama setelah Kang Pri masuk ke ruang rektor, dia membawa berita yang menggembirakan bagi sang ibu bahwa batas pembayaran uang daftar ulang.

 

Singkat cerita Beni dapat melanjutkan kuliah di kampus Kang Pri.

 

Namun melihat kondisi ekonomi keluarga Beni yang tidak memungkinkan untuk membiayai uang kuliah untuk semester selanjutnya, rektor berinisiatif menyuruh Beni membantu pekerjaan administrasi di salah satu bagian di kampus, dan dari honor yang diterimanya disisihkan untuk membayar SPP setiap semesternnya.

 

Setiap bertemu Beni di masjid kampus pada waktu shalat, Kang Pri selalu mengagumi katabahan dan kesabaran Beni untuk mengatur waktu antara kegiatan pekerjaan di kampus dengan waktu belajar untuk kepentingan perkuliahan dan tetap menjaga ibadah shalat berjamaah di masjid kampus.

 

Hingga pada akhirnya Beni lulus menjadi sarjana, melanjutkan jenjang pendidikan S2, dan saat ini sudah menyandang gelas akademik magister.

 

“Ternyata kesabaran bisa menolong seseorang untuk meraih cita-citanya,” bisik Adi. “Melalui sabar, seseorang bisa meniti satu per satu episode kehidupan, mengurai setiap masalah yang membelitnya, seraya selalu berdo’a kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan,” batinnya.

 

Wardah datang dari dalam dan duduk di samping Adi. Melihat istrinya datang, Adi melepaskan memindahkan koran dari tangannya ke atas meja. Diusapnya matanya berapa kali, menandakan matanya mulai lelah memebaca beberapa tulisan dari tadi.

 

“Baca berita apa, Pak? Keliatannya serius sekali,” ucap Wardah.

 

“Ternyata, Bu, sabar itu adalah nama sebuah jembatan yang menghubungan sebuah perjalanan sejak dari cita-cita hingga tercapainya cita cita tersebut,” ucap Adi dengan nada tegas.

 

“Apa, Pak? Kok tiba-tiba bicara soal sabar? Ibu kan tadi nanya lagi baca berita apa?” yanya Wardah dengan wajah kebingungan, karena tidak mengerti dengan pernyataan suaminya itu.

 

“Ya sudah, nggak apa-apa, kok, Bu. Ayo kita siap-siap ke kantor untuk urusan DIO,” jawab Adi sekenanya.

 

“Ealaaah… ibu masih bingung dengan kata-kata Bapak tentang sabar, jeh!” balas Wardah dengan raut wajah makin bingung, ditinggal Adi masuk ke dalam rumah untuk bersiap mengurus Diklat Interaktif Online (DIO) sebagaimana undangan yang diterimanya hari kemarin.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button