OpiniReview

Film sebagai Media Promosi Daerah

Oleh Darwin Mahesa

 

Film sebagai kesenian modern

Keanekaragaman budaya Banten mencerminkan kepercayaan masyarakat setempat serta dipengaruhi dengan unsur-unsur agama Islam, sehingga identitas sosial budaya masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat Banten yang religius. Masyarakat dan kebudayaan Banten memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri yang membedakan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Keunikan tersebut menjadikan sebuah modal bagi Banten untuk dapat diperkenalkan kepada masyarakat umum, hal ini menjadi daya tarik mempromosikan daerah selain tempat wisata alam yang dimiliki Banten.

 

Keunikan budaya Banten dapat dilihat dari berbagai macam kesenian yang dimilikinya baik tradisional atau pun modern. Kesenian tradisional, misalnya upacara adat, ritual keagamaan, kesenian debus, dan lainnya. Sedangkan kesenian modern seperti musik, film, hingga saat ini masih bertahap untuk berkembang yang dilakukan oleh kelompok kelompok seni di berbagai kabupaten dan kota. Kegiatan kesenian dilakukan oleh masyarakat Banten yang percaya bahwa kesenian merupakan bagian dari budaya dan menjadi sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain mengekspresikan rasa keindahan, kesenian juga mempunyai fungsi lain seperti dapat mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat.

 

Film merupakan salah satu kesenian modern. Film adalah gabungan dari beberapa potongan gambar yang disatukan dan dapat bergerak bebas dari adegan ke adegan yang lainnya, serta memiliki rangkaian cerita yang dapat menarik penontonnya. Film dibuat dengan arahan sutradara, selain itu ada juga beberapa elemen yang turut dalam membangun sebuah film, antara lain artistik, pencahayaan, dan tentu saja pengaruh kamera. Dalam proses pembuatannya, film memerlukan pengambilan gambar yang dinamakan shot. Shot dilakukan dengan menggunakan kamera yang dapat dianalogikan sebagai mata manusia. Saya percaya bahwa seni film memang bisa memengaruhi kehidupan. Memang, film dengan cerita-ceritanya selalu berhasil membuat pikiran kita seolah-olah hilang dari masalah yang kita alami, seperti terbuai oleh adegan, sinematografinya, dan tentunya ceritanya. Bahkan, orang ternama seperti Dahlan Iskan pernah bilang: “Apabila seseorang menonton film, dia akan terpengaruh.” Dan juga seperti kalimat dari buku Deru Napas Di Balik Layar mengatakan bahwa film merupakan media paling efektif untuk menggambarkan dunia dan realitas manusia.

 

Bersama teman-teman dalam komunitas, saya selalu mengampanyekan bahwa film adalah seni yang paling sempurna. Di dalamnya terdapat beragam seni yang dapat disatukan. Film tidak hanya memengaruhi bagaimana kita hidup, tetapi juga cara berpikir kita. Film dapat membuat kita kembali berpikir akan sesuatu yang telah kita lewati. Lewat film, kita dapat mengerti perbedaan budaya. Film menambah pengalaman estetis kita lewat keindahan yang disajikannya.

 

Baiklah, saya tidak akan bicara panjang lebar tentang definisi film, namun saya akan berbicara tentang pentingnya sebuah promosi daerah melalui kesenian, khususnya kesenian film.

 

Promosi suatu daerah

Sesungguhnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mempromosikan daerah agar dikunjungi oleh para wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Tidak semata melalui misi kesenian dan mengikuti pameran pariwisata yang diselenggarakan di luar negeri, atau menggelar event-event internasional menyangkut seni dan budaya—yang terkadang promosi itu menimbulkan polemik di berbagai media sosial. Promosi pariwisata kerap dilakukan lewat ajang-ajang trade and consumer show. Sejumlah event yang digelar di luar negeri itu biasanya menampilkan produk-produk dan budaya Indonesia. Misalnya, untuk menggaet pasar ASEAN, kita mengikuti ASEAN Tourism Forum (ATF). Lalu, untuk seluruh dunia, promosi bisa dilakukan di Internationale Tourismus-Borse (ITB) Berlin. Sedangkan untuk pasar Asia, ada ajang MATTA Fair di Malaysia,  ITB Asia di Singapura, dan CITM di Tiongkok.

 

Ada bentuk promosi lain yang sama pentingnya untuk dilakukan. Mempromosikan keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia yang sangat menarik dapat diwujudkan lewat sebuah film. Siapa yang tidak i tertarik datang ke Pulau Dewata setelah menyaksikan seorang bintang Hollywood seperti Julia Roberts berjalan di antara pematang sawah di Bali dalam film Eat, Pray, Love? Sejak pemutarannya di seluruh dunia, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali ingin melakukan napak tilas lokasi tersebut. Syuting film yang juga dibintangi aktris senior Christine Hakim itu mengambil lokasi di Ubud dan Gunung Kawi, Tampak Siring, Bali.

 

Beberapa sineas Tanah Air pun sebenarnya pernah melakukan hal itu. Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, dua sosok pembuat film idealis, telah membuat beberapa film yang menekankan pada tampilan gambar alam Indonesia dengan pesona wisata daerah yang sudah menjadi ciri khas lewat film bertema anak-anak seperti Denias, Senandung di Atas Awan (2006) dan Di Timur Matahari (2012) yang menampilkan betapa eksotisnya alam Papua beserta budayanya yang masih asli. Sebuah film dengan lokasi syuting di Lombok bertajuk Leher Angsa (2013) yang dianggap sebagai salah satu tempat terindah yang dimiliki Indonesia dengan sungai besar dan air terjun yang alami. Untuk skala domestik, dari sisi penjualan tiket bioskop, sejumlah film ini tergolong berhasil. Meski film semacam Denias, Senandung di Atas Awan pernah diikutkan dalam festival film internasional, namun gaungnya belum terasa kuat untuk mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Papua.

 

Barulah pada film Laskar Pelangi yang kuat pengaruhnya dalam mempromosikan pariwisata Indonesia, khususnya daerah Belitung. Untuk pasaran domestik, film yang diadaptasi dari novel laris karya Andrea Hirata ini merupakan salah satu film terlaris sepanjang masa di Indonesia dengan hampir 5 juta penonton. Pada tingkat internasional pun, Laskar Pelangi mampu menyabet sederet penghargaan seperti The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Film for Chidren di Hamaden Iran, dan masuk nominasi film terbaik di Berlin International Film Festival 2009. Setelah kesuksesan film ini, daerah Belitung mendadak ramai dikunjungi para wisatawan yang telah menonton film tersebut.

 

Meski bergenre action dengan adegan baku-hantam yang berdarah-darah dari awal hingga akhir, film The Raid karya Gareth Evans pun sangat berhasil mengangkat seni budaya Indonesia sehinga terkenal ke kancah internasional, yaitu seni bela diri pencak silat. Film yang dibintangi aktor laga Iko Uwais terbilang sangat sukses baik di dalam maupun di luar negeri. Film yang tergolong ‘sangat keras’ menjadi buah bibir para kritikus film dunia, dan masuk di deretan teratas film yang diputar di bioskop-bioskop Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

 

Film di Banten

Perkembangan film di Banten bermula dari munculnya film-film indie dari komunitas di beberapa wilayah, kemudian muncul festival film yang digelar para mahasiswa, sampai lahirnya sineas Banten yang membuktikan berprestasi dalam pembuatan film di nasional. Bukan tidak mungkin bahwa sebuah provinsi yang telah berusia 16 tahun ini dapat bersaing dengan Yogyakarta ataupun Bandung yang notabene kedua kota tersebut sudah sangat akrab dengan karya film. Lebih-lebih pemerintahan mereka yang sangat mendukung dengan memberikan kontribusi program, ruang, bahkan fasilitas kepada pegiatan seni film. Tentu, hal tersebut sangat mungkin bisa terjadi di Banten, mengingat, saat ini, provinsi ini dipimpin oleh sineas ternama. Namun apa daya, kenyataan justru jauh panggang dari api. Bioskop-bioskop di Banten dapat dihitung dengan jari, terlebih di kota yang menjadi pusat pemerintahan provinsi ini—Kota Serang. Komunitas-komunitas film bersusah-payah mencari wadah dan tempat untuk dapat diapresiasi, lalu bagaimana film akan maju dan berkembang di Banten?

 

Selama ini, saya jarang mendengar atau mungkin belum ada sebuah usaha dari pemerintah untuk memperkenalkan dan mendokumentasikan kekayaan seni budaya tersebut melalui sebuah film di bioskop, padahal potensi seni budaya di Banten sangat tinggi. Berbeda dengan daerah lain yang berusaha membuat film untuk mengenalkan budayanya seperti dari Pemerintahan Palembang dengan film berjudul Gending Sriwijaya.

 

Banten memiliki masyarakat suku Baduy, komunitas unik dengan sejuta tabu yang tentunya sangat potensial menjadi destinasi wisata, dengan warisan budayanya yang pasti menarik bagi dunia. Dan agar dunia mengetahui mengenai kearifan lokal mereka yang tak ada duanya itu, film bisa menjadi salah satu mediumnya. Selain itu, Banten memiliki pesona Gunung Krakatau yang sudah terkenal seantero dunia, potensi pariwisatanya, sejarahnya yang terkait peradaban kerajaan-kerajaan masa lampau, sampai kekhasan budaya yang tidak dimiliki propinsi lain, seperti pencak silat dan seni debus.

 

Banten juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata yang belum tergarap dengan maksimal, sehingga dalam hal ini film bisa menjadi wahana promosi yang efektif. Salah satunya adalah Taman Nasional Ujung Kulon yang merupakan salah satu daerah konservasi alam dunia yang dicanangkan UNESCO sebagai world heritage site. Sebagaimana kita ketahui, wilayah hutan taman nasional ini merupakan habitat dari badak bercula satu yang hampir punah di dunia.

 

Pantai Carita, Tanjung Lesung, dan Pulau Umang yang terletak di daerah Pandeglang juga merupakan salah satu tujuan wisata favorit bagi wisatawan. Berbatasan dengan beberapa wilayah laut termasuk Selat Sunda dan Samudera Indonesia, Banten memang memiliki pantai-pantai cantik seperti Pantai Sawarna di Banten Selatan, yang sangat cocok dan eksotis untuk di jadikan lokasi syuting film.

 

Namun, membicarakan Banten dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa tak akan lengkap tanpa mengupas mengenai infrastruktur penunjangnya, termasuk sarana transportasi, akses jalan, dan sebagainya. Selain sebagai provinsi di mana Bandara Internasional Soekarno-Hatta berada, posisinya yang tidak jauh dari Ibu Kota Jakarta, menjadikan Banten sebagai penyangga kawasan yang bernilai sosial ekonomi, termasuk menyimpan potensi kependudukan yang tinggi. Dalam hal ini, dikaitkan sebagai fungsi film sebagai medium pendidikan, isu-isu ini tentu saja bisa dikolaborasi menjadi tema fim yang mendidik, mencerahkan, sekaligus mengadvokasi terbentuknya tatanan masyarakat yang lebih baik.

 

Perlu dukungan pemerintah

Pemerintah tampaknya belum sadar bahwa film memiliki pengaruh besar sebagai bagian dari menjual budaya dan wisata. Amerika Serikat sudah menyadari hal itu sejak lama sehingga film-film Hollywood banyak menggunakan nama-nama kota di negaranya sebagai judul film seperti New York I Love You, Viva Las Vegas, Philadelphia, Miami, dan lainnya. Meski negeri Paman Sam sudah begitu dikenal dunia, namun mereka tetap tak berhenti mempromosikannya.

 

Berlapisnya perizinan untuk syuting film tentu sangat menyulitkan para sineas dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kondisi ini jelas sangat merugikan para pembuat film. Apalagi biaya film dan stamina dalam membuat film itu sangatlah tinggi. Produser, sutradara, dan penulis skenario jelas memiliki anggaran yang terbatas. Bila mereka ingin membuat film di 10 lokasi, namun gara-gara izin yang sulit akhirnya menjadi 5 lokasi, ini merepotkan dan menjadi tidak maksimal.

 

Untuk itu, dukungan pemerintah pusat dan daerah pada bidang film sangat diperlukan, termasuk perlunya keterlibatan mereka dalam mengembangkan komunitas film di daerah yang merupakan bibit untuk sarana promosi canggih dalam suatu daerah. Anggaran pemerintah untuk promosi dan belanja iklan pariwisata perlu ditambah. Daerah lain saja rela mengeluarkan anggaran yang sangat besar dengan beriklan dan membuat film, dan mereka berhasil menggenjot jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerahnya. Banten mungkin saja menjadi sebuah daerah seperti Yogya atau Bali yang tak pernah sepi dari wisatawan domestik dan mancanegara.

 

Merupakan mimpi bersama bagi masyarakat yang tinggal di Banten untuk melihat daerahnya lebih baik dan lebih dikenal melebihi batas geografis, sekaligus menghasilkan pertumbuhan yang menguntungkan. Setiap masyarakat bisa melakukan cara-cara independen dan kreatif seperti berkomunikasi melalui media film. Saya berharap, pemerintah bisa lebih maksimal dengan memasukkan unsur budaya dan pariwisata pada kurikulum pendidikan dan lebih menggiatkan promosi pariwisata lewat film. Saya berpendapat, upaya memperkenalkan Banten bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga perlu ditunjang dengan bersatunya komunitas pembuat film di Banten.

 

Banten Muda, masa depan Banten

Kreativitas tanpa batas dari semangat generasi muda dalam berkarya di bidang apa pun perlu mendapatkan ruang yang representatif. Mengingat energi yang luar biasa generasi muda memerlukan penyaluran yang positif untuk meminimalkan perilaku negatif. Banten Muda yang merupakan wadah mengakomodasi segala bentuk kreativitas anak muda Banten, dari mulai peluncuran tabloid hingga portal berita online yang kini sangat melambung namanya, biem.co. Saya melihat, Banten Muda didirikan di atas fondasi kepedulian terhadap perkembangan anak-anak muda Banten. Dengan tagline “Berkarya dan Berbagi Inspirasi”, Banten Muda sukses menggelar acara Banten Muda Award pada 2012 berupa sayembara menulis cerpen tingkat nasional dan Banten Muda Award 2013 berupa pemberian penghargaan kepada kaum muda yang berkontribusi dan menginsiparsi di Banten.

 

Irvan Hq yang merupakan salah satu guru dan motivator saya dalam berkarya pernah berujar, “Ajang penghargaan Banten Muda Award diselenggarakan untuk merangsang anak-anak muda melakukan hal positif, mendorong komunitas dan lembaga lain untuk lebih menghargai prestasi anak muda Banten.”

 

Saya ingin mengimbau, masyarakat Banten khususnya, untuk terus mendukung penuh atas apa yang telah dilakukan Banten Muda. Partisipasi kita untuk membaca biem.co setiap hari, mengirim tulisan, memasang iklan atau advetorial, dan terus bersinergi adalah bentuk dukungan nyata yang harus kita lakukan agar Banten Muda tetap tegak berdiri dan api semangatnya terus berkobar. Dengan adanya Banten Muda, saya berharap, di masa mendatang Banten memiliki banyak sekali sineas-sineas andal dan berprestasi, sehingga dengan sendirinya Banten akan menjadi daerah yang kental dengan teknologi dan tak tertinggal perkembangan zaman tanpa melupakan nilai budaya dan kearifan lokalnya. Saya yakin, semua generasi muda berprestasi yang ada di genggaman Banten Muda adalah masa depan Banten untuk menjadikan daerah yang lebih baik.

Salam sinema!


Darwin Mahesa, lahir di Cilegon, 21 Agustus 1992. Darwin adalah pendiri komunitas Kremov Pictures yang mengantarkannya menjadi film director, editor, dan songwriter. Sarjana Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa juga terlibat sebagai ketua di Forum Komunitas Film Banten (FKFB) serta Komisi Sinematografi Dewan Kesenian Banten (DKB). Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya di antaranya Best Film Director UNTIRTA – Himakom 2012, Best Design Poster Communication Untirta 2012, Best Film Director Islamic Movie Days Universitas Indonesia 2013, Pemuda Inspiratif Bidang Seni Banten Muda Award 2013,  dan  nominator Jingle Apresiasi Film Indonesia 2015. Saat ini, Darwin kerap diundang sebagai narasumber seminar kebudayaan dan perfilman. 

Editor :

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *