InspirasiOpini

Cara Menggandakan Uang

Oleh Imam Baihaqi

 

biem.co — Belakangan ini kita dihebohkan dengan berita seseorang yang mengaku bisa menggandakan uang. Siapa yang tak mau digandakan uangnya?

Sulit dipungkiri, masyarakat kita saat ini begitu mudah tergiur menempuh jalan yang instan untuk mendapatkan uang.

Tak hanya kalangan bawah tentunya. Media massa begitu gamblang menyajikan informasi kepada kita, bahwa kalangan berpendidikan pun tak luput dari pikat sang pengganda uang.

Bicara soal penggandaan uang, saya punya pengalaman yang menarik. Saat itu saya sedang naik Kopaja 86 jurusan Kota-Lebak Bulus, Jakarta. Kebetulan penumpang bus tidak begitu ramai saat itu karena akhir pekan, jadi saya bisa duduk. Seperti kebanyakan angkutan umum negeri kita, sang supir pun tak mau meninggalkan 'ritual’ ngetem–menunggu penumpang penuh. Beberapa detik berselang, seorang pengamun masuk. Saya memerhatikannya dalam tubuh penuh kepenatan.

Tadinya saya mengira sang pengamen akan mendendangkan lagu dangdut, jenis musik Tanah Air yang saya gemari. Dangdut selalu hampir bisa menghibur saya, lebih-lebih dengan lirik-lirik milik Bang Haji Rhoma Irama. Syahdu dan bikin hati luluh.

Sembari menyandarkan bahu, saya perhatikan tingkah pengamen yang sudah berdiri beberapa langkah di depan saya. Kok dia tidak membawa gitar ataupun alat musik yang lain? Saya melihat ada yang kurang darinya bila ingin disebut pengamen.

Rasa penasaran saya makin terusik. Tak lama kemudian, suaranya memecah sunyi di dalam bus.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu… mohon maaf mengganggu sebentar. Saya mau menampilkan trik sulap,” kata pengamen muda itu.

“Oh ternyata mau sulap toh…” aku masih memerhatikannya. Makin penasaran.

Pengamen itu melajutkan aksinya.

“Mohon perhatian… adakah yang punya uang lembaran seribuan? Kalau ada, boleh saya pinjam untuk saya jadikan lima puluh ribu?” tanyanya kemudian.

Diam. Tak seorang pun yang tertarik meladeni pertanyaannya.

“Ayo Bapak… Ibu… ada apa enggak? Bener lho saya nggak bohong, uang seribu bisa jadi 50 ribu,” si pemuda masih terus berusaha menarik perhatian seisi bus.

Namun, penumpang masih enggan menjawabnya.

Bener nih nggak ada yang mau? Jangan nyesel ya nanti! Okelah saya pake uang saya sendiri saja kalau nggak ada yang mau,” timpalnya menyerah.

Pemuda itu pun terlihat sibuk memulai aksi sulapnya. Diam-diam, saya terus memerhatikan.

“Coba perhatikan semua…” ucapnya lantang, “saya punya uang kertas seribu perak. Coba dilihat, ini uang asli kan? Saya lipet,” katanya sembari meliupat selembar uang ribuan di tangannya.

“Saya lipet lagi. Perhatikan baik-baik, saya buka lipatannya… sedikit demi sedikit. Dan… sim bim salabim! Uangnya berubah menjadi lima puluh ribu,” serunya sembari mengibas selembar uang lima puluh ribu.

Namun, seisi bus seolah cuek dan tidak ada yang terkagum dengan aksi sulapnya. Tak mau menyerah, si pengamen muda itu pun menunjukkan uang 50 ribunya ke beberapa penumpang untuk membuktikan keasliannya.

Bener kan saya nggak bohong? Coba tadi ada yang mau saya pinjam uang seribunya, kan sekarang bisa jadi 50 ribu,” si pemuda masih terus mencerocos.

Saya masih memerhatikannya, tanpa kagum, tanpa tepuk tangan.

“Baik, Bapak, Ibu, Saudara semuanya, demikian aksi sulap saya sekadar hiburan untuk menemani perjalanan Anda. Saya minta partisipasinya dari Bapak Ibu sekalian,” si pengamen pun sampai di penghujung aksinya sembil mengeluarkan kantong dan menyodorkan ke penumpang satu per satu.

Saya ternyawa geli dalam hati, kalau bisa mengubah uang seribu menjadi 50 ribu, ngapain harus ngamen, Mas? Mbok ya pilih aksi sulapnya yang lain aja

Kembali ke soal penggandaan uang. Pertanyaannya sama, kalau ada orang yang mengaku bisa menggandakan uang, kenapa dia harus repot-repot membuka jasa penggandaan uang? Ini kan jelas tidak masuk akal bagi orang-orang yang berpikir.

Baiklah, kalaupun orang itu bisa menggandakan uang, uang hasil penggandaannya ‘dicuri’ dari mana? Jelas itu tidak halal. Motif menggandakan uang didasari oleh sifat serakah dan cinta terhadap harta benda, padahal Islam mengajarkan sebaliknya.

Bagi kita orang muslim yang dibekali akal dan iman oleh Allah, kalau mau dapat uang banyak ya harus bekerja, harus berusaha, bukan mengharapkan sesuatu yang instan. Begitu jelas di Alquran dan hadis yang menjadi pedoman hidup setiap muslim, bagaimana Allah dan Rasul-Nya pun menyuruh kita untuk bekerja mencari rezeki dan karunia-Nya.

“Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah dan (seraya) ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian menjadi orang-orang beruntung.” (Q.S. Al Jumuah ayat 10)

Ingin rezeki berlipat ganda? Jelas pula perintah Allah dan Rasul yang meminta kita untuk mengeluarkan zakat dan sedekah.

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. At Taubah ayat 103)

Kata membersihkan dalam ayat di atas berarti pada hakikatnya zakat membersihkan hati dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta. Sedangkan kata menyucikan berarti zakat menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati.

Dengan berzakat maupun bersedekah, Allah berjanji melipatgandakan akan harta, memberikan keberkahan, dan memberikan ketenteraman bagi jiwa yang berzakat dan bersedekah.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah Mahaluas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah ayat 261)

Lalu, buat apa repot-repot menggandakan uang dengan mendatangi dukun atau guru padepokan?

Cukuplah Allah tempat meminta dan bersandar. Lakukan saja apa yang diperintahkan Allah melalui Alquran dan Hadis. Insya Allah, hidup kita akan berkecukupan, berkah, dan jiwa pun akan tenteram.


Imam Baihaqi

Imam Baihaqi, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah.

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *