KabarTerkini

Azyumardi Azra: Islam Indonesia Tak Akan Dikuasai oleh Budaya Islam Impor

PANDEGLANG, biem.co – Menutup 2016, Rafe’i Ali Institute (RAI) menghelat acara disksusi terbatas bertajuk “Banten dalam Jaringan Ulama Islam Nusantara” dengan menghadirkan Azyumardi Azra, guru besar UIN Syarif Hiyadatullah Jakarta sebagai pembicara dan dipandu langsung oleh Neng Dara Affifah, aktivis perempuan sekaligus Dewan Penasihat RAI, di Jaha Labuan, Pandeglang kemarin.

Diskusi dibuka dengan penjelasan Azyumardi Azra tentang historis ulama Banten yang memiliki peran besar dalam dalam khasanah keislaman di Indonesia terutama yang terlembaga dalam pesantren-pesantren.

“Beberapa tokoh seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mansyur merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di level nasional bahkan internasional, terutama karena buah karyanya dalam bentuk “kitab kuning,” terang Azyumardi.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut Azyumardi Azra juga menerangkan mengenai gambaran fungsi pesantren di Banten.

“Jika kita lihat, pesantren itu memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai transmission of Islamic knowledge, maintenance of Islamic culture, dan reproduction of ulama,” jelas Azyumardi.  

Lebih lanjut, Azyumardi  Azra menjelaskan bahwa yang disebut sebagai ulama itu ternyata bukan hanya orang memiliki kompetensi intelektual, namun juga yang berhak dan layak disebut ulama itu harus memiliki kompetensi sosial dan dekat dengan jemaahnya.

Tidak hanya itu, Azyumardi Azra juga membahas tentang karakter Muslim di Indonesia terbagi ke dalam beberapa kategori umum.

“Bisa kita lihat bahwa Muslim di Indonesia isecara umum dalam bidang kalamnya berpatokan kepada Asy-ari dan dalam madzhab fiqih Syafi’ie, sedang dalam corak tasawwufnya berkiblat kepada Al-ghazali,” terang Azyumardi Azra.

Dalam kesempatan itu pula, Azyumardi Azra juga mengemukakan mengenai Islam Nusantara atau yang beliau sebut dengan Islam Wasathiyyah (islam pertengahan) dengan budaya saling berbagi dan saling memberi kasih sayang. Hal ini diperkuat dengan penelitian bahwa secara sosiologis, budaya memberi dan berbagi dengan motif agama menunjukan persentase paling tinggi di antara beberapa negara yang berpenduduk Muslim terbesar, yaitu mencapai 98 persen.

“Dapat kita lihat betapa kultur Muslim di Indonesia yang senang berbagi tertuang dalam upaca-upacara keagamaan yang ramai semisal tahlilan, walimatul khitan, maulidan, dan lain sebagainya,” jelas Azyumardi Azra.

Ayumardi Azra menambahkan, kultur keagamaan itu merupakan salah satu pelopor atau penunjang “social safety line” dalam bermasyarakat, sehingga tersebut di atas menjadi salah satu keunggulan Muslim Indonesia dibandingkan dengan Muslim lainnya di negara-negara lain.

Selanjutnya, sebagai penutup pembahasan, Azyumardi Azra menegaskan bahwa karakter Islam Indonesia ternyata sulit dan bahkan hampir tidak akan terdegradir oleh budaya-budaya Islam impor dari luar negeri.

“Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena budaya Islam seperti yang diserukan wahhabi, syiah, dan yang lainnya terlalu sederhana, kering, serta kurang kompatibel dengan budaya Indonesia,” tutup Azyumardi Azra.

Diketahui, diskusi yang berlangsung dari pukul delapan sampai sebelas malam tersebut dihadiri oleh belasan peserta dari berbagai elemen, yaitu akademisi, mahasiswa, siswa, pustakawan, dan lainnya. (*)

Editor: Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button