OpiniReview

Tb. Maskur ‘Jisung’: Hindari UGD Lewat AIKA

biem.co – Punya kemampuan kreatif tapi bingung bagaimana mengasahnya? Punya kemauan terjun ke dunia kreatif tapi bingung memulainya? Pertanyaan itu pun hinggap di diri saya ketika saya ingin serius menjadi penulis. Tentunya, sobat biem paham yang saya maksudkan, bahwa ternyata kemampuan dan kemauan membutuhkan tindakan terencana agar dua hal tersebut bisa mendukung pengembangan potensi diri, dan pada akhirnya memberi manfaat ekonomi bagi diri kita.

Di tengah kebingungan itu, tetiba saya ditunjukkan jawaban pertanyaan di atas. Saya dikenalkan pada AIKA atau Akademi Indonesia Kreatif yang pada saat itu sedang membuka program beasiswa kepenulisan, saya pun segera mencari referensi mengenai biem.co dan AIKA kepada senior di kampus. Alhasil, saya berani untuk mengajukan diri sebagai salah satu calon penerima beasiswa AIKA.

Proses seleksi pun saya ikuti, mulai dari seleksi administrasi, kemampuan dan wawancara. Hasilnya Alhamdulillah saya diterima sebagai mahasiswa AIKA 2016.

Kini saya sudah usai mengikuti pembelajaran di AIKA, dan saya ingin mengulas mengenai program yang bagi diri saya ‘mencerahkan’ pikiran dan skill saya tentang jurnalistik. Sebelumnya saya ingin menjelaskan AIKA.

AIKA adalah sebuah program pendidikan non formal yang digagas oleh biem.co untuk individu-individu yang berkeinginan terjun ke industri kreatif, AIKA sendiri punya 4 program pendidikan, yaitu kepenulisan, web/Apps developer, multimedia dan desain grafis.

Pada saat diluncurkan, AIKA baru membuka program pendidikan bidang kepenulisan yang saya anggap keren karena di AIKA saya diajarkan bagaimana menjadi jurnalis yang baik; baik dari segi kompetensi maupun perilaku.

Saya mengikuti program ini selama 3 bulan, pembelajaran dilaksanakan setiap Sabtu dan menghabiskan kurang lebih 6 jam per pertemuan. Mahasiswa AIKA digodok menguasai ilmu jurnalistik baku tetapi aplikatif, di setiap sesinya, mahasiswa AIKA dilatih cara menulis berita (straight news), advertorial, product review dan editing. Model pembelajaran yang diterapkan berupa group discussion, mahasiswa dihadapkan pada studi kasus yang membutuhkan jalan keluar seputar kerja-kerja jurnalistik.

O, iya. Berbeda dengan jenis pendidikan pelatihan di tempat lain yang lebih mengutamakan jumlah peserta yang banyak, AIKA hanya berisi 5 mahasiswa saja. Bagi saya langkah ini berani dan tepat, pasalnya saya rasakan sendiri dengan jumlah mahasiswa yang sedikit, ternyata bisa lebih fokus dalam menyerap pengetahuan yang dibagikan.

Begitulah yang saya rasakan selama di AIKA. Tentunya kalau sobat biem punya minat terhadap sesuatu, jangan hanya dipendam karena hanya akan mendatangkan kerugian bagi pengembangan potensi. Nah, kalo sobat biem punya minat untuk dikembangkan dalam bidang kreatif, maka AIKA patut sobat ikuti dan jadi bagian dari keluarga biem.co!

Yang menarik adalah selama pembelajaran, kita mendapat fasilitas yang bisa membuat kita nyaman belajar, disediakan makan siang, snack, WIFI, modul, dan tentunya materi, pengalaman dan juga kawan baru. Program AIKA ini tidak akan menggangu aktifitas sobat yang lain, karena jadwal belajarnya di luar hari kerja, pokoknya AIKA tahu yang saya mau.

Rencananya tahun 2017 ini program pendidikan yang lain akan dibuka, jadi sobat biem, siap-siap dan jangan ragu untuk berjuang menjadi bagian dari AIKA. Hindari Upaya Galau Diri (UGD) karena merasa tidak berbakat atau tidak tahu jalan bekerja di industri kreatif, AIKA hadir sebagai salah satu solusi.  Semangat!

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button