SkriptoriaTerkini

Yang Hilang Dari Bangsa Ini, Cinta

Skriptoria : Ega Jalaludin (Pimpinan Redaksi)


“…..Jangan boleh ia nanti jadi professor atau guru
itu celaka, uangnya tak ada
Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara
supaya tak usah beli beras
karena dapat dari negara”.
(Penggalan bait puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” – W.S. Rendra)


biem.co – Dalam sebuah kesempatan yang berharga bersama kawan-kawan biem.co. Sekali, puisi W.S. Rendra ini pernah saya bacakan. Ini kali pertama saya membaca puisi dihadapan sekian banyak orang. Tidak tahu, cara saya membacanya benar atau tidak. Saya bahkan sempat meyakinkan diri –dari sekian banyak tutorial membaca puisi,– bahwa cara saya membacakan puisi kali ini benar-benar salah. Sangat salah.

Tapi, “puisi itu bunyi”, ucap salah seorang penyair kondang Sapardi Djoko Damono. “Puisi itu bunyi, Ia harus dibunyikan. Maknanya, itu hak denotasi setiap orang”. Tak penting rima dan ritmanya, karena bunyi puisi seperti berlian, cahaya dan maknanya bisa berbeda tergantung dari arah mana kita memandangnya (red: membacanya/mendengarnya).

Saya bukan komentator sastra, apalagi juri lomba puisi. Tapi beberapa diksi dalam puisi ini begitu kritis, lucu, unik, vulgar, bahkan diskriminatif di beberapa baitnya.

Baca puisinya, lalu perhatikan bait ini;

“…..Jangan boleh ia nanti jadi professor atau guru, itu celaka, uangnya tak ada”.
(ini diucapkan oleh pencopet)

“Tapi cinta, Siti, hanya nomor dua. Nomor satu, carilah keselamatan”.
(ini pun diucapkan oleh pencopet)

Kutipan bait pertama membawa kita pada perspektif bahwa guru, bahkan bagi seorang pencopet sama sekali bukan pilihan cita-cita calon anaknya. Pilihlah Polisi atau Tentara, hanya karena dapat beras dari negara. Kutipan bait kedua mengajak kita pada kondisi bahwa cinta tidak lagi menjadi prioritas hidup. Padahal, struktur ketuhanan dibangun atas nama cinta.

Baginya, prioritas utama dalam hidup adalah keselamatan, dan indikator keselamatan dalam hidup (menurutnya) adalah “kekuasaan dan kekayaan”, bukan lagi cinta apalagi kasih sayang.

Dari kedua bait yang tersusun itu saja, secara sederhana (mungkin) dapat saya pahami, bahwa prioritas kehidupan bagi seorang pencopet (saja) adalah “kekuasaan dan kekayaan”.

Pendapat saya tidak bisa dijadikan standar penilaian sastra, tapi itulah yang saya rasakan ketika saya membawakannya.


Catatan ini tidak ada hubungannya dengan pencopet, polisi, tentara, atau W.S Rendra, apalagi pembaca puisi-puisinya seperti Anda. Saya hanya heran, benarkah –berdasarkan ribuan artikel tentang guru yang bisa kita baca di jurnal, opini, narasi atau media informasi lain,– bahwa masalah guru hanya masalah upah dan kompensasi?

Semua pernah mendengar dan membaca rentetan sejarah bagaimana dulu guru menjadi sebuah prioritas penting. Palingkan sejenak ke Jepang. Dalam sejarah Kekaisaran Hirohito, saat Hiroshima dan Nagasaki terbombardir Bom Atom tentara sekutu dan ribuan korban berjatuhan, kalimat yang pertama kali terlontar dari Hirohito adalah “berapa jumlah guru yang tersisa?”.

Bukankah tidak pernah suatu kali dalam sejarah bangsa kita, saat setiap guru gugur dan meninggal, pemerintah kita bertanya, “berapa jumlah guru yang tersisa?”


Dengan konsekuensi yang jelas nyata di zaman ini, jika masalah guru adalah kompensasi semata, maka percayalah, tidak akan ada anak muda yang ingin menjadi guru dan memilih kuliah di Jurusan Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Karena mereka tahu, mereka akan menjadi korban zaman yang konyol.

Percayalah, semua calon guru tahu bahwa konsekuensi menjadi guru adalah kesahajaan, dan tanpa sebuah kemunafikan, –lagi-lagi percayalah,– semua guru pasti berikrar mengabdi pada kemanusiaan.

Coba ajukan pertanyaan pada guru-guru kita. Apakah gajinya kurang? Jawabannya pasti “Ya”.

Lalu kenapa mereka masih bertahan dan mengabdi. Padahal, dengan gaji yang tidak seberapa guru selalu memiliki dua pilihan, “bekerja biasa saja atau sungguh-sungguh” dengan penghasilan biasa saja.
Jawabannya; mereka selalu bekerja dengan sungguh-sungguh demi kita, bangsa dan negara ini, dengan penghasilan yang tak biasa.

Tak masalah berapa gaji yang mereka terima, guru-guru kita selalu datang pagi dan pulang setelah selesai membaktikan dirinya pada bangsa ini.

Lalu, apa yang sudah dilakukan bangsa ini? Tidak ada.
Karena cinta, sudah hilang darinya.
______________________________________
Beberapa pembaca pasti menganggap Skriptoria (Catatan Redaksi) yang saya tulis ini terlambat. Seharusnya ditulis kemarin (25/11) dimana hari guru diperingati. Begitulah bangsa ini, saya dan kita. Untuk guru, kita selalu terlambat, bahkan dalam sebuah tulisan.

Selamat Hari Guru.
Semoga cinta kembali pada bangsa ini.

Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar