Skriptoria

Skriptoria: Filosofi Radio; Sejarah, Harapan dan Anugerah

Kita punya sejarah untuk dijadikan pelajaran, harapan untuk dikejar dan anugerah untuk disyukuri

Skriptoria: Jalaludin Ega (Pimpinan Redaksi)

Edaran Bumi pada sumbunya memiliki kecepatan sekitar seribu mil per jam. Kecepatan itulah yang kemudian menghasilkan malam dan siang dengan ukuran waktu dua puluh empat jam. Tentu saja ini bukan kebetulan, ini adalah ukuran dan ketetapan terbaik yang disesuaikan dengan kondisi terbaik. Tuhan telah mengaturnya; tak kurang-tak lebih.

Bayangkan seandainya bumi beredar dengan kecepatan seratus mil per jam, maka malam dan siang akan terasa lebih panjang puluhan kali lipat. Dan bila itu terjadi, matahari musim panas akan membakar semua tumbuhan pada siang hari, dan membekukan semua makhluk yang tinggal di bumi pada malam hari.

Demikian sebaliknya, kalaulah bumi kita beredar dengan kecepatan sepuluh ribu mil per jam, maka sehari-semalam akan terasa seperti satu menit; gaya sentrifugal rotasi bumi akan mampu menarik air ratusan meter ke pinggang bumi; kerak bumi akan bergeser; wilayah kutub akan rata sementara khatulistiwa akan meninggi dan gunung-gunung baru akan terbentuk dalam sekejap; bumi akan mengalami gempa yang sangat dahsyat karena lempeng tektonik bergeser dengan cepat dan tentu saja ini akan menjadi bencana bagi kehidupan umat manusia di bumi.

Begitulah kiranya ilustrasi yang ingin saya sampaikan sebagai pengantar tulisan ini. Menjadi dasar berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan aturan dan ukuran tertentu. Tidak lebih-tidak kurang. Agar kita dapat mengambil pelajaran berharga darinya.

Terjadinya malam dan siang, panas dan hujan, tinggi dan rendah, miskin dan kaya, semua telah ditetapkan sebagaimana kadarnya, sama sekali bukan kebetulan. Kadar-kadar itu juga tersusun dengan rapi dalam balutan hukum sebab-akibat, ia tak akan berubah dan berselisih sedikitpun. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadar (ukuran, aturan)(QS. Al Qamar: 49).

Seperti halnya hidup, sebagai manusia, kita sebetulnya memiliki banyak ragam kecerdasan yang dapat digunakan untuk memahami diri dan sekeliling kita. Paling tidak ada tujuh macam inteligensia menurut Howard Gardner (The Unschooled Mind) yang dapat kita gunakan untuk mengamati dan memikirkan tentang ciptaan alam; bahasa, logika matematika, seni, fisik (cipta dan ubah), pemahaman (diri sendiri dan orang lain).

Pemahaman kita terhadap sekeliling kita, disamping mengantar kita menemukan Yang Maha Hebat, juga dapat menggugah batin kita untuk melangkah secara benar sesuai dengan kehendak-Nya melalui upaya mengambil pelajaran (Ibrah) dari apa yang kita kenal dan saksikan.

Cobalah tarik pelajaran dari batu yang demikian kokoh dapat berlubang walau hanya dibasahi air setetes demi setetes; atau dari lebah yang menghasilkan madu dan tak pernah mematahkan dahan kering yang dihinggapinya sekalipun; atau dari semut yang bekerjasama dan tak kenal lelah dalam upayanya memperjuangkan sesuatu.

Konon, Timur Lank (1336-1405 M) Raja Mongol, Cucu dari Genghis Khan (1167-1227), yang menguasai dan menundukkan Iran, Delhi, Damaskus sampai Turki, mampu menarik pelajaran dari seekor semut yang mengangkut muatan besar menuju tebing yang tinggi. Berkali-kali semut itu terjatuh, tetapi ia tidak berputus asa dan memulainya lagi sampai akhirnya ia berhasil. Semangat juang semut itulah yang kemudian diadopsi Timur Lank dalam perjuangannya hingga mampu memporakporandakan Baghdad.

Tentu saja, filosofi berharga tidak selalu datang dari makhluk hidup seperti semut dan lebah. Karena sejatinya semua yang ada di dunia selalu memiliki ibrah untuk diambil pelajarannya. Tapi jangan berharap bahwa saya akan menulis sesuatu tentang kopi dan filosofinya, terlalu utama arusnya (mainstream), apalagi kita semua pasti sudah pernah membaca karya Dee Lestari ini, atau mungkin berkali-kali memutar filmnya, lalu unggah quote sederhana di dinding facebook, “Hanya secangkir kopi yang menyajikan rasa manis, bukan janji-janji dari bibir yang terlihat manis,” ehh!!

Hari ini, Selasa, 13 Februari, bertepatan dengan Hari Radio se-Dunia. Saya ingin mengajak kita semua mengambil pelajaran yang sedikit berbeda, dari benda mati. Benda yang sudah banyak ditinggalkan tapi dibutuhkan, diprediksi akan tersisih tapi bertahan lebih ekslusif, diduga akan disingkirkan namun terbukti tertandingi. Radio, teknologi modulasi dan radiasi elektromagnetik yang menjadi cikal bakal televisi dan internet kemudian. Meski tidak sempurna, akan terasa cukup jika kita mampu menerjemahkan filosofinya.

Telisik sejarah bangsa ini, bagaimana ketika Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia dan mengumumkan lewat radio Hilversum (milik Belanda) kepada dunia, bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi. Dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Radio Rimba Raya membatalkan berita tersebut dan mengatakan bahwa “Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa. Akibatnya, banyak negara dunia dengan serta merta mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Menjadi Pendengar yang Baik (Auditif)

Auditif juga berarti “mendengar”. Menjadi pendengar yang baik adalah filosofi penting pertama yang bisa kita ambil dari radio. Mendengarkan radio juga berarti belajar mendengarkan eksplanasi dari orang lain. Kita belajar bagaimana untuk tidak memotong pembicaraan/mendebat ketika orang-orang sedang berbicara, belajar mendengarkan dengan utuh apa yang orang-orang sampaikan sehingga informasi yang diterima jelas dan jernih.

“Pembicara yang baik adalah pendengar yang bijaksana”, begitu seorang teman pernah menasehati. Tentu saja, bukan berarti ketika menjadi pendengar seseorang tidak berkomunikasi. Justru, dengan menjadi pendengar yang baik hakikatnya kita sedang berkomunikasi dengan baik.

Di sekitar kita, banyak orang suka bicara tapi jarang mendengarkan; di kampus, di komunitas, di kantor sampai di Gedung DPR. Orang lebih suka bicara daripada mendengar. Televisi, opini koran online dan cetak cenderung menfasilitasi orang-orang yang suka bicara. Semua berbicara, sampai-sampai tak mendengarkan pendapat orang lain. Itulah kenapa perusahaan telekomunikasi seluler laris manis di Indonesia? Karena masyarakat kita suka bicara, sedikit mendengarkan!.

Ibrah dari sifat auditif yang lebih penting adalah; radio mampu memberikan kita pemahaman (bahwa dalam hidup) kita tidak dapat membalikkan halaman seperti halnya koran, majalah atau menekan fast forward (FF) pada kaset/DVD, dengan ini kita akan mampu memahami bahwa, kemarin adalah sejarah, esok adalah harapan, dan hari ini adalah anugerah”. Seperti itulah hidup sudah diatur sesuai qadarnya.

Bahagia, Optimis dan Tidak Kesepian

Sebuah survei dari The Media and The Mood of The Nation mengatakan, orang yang sering mendengarkan radio akan terlihat lebih bahagia dibandingkan dengan pengguna komputer, gawai atau televisi. Tidak hanya itu, bahkan radio dapat meningkatkan rasa bahagia hingga tiga kali lipat. Studi yang dipublikasikan dalam Scientific Reports ini mengungkapkan bahwa (meskipun) menangis saat sedang mendengarkan lagu/suara, membuat orang yang melakukannya lebih bahagia. Sejatinya, seharusnya setiap kita bisa berlaku seperti radio; mampu mendatangkan kebahagiaan bagi setiap orang.

Kebahagiaan ini dipicu dari memori yang melintas di otak saat seseorang mendengarkan lagu atau suara yang mirip orang yang dikenal. Bahkan faktanya, orang-orang yang sering mendengarkan lagu akan lebih optimis dalam menjalani aktivitasnya.

Radio mudah diakses dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun. Kita bisa mendengarkannya saat memasak, mencuci baju, atau bahkan membersihkan rumah. Ketika sedang dalam perjalanan pun, kita dapat menikmatinya melalui apikasi streaming-smartphone atau pada tape mobil yang tersedia untuk sekedar mendengarkan prakiraan cuaca atau kondisi lalu lintas. Percayalah! Kita tidak akan merasa kesepian.

Bayangkan jika setiap kita mampu menghilangkan kesepian orang-orang, kita akan mengalahkan Dilan, “jangan sepi, kamu gak akan kuat, Aku saja!

Peka, Cerdas dan Sabar

Tahukah anda? Radio dapat mengantar dan menangkap gelombang terendah sekalipun. Bagaimana sejarah tercatat beberapa orang dapat diselamatkan pada saat Titanic tenggelam dengan bantuan sinyal radio rendah; atau ketika dalam perang pasukan marinir mampu mengirimkan informasi jarak jauh (dengan sinyal rendah tak terdeteksi radar) agar infanteri dapat mendarat dengan selamat; bahkan bagi bangsa ini saat pesan-pesan perjuangan disiarkan untuk mempertahankan kemerdekaan (oleh Suara Radio Republik Indonesia, Suara Indonesia Merdeka, Radio Rimba Raya, Radio Divisi X, dan Radio Republik Indonesia) yang sayup-sayup terdengar dari ujung-ujung jalan.

Sebagai media auditif, radio mengutamakan suara. Saat menikmatinya, tentu saja kita hanya menggunakan telinga, bukan indra yang lainnya. Saat inilah otak kita dituntut untuk menangkap informasi dengan memahami suara/musik sehingga lebih peka, otak jadi lebih fokus, terarah dan cerdas.

Menjadi peka adalah keharusan; yang akan melahirkan kepedulian, kepedulian akan menghadirkan kebahagiaan yang dengannya akan melahirkan kewaspadaan untuk mengatasi persoalan yang mungkin timbul. Ia pun dibutuhkan untuk menjaga perasaan antar-sesama manusia. Jadi! Peka lah, jangan jadi Pekak!

Jika kita adalah pendengar yang aktif, pasti kita tahu rasanya ketika request lagu ke penyiar radio? Dibutuhkan kesabaran saat menunggu lagu favorit kita diputar. Harus menunggu iklan dan juga suara penyiar (talk in), ditambah lagi jika ternyata banyak request dari pendengar yang lainnya, kita harus ekstra sabar. (bukankah kesabaran akan membuahkan kemenangan!)

Bijak Tolak Bajak

Saat ini pembajakan karya (musik/film)  tidak hanya merambah fisik dalam bentuk CD dan DVD namun telah merambah ke ranah digital. Banyak label kehilangan triliunan rupiah karena lagu diunduh secara ilegal di internet. Bahkan menurut data pemerintah, potensi kerugian industri musik Indonesia akibat pembajakan mencapai Rp5 triliun per tahun.

Salah satu solusi untuk menanggulangi pembajakan musik adalah dengan cara mendigitalisasi musik dari media fisik CD dan DVD kedalam bentuk digital seperti yang sudah dilakukan oleh Apple dengan membuat itunes dan google dengan google play yang menyediakan sarana pembelian musik digital secara legal.

Sebagai asumsi, berdasarkan riset; diketahui bahwa pembajakan lagu One Direction melalui google dengan kata kunci free one direction download music diketahui sebanyak 135.000.000 pencarian. Apabila dari jumlah pencarian tersebut melakukan pengunduhan sebanyak 20% saja dan dikalikan dengan harga satu musiknya seharga Rp10.000 maka total kerugian dari pengunduhan lagu ilegal ini sebanyak Rp405 milyar. Mengerikan!

Mendengarkan radio menjadi salah satu langkah bijak mencegah pembajakan. Dengan mendengarkan radio, kita jadi mempunyai cara tersendiri dalam mengapresiasi karya seniman dengan tidak membajaknya.

Kita punya sejarah untuk dijadikan pelajaran, harapan untuk dikejar dan Anugerah untuk disyukuri.
Semoga kita mampu mengambil setiap pelajaran yang berharga. Selamat Hari Radio se-Dunia.

Editor : Redaksi
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar