SkriptoriaTerkini

Yaumul Milad Ya Nabi SAW, “Cintamu, Semoga Kami Mampu Meneladaninya”

Skriptoria : Ega Jalaludin (Pimpinan Redaksi)


Syahdan, pada tahun ke sepuluh kerasulan Nabi SAW –tak lama setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib,– Nabi SAW bersama Zaid bin Haritsah melakukan perjalanan ke Thaif untuk berdakwah. Perjalanan sejauh 60 mil (Mekkah – Thaif) ini ditempuh dengan berjalan kaki.

Nabi SAW kemudian menetap di Thaif selama 10 hari untuk meminta perlindungan dan menyampaikan dakwah kepada penduduk Thaif.

Penduduk Thaif adalah penyembah berhala. Mereka membuat berhala-berhala yang terbuat dari batu, kayu dan bahkan dari buah-buahan yang mereka tanam. Kemudian mereka menyembahnya sampai mereka kelelahan lalu memakan buah-buahan yang dijadikan sesembahan mereka.

Pada awal kedatangannya, Nabi SAW menemui tokoh-tokoh yang berpengaruh untuk mengajak mereka kepada kebaikan dengan memeluk Islam. Namun tidak seorang pun yang mengikuti ajakannya. Para pemimpin suku Thaif menolak seruan Nabi SAW dengan cara yang kasar, mereka bahkan berkata kepada Nabi SAW, “Keluar dari kota kami!.”

Pengusiran yang dilakukan tidak hanya dengan teriakan dan cacimaki. suku Thaif bahkan melempari Nabi SAW dengan batu hingga sandal beliau berlumuran darah.

Nabi SAW kemudian menghindar dan bersembunyi di kebun anggur milik salah satu orang kaya di Makkah, Rabiah. Kondisi tubuhnya sangat parah, banyak sekali luka berdarah di sekujur tubuhnya.

Dalam kondisi jasmani dan rohani yang sulit dan sedih, Nabi SAW menghadap Tuhannya dengan menyampaikan do’a. Do’a yang menambahkan keimanan, keyakinan dan keridhaan atas apa yang beliau alami karena berjuang di jalan Allah SWT.

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu akan kelemahan dan ketidak-berdayaanku dalam berhadapan dengan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Apakah ke jarak yang jauh Engkau arahkan aku? Apakah kepada musuh Engkau serahkan urusanku? Jika Engkau tidak murka, maka aku tidak perduli. Akan tetapi pengampunan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, urusan dunia dan akhirat menjadi baik berkat cahaya-Mu, dari murka-Mu dan kemarahan-Mu. Engkau berhak untuk mencela sampai Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Engkau Ya Allah.”

Maka dari langit ketujuh, pertolongan akhirnya datang. Allah SWT mengutus Jibril AS, malaikat pemilik 500 sayap yang panjang sayapnya meliputi ujung barat dan timur, bersama para malaikat penjaga gunung-gunung.

Jibril AS berkata, “Wahai Nabi SAW, maukah engkau jika aku jatuhkan dua gunung kepada mereka? (Jika engkau mau, maka akan aku lakukan). Sesungguhnya Allah SWT ridha atas keridhaanmu.”

Nabi SAW, sebagaimana kita ketahui sebagai makhluk penyayang ternyata menunjukkan sikap yang luar biasa. Sikap yang menunjukkan akhlak yang luhur, kasih sayang dan kelembutan. Bahkan beliau tetap mengharapkan keislaman mereka, entah dalam waktu dekat atau dalam waktu yang lama.

Nabi SAW berkata, “Tidak Jibril. Sedikitpun tidak pernah tebersit untuk menimpakan sesuatu atas mereka. Mereka melakukan itu karena mereka tidak tahu kalau aku mengajak mereka kepada kebaikan. Aku justru berharap Allah SWT akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka generasi yang menyembah Allah SWT semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

“Jika tidak sekarang, aku berdo’a semoga anak-anak mereka menyembah Allah SWT. Jika tidak anak-anak mereka, Aku berdoa semoga cucu-cucu mereka yang menyembah Allah SWT. Jika pun cucu-cucu mereka tidak, aku terus berdoa sampai akhir zaman semoga keturunan mereka menyembah Allah SWT”.
_________________________

Kisah dakwah Nabi SAW ini adalah satu dari sekian banyak perjuangan berat Nabi SAW dalam menyebarkan agama Allah SWT. Meski tak mudah, Nabi SAW senantiasa ikhlas, sabar dan tidak pernah berputus asa dalam menghadapi segala bentuk perlakuan kaumnya.

Bagi kita, sosok Nabi SAW seharusnya memberikan keteladanan dalam bersikap. Memberikan kasih sayang bahkan kepada siapa yang menyakiti.

Yaumul Milad Paduka Nabi SAW. Semoga di Maulid kali ini, kami dapat meneladani sifat Paduka.

Editor : Jalaludin Ega
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar