BudayaInspirasi

Buka Data: Kenapa Orang Indonesia Jarang Baca?

11,5 juta orang Indonesia buta huruf

biem.co – Tahun ini, seorang pembantu rumah tangga di Jakarta hampir gagal mudik. Sulihah (48) mendapat tiket gratis untuk mudik, tapi karena tak bisa baca, rezekinya hangus sia-sia. Sulihah akhirnya bisa mudik karena dibantu anak majikannya untuk mencari tiket.

Pengalaman Sulihah ini mewakili 3,4 juta orang Indonesia (2,07% WNI) yang masih buta huruf (data Mendikbud – Sept, 2017). Meski ternyata data lain, di tahun yang sama, menyebutkan bahwa terdapat jumlah empat kali lebih besar, BPS mencatat terdapat sekitar 11,5 juta orang Indonesia (4,50%) yang masih buta huruf.

Data persentase buta huruf di Indonesia;

Data persentase buta huruf di Indonesia lima tahun terakhir/ (Gambar: Youtube Narasi TV)

Berdasarkan data di atas, meski persentase buta huruf di Indonesia terus turun. Tapi, dalam lima tahun terakhir, total penurunannya hanya sekitar 1,5%. Dan lagi, meski persentase buta huruf cenderung turun, literasi di Indonesia ternyata berada di peringkat 60 dari 61 negara.

The World Most Literate Study, tahun 2016 oleh Central Connecticut Central University, menempatkan Indonesia hanya di atas Botswana, sebuah negara di Afrika bagian selatan. Untuk peringkat paling bawah, Thailand hanya setingkat di atas Indonesia. Banyak pihak menggunakan ranking ini sebagai tolak ukur minat baca, meski sebenarnya ranking ini didasarkan berbagai aspek seperti; akses warga terhadap komputer, akses surat kabar, akses perpustakaan dan sistem pendidikan di setiap negara.

Peringkat minat baca/ (Gambar: Youtube Narasi TV)

Mengapa tingkat literasi Indonesia rendah?

Menurut Chairil Abdini, Dosen Universitas Indonesia, setidaknya, ada empat faktor yang menyebabkan tingkat literasi Indonesia rendah, diantaranya;

  1. Gizi buruk
    Tahun 2013 kekurangan gizi mencapai 17,8%;
    Tubuh pendek (stunting) bahkan naik menjadi 36,8%.
    Dalam masalah ini, Indonesia termasuk 36 negara yang berkontribusi terhadap 90% masalah gizi dunia.
  1. Kualitas pendidikan
    Kualitas guru di Indonesia masih terbilang rendah, ini terlihat dari data bahwa hasil uji kompetensi guru tahun 2015 hanya mendapat nilai rata-rata 53,02%
  1. Infrastruktur pendidikan
    Indonesia masih berada jauh di bawah Singapura, Thailand, Filipina dan Vietnam.
    – Listrik dan laboratorium komputer;
    – Akses terhadap internet;
    – Teknologi komunikasi informasi.
  1. Rendahnya minat baca
    Sebelum kemerdekaan, siswa AMS (SMA untuk pribumi) diwajibkan membaca 25 judul buku. Setelah kemerdekaan kewajiban membaca dihilangkan, hal ini mempengaruhi minat baca di Indonesia.

Solusi meningkatkan literasi di Indonesia

Menurut Chairil, ada empat solusi sebagai upaya meningkatkan literasi di Indonesia;

  1. Mengatasi masalah gizi buruk sedini mungkin;
  2. merekrut dan meningkatkan kualitas guru;
  3. membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan;
  4. memasukkan kembali buku bacaan wajib ke dalam kurikulum untuk meningkatkan minat baca.
Sumber gambar: Narasi TV

Bicara soal rendahnya minat baca, hal ini dikuatkan dengan data yang menyatakan bahwa pada tahun 2015 konsumsi media di Indonesia menjadi yang terendah sejak tahun 1984.

Sumber Gambar: Narasi TV

Jadi, Minat baca yang rendah atau akses buku yang sulit?

Menurut Lukman Solihin, Peneliti Kemdikbud, ada setidaknya dua hal yang menunjukkan akses terhadap buku sulit di Indonesia;

  1. Jumlah perpustakaan di sekolah.
    – 147.000 sekolah
    – 90.642 perpustakaan
    Hal ini menunjukkan ketersediaan perpustakaan hanya sekitar 61,45%.
  1. Jumlah Perpustakaan desa;
    – 77.095 desa/kelurahan
    – 23.281 perpustakaan
    Hal ini menunjukkan hanya 30% desa/kelurahan yang memiliki perpustakaan.

Dari dua aspek tersebut, diketahui hanya 20% perpustakaan yang layak. Meski pemerintah sudah meningkatkan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari 5% ke 20% untuk pengembangan perpustakaan, tapi ternyata di lapangan, dana habis untuk membeli buku pelajaran saja. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap minat baca anak, karena anak bisa bosan membaca buku yang tidak variatif.

So! Minat baca atau Ketersediaan buku? (EJ)

Berikut kami sertakan video lengkapnya;

*Sumber: Narasi TV – Artikel ini adalah salah satu bentuk artikel kolaboratif.

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar