BudayaKabarOlahragaTerkini

Alumni Sepakbola Menes Dukung Gedung Eks. Kewadanan Jadi Tempat Olahraga

KABUPATEN PANDEGLANG, biem.co – Pengembangan olah raga harus terintegrasi dengan semua bidang seperti pendidikan, pariwisata, lingkungan dan kebudayaan. Demikian disampaikan oleh Ketua I PBMA Bidang Pembinaan Anggota dan Kaderisasi, dalam acara silaturahmi dan halal bi halal klub sepakbola Menes FC 1916, di gedung eks Kewadanan Menes, Pandeglang. Sabtu (7/07/2018).

Pembinaan olah raga seperti sepakbola, membutuhkan dukungan dari semua sektor. Menurut Zen, pembinaan klub sepakbola Menes FC 1916 juga harus diintegrasikan dengan sektor-sektor tersebut.

“Jika pengintegrasian ini berhasil, maka salah satu persoalan kronis pembinaan klub yaitu keterbatasan sumber dana bisa diatasi”, kata Alumni HMB Jakarta, Mohammad Zen dalam keterangannya kepada kru biem.co.

Menurut Zen, jika sepakbola terintegrasi dengan pariwisatamisalnya, maka pemasukan dari wisatawan bisa digunakan untuk biaya pembinaan sepakbola.

(Suasana kumpul di pelataran Eks Kewadanan/Foto: Awad)

Pria kelahiran menes ini, lebih lanjut menjelaskan bahwa, Menes memiliki banyak peninggalan sejarah yang penting. Salah satunya adalah gedung eks Kewadanan Menes yang dibangun sejak zaman Belanda.

“Gedung lama dengan arsitektur abad lampau ini bisa menjadi daya pikat wisatawan untuk datang dan menikmati wisata sejarah di Menes. Dengan posisi gedung yang menghadap alun alun sekaligus lapangan sepakbola, maka wisatawan bisa sekaligus memyaksikan permainan bola yang menarik dari anak-anak Menes yang tergabung dalam Menes FC 1916,” ucapnya.

Selain itu, posisi Menes sebagai perlintasan wisatawan menuju kawasan Carita dan Tanjung Lesung seharusnya bisa menampilkan daya pikat budaya sehingga wisatawan tertarik untuk mampir sejenak di Menes. Bukan hanya melintas.

Untuk itu diperlukan adanya atraksi budaya atau wisata kuliner di gedung eks Kewadanan tersebut. Sehingga wisatawan tertarik untuk mampir.

Wisata kuliner yang bisa ditawarkan diantaranya makan gaya babacakan beralas daun pisang dengan menu ikan mas bakar dengan Sambal Honje bersantan, berlalap daun paya rebus.

Gaya babacakan yang eksotik seperti ini sangat disukai oleh warga Menes dan Pandeglang, namun belum dikemas menjadi industri kuliner yang profesional.

Dirinya yakin jika babacakan ini dikemas dengan baik dan ditawarkan kepada wisatawan, pasti banyak yang tertarik bahkan ingin mengulanginya. (Awad)

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar