Teknologi

[Ekslusif] Kupas ‘Psikologi Digital’ bersama Boyke Pribadi

Bagaimana ilmu psikologi berperan mempengaruhi netizen

biem.co – Dalam sebuah penelitian, Bot atau program komputer otomatis di jejaring media sosial seperti Twitter ternyata mampu mengubah pandangan politik seseorang. Penelitian yang dilakukan Australian National University ini mengolah data yang ada dengan mengacu pada debat presiden Amerika Serikat tahun 2016, mereka menemukan bahwa akun palsu di media sosial ternyata memiliki pengaruh 2,5 kali lebih besar daripada akun asli yang dimiliki seseorang.

Para peneliti menemukan Akun Bot twitter lebih terlibat dalam mengubah pandangan politik warga Amerika Serikat untuk mendukung Partai Republik yang notabene merupakan partai pendukung Trump. Mereka berkesimpulan bahwa Bot Twitter lebih sukses memengaruhi opini publik daripada seorang tokoh yang berpengaruh.

Pada kesempatan ini, biem.co berhasil mewawancarai salah seorang pengamat psikologi digital di Banten. Dosen dan pembicara di forum-forum akademik – umum tingkat lokal hingga nasional, Boyke Pribadi.

Wawancara biem.co bersama Boyke Pribadi (BP) kali ini seputar bagaimana ilmu psikologi berperan dalam dunia digital.

[biem.co] : Menjamurnya penggunaan media sosial sebagai basis pergerakan kampanye dalam menghadapi Tahun Politik 2019 (setiap 5 tahun), banyak orang berpendapat bahwa dalam praktiknya, ilmu psikologi berperan dalam dunia digital, menurut bapak, jika ada, seberapa besar peran ilmu psikologi dalam dunia digital?

[Boyke Pribadi] : Peran ilmu psikologi lebih menonjol di era digital yang merubah berbagai kebiasaan dan sikap masyarakat.  Namun demikian kita sebagai manusia adalah tetap, hanya lingkungannya yang berubah. Perubahan lingkungan yg berlangsung dengan cepat dan memberikan banyak kemudahan membuka banyak peluang sekaligus persaingan. Hal seperti ini, tentu saja akan memengaruhi kejiwaan seseorang. Sebagai contoh. Jika pada masa lalu, sifat narsis tidak mudah untuk mengekspresikannya,  namun pada hari ini dipermudah dengan kemajuan teknologi. Dan disisi lain, berkat kemajuan teknologi pula, melalui ilmu psikologi dengan mudah karakter seseorang dibaca melalui apa yang sering ditulisnya melalui media sosial.

 

[biem.co] : Hasil riset, Akun palsu lebih efektif 2,5 kali dalam mempengaruhi keputusan politik/pola pikir netizen, pendapat bapak?

[Boyke Pribadi] : Jika memang lebih berpengaruh, maka sejatinya akun tersebut pasti dikelola oleh para profesional dan pakar. Sehingga setiap “postingan” yang dibuat memiliki dampak dalam merubah opini atau pendapat publik. Dalam mem-posting sesuatu, para profesional atau pakar tidak sembarangan memilih tema,  termasuk memilih diksi atau pilihan kata. Isi setiap posting harus dibuat dengan mempertimbangkan sasaran pembacanya. Dan utk mengetahui profil perilaku atau minat sasarannya, maka mereka melakukan survey perilaku yang didasarkan kepada kebiasaan “si sasaran” dalam berselancar di dunia maya atau hasil analisa dari isi “status-status” yang dibuat.

 

[biem.co] : Bisa bapak uraikan langkahnya, bagaimana pola kerja psikologi memengaruhi pengguna media sosial (dunia digital)?

[Boyke Pribadi] : Agar akun palsu yang dikelola oleh para ahli tersebut berjalan efektif,  maka langkah pertama adalah mempelajari perilaku sasaran yang diincar. Karena dalam “dunia IT” saat ini, dengan mengamati dalam kurun waktu tertentu terhadap posting atau status seseorang di media sosial, maka akan diketahui pola pikir-kebiasaan-dan peminatan dari sasaran yang dituju. Dengan diketahui sudut pandang-kebiasaan dan minat serta beberapa data lain, maka pengelola akun palsu tersebut bisa membaca sifat dari sasaran. Diantaranya dengan algoritma Naive BayesJika sifat sasaran sudah diketahui, maka dengan mudah dilakukan pendekatan yang sesuai dengan sifat yang diketahui tersebut. Hal inilah yang mencuat ketika ada kasus pencurian data facebook  yang sempat menghebohkan.

 

[biem.co] : Bagaimana dunia digital memengaruhi setiap aspek kehidupan setiap warga negara?

[Boyke Pribadi] : Karena hari ini kita tergantung pada dunia maya atau digital,  maka secara elektronik dengan mudah diketahui profil seseorang. Katakanlah ketika kita sering berbelanja online, maka dapat ‘dibaca’ peminatan kita sesuai dengan barang yang kita beli secara online.  Apakah senang baca (beli buku), senang olahraga (beli alat olah raga),  senang dandan (beli kosmetik)  atau bahkan kita menderita sakit apa (karena beli obat secara online). Dari sisi lain, medsos memungkingkan kita melampiaskan ekspresi secara langsung dengan menuliskannya di status. Dengan demikian orang bisa membaca suasana hati yang menulis status.  Bahkan berdo’a di medsos. Sekali lagi, berdasarkan informasi atau data-data tersebut,  maka seorang ahli bisa dengan mudah menargetkan seseorang untuk dibentuk sebagai pasar bagi produk atau jasa, bahkan IDEOLOGI tertentu.

 

[biem.co] : Maraknya hoax dan langsung dikonsumsi mentah-mentah oleh warga negara, apakah itu tanda peran negatif Psikologi Digital? Bagaimana itu bekerja pada berita hoax?

[Boyke Pribadi] : Dalam menyikapi hoax,  maka akan terlihat bagaimana seseorang dengan kebiasaan hati-hati,  atau dengan kebiasaan ceroboh. Bagi seorang yang hati-hati,  maka setiap menerima informasi dia akan berusaha memahami dan melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum menyebarkannya. Lain halnya dengan seorang yang ceroboh,  maka dia akan langsung menyebarkan tanpa mempertimbangkan dampak dari informasi yang disebarkan tersebut.

Dari kebiasaan yg nampak tersebut,  seorang ahli bisa memilih mana orang yang cocok dijadikan buzzer dalam sebuah kompetisi politik,  atau sebagai seorang analis. Sebagai netizen sebaiknya melakukan tindakan SARING sebelum SHARING. Artinya pelajari terlebih dahulu setiap informasi yang diterima  sebelum membagikannya kepada pihak lain.

Istilah psikologi digital itu adalah bagaimana memanfaatkan ilmu psikologi dalam era digital.  Tidak ada istilah peran negatif maupun peran positif. Karena pada dasarnya ilmu itu bersifat netral. Jadi,  kalau seseorang memiliki sifat pembohong,  maka dia akan membawa sifat tersebut dalam kehidupannya di dunia maya. Termasuk seorang yang memiliki sifat kepribadian ganda.  Maka bisa jadi di dunia maya akan menampakkan sebagai seorang yang “pemberani”, padahal dalam kesehariannya dia seorang “penakut”.

[biem.co] : Terimakasih sharing ilmunya Pak. Salam berkarya dan berbagi inspirasi ^_^
[Boyke Pribadi] : Oke. Sama-sama. Sukses selalu.

Semoga bermanfaat! (IY)

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar