KabarTerkini

Menengok Kehidupan di Kecamatan Sumur Pasca Bencana Tsunami

KABUPATEN PANDEGLANG, biem.co – Bencana tsunami yang terjadi pada Sabtu malam (22/12/2018) hingga kini tercatat telah memakan korban 400 lebih jiwa, dengan jumlah korban terbanyak terdapat di Kecamatan Sumur yaitu sebanyak 290 orang. Kecamatan Sumur diketahui menjadi daerah yang memiliki dampak cukup parah terhadap bencana tsunami tersebut.

Kecamatan Sumur merupakan daerah yang paling ujung dari Pulau Jawa bagian barat. Letaknya yang jauh tentu menyebabkan beberapa kendala pasca terjadinya tsunami, salah satunya yaitu sulitnya proses evakuasi pasca bencana hingga 1-2 hari berlalu. Jalanan yang rusak dan terhalang oleh puing-puing pasca tsunami, juga listrik yang padam menyulitkan warga Kecamatan Sumur sehingga baru hari ketiga mereka berangsur-angsur dapat dievakuasi.

Selasa (25/12/2018) lalu, Tim Laz Harfa mendatangi langsung warga Kecamatan Sumur untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada para korban. Menurut kesaksian salah satu korban, Ibu Raniah yang tinggal di Kp. Paniis, Ds. Taman Jaya, Kec. Sumur bahwa kejadian tsunami terjadi begitu cepat. Ia dan warga mendengar dua kali dentuman keras dan juga telepon dari seorang temannya bahwa sedang terjadi tsunami di pesisir pantai. Pada saat itu ia dan warga sekitar tidak sempat melakukan proses evakuasi sebelum bencana terjadi. Ia dan warga sekitar hanya bisa berlari menyelamatkan diri masing-masing agar tidak terkena gelombang tsunami tersebut. Akibatnya, ia dan warga harus kehilangan rumah-rumah beserta isinya. Tentu hal itu membuat mereka sangat bersedih dan tidak menduga bahwa telah terjadi bencana tsunami di daerahnya.

Pasca bencana tsunami, kehidupan warga Kecamatan Sumur khususnya di Desa Taman Jaya sangat memprihatikan. Mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal. Mereka lebih memilih mengungsi di sawah-sawah dan gunung-gunung yang letaknya jauh dari pesisir pantai.

“Kalau siang kami kembali ke rumah yang dulu, sambil mencari-cari barang yang mungkin bisa dibawa pulang ke pengungsian. Dan malam kami akan kembali ke tempat pengungsian tadi karena takut akan terjadi bencana susulan, terlebih rumah-rumah kami semua sudah luluh lantak,” tutur Ibu Raniah.

Begitulah kehidupan pasca bencana tsunami. Duka itu masih tetap ada. Mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal, bahkan aktivitas harian yang biasa mereka lakukan. Tsunami telah merenggut semua kebahagiaan. Mari bersama-sama gotong royong untuk bantu Banten. Saat ini tidak ada yang lebih mereka butuhkan selain doa, kehadiran, serta uluran tangan kita semua. (Juanda)

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button