Film & Musik

Menghidupkan Sastra Tanah Air Lewat Konser Musikal Puisi Cinta

JAKARTA, biem.co – Konser musikal ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’, produksi Titimangsa Foundation dan PT Balai Pustaka (Persero) hadir sebagai upaya untuk selalu menghidupkan karya sastra Indonesia sehingga pembentukan karakter dan kecintaan pada Tanah Air semakin nyata.

Seperti diketahui, Indonesia banyak memiliki penyair yang puisi-puisinya menjadi sebuah penanda perkembangan intelektual bangsa. Puisi-puisi cinta yang indah yang ditulis oleh para penyair Indonesia akan menjadi “angin keindahan yang menyejukkan”.

Pementasan ini akan membuat penonton kembali saling mencintai dengan indah, meski tak sederhana. Titimangsa Foundation menghadirkan sebuah sajian konser musikal bertajuk ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ yang menampilkan puisi–puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia.

Kurang lebih ada 26 penyair Indonesia yang penggalan karya puisinya dijadikan dialog dalam pementasan ini. Puisi-puisi itu disusun menjadi percakapan atau dialog, nyanyian dan diwujudkan ke dalam tata visual yang indah dan megah, dalam bentuk konser musikal.

Ide cerita dari pementasan ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi terasing, jauh dari bumi, dan merindukan puisi. Yang sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini, ketika manusianya makin terasing karena terjadi bermacam perubahan nilai, guncangan sosial bahkan disrupsi nilai-nilai berbangsa dan bernegara.

Ketika politik menguasi ruang publik, ketika politik sudah begitu membuat masyarakat tegang, maka puisi bisa menjadi angin penyejuk yang menyegarkan. Atau dalam ungkapan puisi Sapardi, pertunjukan ini akan membuat kita kembali saling mencintai dengan indah, meski tak sederhana. Puisi mengatasi kerumitan, melampaui kemanusiaan dengan keindahan yang dibawanya.

Pementasan konser musikal yang digelar 2 hari ini (16-17 Maret 2019) merupakan hasil dari komitmen, kerja keras, serta konsistensi dan kecintaan seluruh tim pendukung dalam menampilkan karya sastra yaitu puisi dari sastrawan kebanggaan Indonesia.

“Balai Pustaka sejak berdirinya merupakan rumah bagi karya sastra Indonesia. Salah seorang penyair yang puisinya ada di pementasan ini adalah Soebagio Sastrowardoyo yang selama bertahun-tahun menjabat direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka. Kiprah Soebagio Sastrowardoyo dan penyair-penyair Indonesia lainnya inilah yang harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Melalui pementasan ini, harapannya masyarakat Indonesia menjadi lebih mencintai karya-karya sastra Indonesia yang berperan dalam membangun karakter bangsa yang cerdas dan berbudaya,” ujar Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero).

Selain itu, Happy Salma selaku founder Titimangsa Foundation mengatakan, konsep pertunjukan yang ia sodorkan sangat berkaitan dengan upaya memperkenalkan karya para sastrawan Indonesia. Sebagai orang yang mengenal karya sastra Indonesia lewat buku-buku terbitan Balai Pustaka, ia mengaku terharu bisa bekerjasama dengan pihak Balai Pustaka.

“Pementasan kali ini adalah istimewa bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi para aktor yang terlibat. Mereka di sini bukan hanya berakting, tapi juga mereka diminta untuk dapat mengucapkan puisi menjadi terlihat wajar dan seperti dialog pada umumnya. Sesuatu yang bila tidak hati-hati, dialog tersebut akan terdengar seperti sekadar deklamasi puisi. Pertunjukan seperti ini nyaris tak pernah ada. Naskah pertunjukan ini merupakan hasil dari kecerdasan sang sutradara yang mempunyai wawasan luas dalam puisi dan sastra Indonesia, dalam mengolah banyak kata-kata dari banyak puisi, hingga tersusun dengan indah menjadi jalinan dialog dan alur cerita,” kata Happy Salma menambahkan.

Bagi Titimangsa sendiri, pementasan ini bertambah menakjubkan dengan bergabungnya deretan nama-nama yang sangat berdedikasi di bidangnya mulai dari pemain sampai kreator di balik panggung. Menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa.

Menghadirkan pula sutradara dan aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama dan penyair Warih Wisatsana yang akan berperan sebagai narator. Kemudian penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Indonesia Maya Hasan.

Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Happy Salma sebagai Produser, Agus Noor sebagai sutradara dan penulis naskah, Iskandar Loedin sebagai penata artistik, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum.

Pemain-pemain dalam pementasan ini hampir semua bernyanyi dengan diiringi musik yang indah dari penata musik Bintang Indrianto dan koreografi menawan garapan koreografer Josh Marcy.

Pementasan kali ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya karena adanya sebuah kolaborasi antara seni pertunjukan dengan fesyen. Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh desainer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron. (hh)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar