Sosok

Sempat Membakar 30 Karyanya, Pelukis ini Sukses Langsungkan Pameran

KOTA SERANG, biem.co – Meniti proses dari tahun 2014 silam, Ikhwan Sugianto, pemuda asal Pandeglang berhasil mewujudkan cita-citanya bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Lingkup Seni Budaya Universitas Bina Bangsa (UKM Lisbu Uniba) untuk menyelenggarakan pameran lukisan.

Dalam pameran tersebut, Ikhwan memerkan 40 karya lukisan terbaiknya yang telah ia kumpulkan sejak tahun 2016 hingga 2019. Karya-karya itu telah dikurasi oleh Herman Kimong, seorang seniman lukis di Banten.

Sebelumnya, Ikhwan sempat menjalani hobinya pada bidang musik, sebelum pada akhirnya dirinya mengalami kejenuhan pada akhir tahun 2013. Pada titik itu, Ikhwan mengaku mengalami beberapa diskusi panjang bersama sejumlah orang yang ia temui.

Dari sana, Ikhwan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang pelukis dan mulai mencoba membuat lukisan abstrak pertamanya pada tahun 2014 akhir.

Namun, karena merasa pada awal prosesnya melukis sebagai pelarian dan rasa penasaran, sekitar 30 karya lukisan yang telah ia buat dari tahun 2014 hingga 2015 telah ia bakar secara keseluruhan.

Gue bakar semua, akhirnya ketika gue merasa melukis adalah untuk menghanguskan diri, gue memutuskan untuk membakar karya-karya lama yang gue rasa jelek. Ngebakar itu juga adalah cara gue untuk menyucikan diri,” kata Ikhwan, saat dijumpai biem.co di lokasi pameran.

Dengan telah melakukan eksperimen, Ikhwan memutuskan untuk melanjutkan prosesnya dan kembali melukis di tahun 2016. Pada jejak barunya itulah Ikhwan mencoba warna baru lukisan, yaitu surealis, yang tidak pernah ia buat pada tahun 2014 hingga 2015.

Sementara itu, dirinya mengaku mendapatkan ide masing-masing lukisan yang dipamerkannya berawal dari sebuah mimpi. Setelah terbangun dari tidur, ia mengaku tidak bisa melupakan objek tersebut.

“Selain dari mimpi juga dari respon bentuk,” ujarnya.

Uniknya, dirinya menambahkan aksen Bahasa Xorod yang ia ciptakan sejak lama untuk mendeskripsikan beberapa lukisan yang ia pamerkan sebagai penanda.

“Bahasa Xorod yang tercantum dalam lukisan merupakan penjabaran dari ide dan proses. Kalau gue tulis pakai Bahasa Indonesia, khawatir akan membunuh imajinasi orang yang melihat. Makanya penggunaan Bahaasa Xorod itu supaya orang yang melihat menilai secara visual saja,” jelasnya.

Lewat pameran lukisan yang terselenggara, ia berharap ini menjadi bekal untuk Ikhwan menyelenggarakan pameran tunggal dalam beberapa waktu mendatang.

“Lewat pameran ini sebenarnya ingin mengenalkan kepada teman-teman seniman bahwa saya ini melukis dan saya butuh arahan,” pungkasnya. (Iqbal/red)

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *