Puisi

Sajak-sajak Ilda Karwayu

menuju Kevelaer

menyelinap puan ke dalam
kereta. menuju Kevelaer

puan duduk bersama
pikiran-pikiran yang cuma dia
punya. mereka merajut tanya

di lain gerbong, Lacey Sturm
menggendong melodi gospel;
buah hatinya yang tiada mati
meski dibunuh berkali-kali

2019

 

cermin bertanya

puan, tidakkah kau lelah berpurapura
jernih dalam menampung air wudu?
sedang tenang tiada tumbuh di tubuhmu

tudung bawal di kepala. jadi sarang semai
tanda tanya. biarkan mereka menjalar
masuk ke dalam kepalamu
menyeberang ke alam mimpi. meneror
kantor-kantor tengara di sana

2019

 

puan menginjak kenangan

kenangan itu berserakan. menempeli alas kakimu
milik siapa, tiada tahu

selembut anyelir merahjambu kulitmu, puan
inang kenangan meluncur. cari pori-pori rekah
bilamana tumbuh, tiada tahu

2019

 

duduk perut

mengapa mesti semai sedih di
semak-semak belakang rumah
ia tak tahu

kembang-kembang sesegukan
entah haru kerana disambangi
atau pilu kerana diduduki

pucuk telang liliti perutnya
yang hidup
pun kenop putih dan ungu
memijit-mijit telapak kakinya

ia masih punya berkarung-karung
kesedihan. alamanda menasehati
sambil memayungi,
“bungkuslah kecil-kecil. sewaktu-waktu
kau boleh semai di pinggir jalan.”

2019

 

car free day

kubayangkan tubuh-tubuh pejalan kaki
jadi not balok yang berbaris. siap padati
senin yang dikeluhkan pegawai negeri
sipil

aku pun ikut mengeluh
kurentangkan usia sepanjang jalan
dan kususuri tanggal-tanggal penting
yang mencuat
tanpa sadar, pedagang nasibalap
menggilas sisa-sisa usiaku

2019

puan minggat

puan
ayahmu pulang
dari mana, jangan tanya
ruang tamu penuh sumpah
serapah
ruang makan tak pernah ada
ruang memasak kian duka
ruang tidur gelap pekat
penuh keringat
kau pun minggat
puan
beri salam pada kekunang
pagi ini mereka pamit
kau harus siap pergi sendiri
jejakmu harus seringan daun
kering

2019

 

sembunyi

mbah laju ke ladang hari ini
dengan wajah hutan terbakar

di sela lepitan sarung gajahduduk
surat dari cucu yang sedang
sembunyi. disembunyikan
dalam-dalam

cucunya pikir. mempreteli
tubuh jam dinding di rumah sendiri
sama halnya dengan melumpuhkan
matahari. seolah tali santet tampak
di antara keduanya

2019

 

ruang kedap masa

terkurung dalam ruang kedap masa
masih bisa kunikmati

bermain gelembung: peluangku melepas
sisa-sisa kenangan di hati
jendela dua sisi: seperti televisi yang
beritakan matahari tertidur pulas
tiada bunga-bunga mekar
tiada bayangan beredar
tidur lebih lama: saatnya mengajak
organ-organ menjenguk nyawa
yang selama ini mengetik puisi

2019

 

kutinggalkan suara-suara

mataku
tataplah tubuhku lekatlekat
perhatikan setiap belang warna
yang di sana tertera nama-nama
kota. kota tempat tumpahnya

suara-suara
diserap jadi teman jamur tumbuh
terinjak jadi jejak-jejak gegabah
menguap jadi hujan asam. luruh

2019


Tentang Penulis:

Ilda Karwayu, tinggal di Mataram. Mengajar Bahasa Inggris dan BIPA di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI). Buku puisinya “Eulogi” (PBP, 2018). Pernah hadir sebagai salah satu emerging writers pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019. Belajar menulis kreatif di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, NTB.

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button