Opini

Ken Supriyono: Catatan Reportase Peristiwa Pacarebon

biem.co — Manuskrip, demikian istilah baru itu saya kenal dari seorang bernama Abah Yadi Ahyadi. Istilah yang disebutnya untuk menyebut catatan kuno. Isinya bisa berupa ajaran hidup, agama, budaya, kesenian, tembang, dan budi pekerti. Juga soal-soal dari peristiwa masa lalu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikannya sebagai naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi. Bisa juga, berarti naskah: baik tulisan tangan (dengan pena, pensil) maupun ketikan (bukan cetakan).

Sementara itu, filologi adalah disiplin ilmu yang ditunjukkan pada studi teks yang tersimpan dalam peninggalan masa lampau. Makna lainnya, ilmu yang objek penelitiannya berupa manuskrip-manuskrip atau naskah-naskah kuno.

Kata filologi berasal dari dua kata berbahasa Yunani. Yakni, philos yang berarti cinta, dan logos yang berarti kata. Merujuk dua kata itu, filologi membentuk arti cinta kata atau senang bertutur. Kita juga bisa mengistilahkannya menjadi senang belajar, senang kesusastraan atau senang kebudayaan.

Penjelasan Abah Yadi dan tambahan beberapa literasi yang ada, mengingatkan saya tentang penghayatan terhadap jurnalisme. Berawal dari kata-kata, kita menerangkan peristiwa dan informasi lainnya. Namun, semua harus dikerjakan dengan disiplin verifikasi terhadap faktanya.

Septiawan Santana K menyebut, berita tidak dibuat dengan asal-asalan. Ada penciuman kejadian di balik peristiwa. Ada sikap dan mental yang tak malas menelusuri. Ada kemampuan menulis atau menyiarkan yang terolah cukup panjang, intens dan tekun.

Lebih-lebih, jurnalis tak sekadar dapat ijazah kesarjanaan. Tapi, juga ditambah dengan masa kerja yang penuh keringat dan perjuangan. Tidak menutup kemungkinan, hasil-hasil pemberitaan kita, kelak akan berbuah manuskrip juga.

Sama halnya dengan kitab “Sajarah Banten” yang ditembangkan Sandimaya dan dituliskan oleh Sandisastra, warisan khasanah pengetahuan yang kita baca di masa kini dan mungkin, generasi sesudahnya.

Kita mesti bersabar dalam prosesnya. Tekun sebagaimana istilah dari filologi yang bermakna “senang belajar”. Pak Dahlan Iskan punya petuah bagus untuk ini. “Jurnalis harus rajin baca, minimal satu buku dalam sebulan.” Menurutnya, menjadi jurnalis itu mudah, bahkan semua orang bisa. Tapi, menjadi jurnalis yang ingin menciptakan sejarah itu baru luar biasa.

Sebelum jauh imajinasi. Baiknya, saya kembali fokus ke soal mengapa ada catatan buah reportase manuskrip.

Mulanya, saya membutuhkan data untuk bahan pemberitaan. Yakni, serial feature tentang “Peristiwa Pacarebon” atau penyerangan Cirebon ke Banten.” Membayangkan judulnya saja sungguh ngeri, bukan?

Berita ini, usulan dari Bang Delfion Syaputra (Pemimpin Redaksi Radar Banten). Beliau memang pembaca yang tekun. Bahkan penikmat buku-buku sejarah. Koleksi bukunya luar biasa banyak.

“Kamu pernah baca soal penyerangan Cirebon ke Banten?” tanya Bang Delfion di lorong tangga lantai lima Graha Pena, Radar Banten. Tempat favorit ngopi dan menarik sigaret anak-anak Radar Banten di sela menghilangkan penat deadline berita.

Saya tak menjawab langsung. Hanya bisa menarik rokok dalam-dalam untuk sekadar memberi jeda pertanyaan tiba-tiba itu. Dan datanglah ingatan itu. “Pernah sekilas,” jawab saya ragu yang masih meraba-raba sekilas buku ‘Sejarah Banten: Membangun Tradisi dan Peradaban’ karya Nina H Lubis.

Hanya saja, pada buku sekira 400-an halaman itu tak mengulas detail. Hanya sekilas saja dengan sub judul “Konflik dengan Mataram.” Nina Lubis hanya menyebut, agresi Mataram pada masa Pemerintahan Sultan Abdulmufakir. Rencana penyerangan itu dilakukan Mataram setelah berhasil menaklukan Madura sekira 1624 M.

Lantas dari mana Bang Delfion melempar peristiwa geger antara Banten dan saudara tuanya, Cirebon? Dikirimlah tautan berita dari portal dari media daring historia.id. Judulnya: Mataram Batal Serang Banten; Perang Banten-Cirebon di Akhir Ramadan.” Tautan berita itu segera saya baca. Namun, tak ada sedikit pun saya komentari.

“Gimana? Bagus ceritanya? Coba kamu tulis lebih dalam lagi!” cetusnya. Lagi-lagi, saya hanya bisa menarik sigaret lebih dalam, dan menghembuskan asapnya tinggi-tinggi. Lalu, meneguk kopi yang tinggal seperempat cangkir lagi.

Apakah ini perintah atau tantangan? Entahlah. Yang jelas saat tiba waktunya, naskah berita perang Banten-Cirebon itu harus ada. Dan harus lebih detail dari yang sudah diberitakan lebih dahulu oleh Historia.

So, pantang menyerah sebelum berita tayang adalah penyemangat di tengah kegalauan. Apalagi ada peribahasa; jurnalisme membuat para pembacanya bisa menjadi saksi sejarah, dan lewat karyanya bisa memberi kesempatan kepada pembaca untuk menghidupkannya.

*****

Saya memang menyukai sejarah. Tapi, dengan waktu yang relatif singkat dan keterbatasan pengetahuan, membuat sedikit ragu. Terkejar atau tidak tulisan itu (feature berseri “Peristiwa Pacarebonan”).

Lebih-lebih, tulisan di historia.id hanya bersumber pada tiga buku. Yakni, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I karya H.J de Graaf, Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten karya Titik Pudjiastuti, dan Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2 karya Anthony Reid.

Buku itu pun tak saya miliki. Sepekan, tiga tulisan, tanpa kepunyaan referensi, jadi tantangan awal. Jika pun buku-buku itu ada, butuh waktu untuk membaca.

Tapi, apa mau dikata. Menyerah tanpa lebih dahulu mencoba bukanlah watak jurnalis. Toh, dalam setiap pembuatan informasi, kita (jurnalis) kerap dihadapkan dengan soal-soal baru. Hal yang sering kali di luar jangkauan pengetahuan kita.

Jurnalis memang dituntut menguasai dasar-dasar pengetahuan semua bidang. Konon, itu salah satu syarat kompetensi yang wajib dimiliki. Makanya, jurnalis seringkali adalah seorang generalis. Kendati, bukan berarti jurnalis tidak memiliki pengetahuan yang dikuasai secara mendalam. Atau, pakar dalam satu bidang yang digeluti lebih serius dari banyak dasar-dasar pengetahuan tadi.

Singkat cerita. Saya mulai mencari referensi, yang memungkinkan menjadi data petunjuk. Sepulang dari kantor, referensi dari berbagai sumber pun saya baca. Tujuannya, memverifikasi mana yang terpercaya untuk diambil sebagai sumber informasi.

Beberapa kawan yang gemar sejarah pun, saya kontak. Salah satunya, Abah Yadi. Ya, dia memang bukan sejarawan bertitel layaknya akademisi kebanyakan. Ia hanya lulusan Sarjana Sejarah Peradaban Islam Universitas Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten.

Tapi, cakrawala pengetahuan sejarahnya cukup dalam. Dia banyak menyimpan manuskrip-manuskrip menyangkut Banten. Tidak hanya menyimpan, Abah Yadi juga punya komunitas yang rutin mengkaji manuskrip. Dia menyebut komunitas itu dengan nama Klinik Pusaka Banten.

Panjang lebar kami berdikusi di rumah Abah Yadi. Kopi, dan berbatang-batang rokok telah kami hisap. Kepulan asapnya menghanyutkan kami ke alam masa lalu. Setiap tuahnya megembangkan imajinasi, rangkaian kisah dan narasi.

Saya rekam agar tak terlewat satu pun. Juga mencatat beberapa poin pentingnya. Melihat saya yang serius menyimak, Abah Yadi sejenak menghentikan pembicaraannya. Saya kaget, kenapa berhenti.

Dia lantas masuk ke dalam rumahnya. Rupanya, mengambil satu manuskrip. “Di sini (manuskrip Sajarah Banten), ada kronologis kisah yang hendak kamu tulis,” ucapnya. Saya girang bukan kepalang. Tak sabar membuka manuskrip dalam bentuk fotocopian itu.

Tapi, saya mendadak kelu saat membukanya. Manuskrip itu berhuruf dan berbahasa Arab Pegon, alias tanpa harakat. “Bagaimana bisa memahami? Membaca pun tergagap-gagap,” cetusku yang hanya berbalas senyum Abah Yadi. “Tenang. Saya sudah punya terjemahannya,” kata Abah Yadi yang melegakan diri.

“Bisa saya baca Bah?” tanya tanya cepat-cepat. “Jangankan baca. Saya kasih filenya,” jawab Abah Yadi yang tak lama mengambil laptop untuk membuka file manuskrip Sajarah Banten, yang ia alihbahasakan ke dalam Bahasa Jawa kawi dan Bahasa Indonesia. Dan, penuh girang saya mencopi filenya.

Entah mimpi apa saat itu. Rasanya seperti menemukan emas permata dari rumah kecil yang berlokasi di pojok komplek Puri Anggrek, Kota Serang itu. Dari orang yang sangat bersahaja, dan tak banyak bicara jika tak ditanya.

Kegirangan luar biasa ini, rupanya membuat waktu berjalan terasa cepat. Tak terasa senja datang. Tiga lebih juga, ada panggilan masuk di handphone yang tak sempat saya angkat. Juga pesan WhatsApp kantor kepada saya untuk segera ke kantor. Maklum, tugas menulis feature tak berarti menggugurkan kewajiban menulis berita regular. Saya pamit kepada Abah Yadi.

Di sela reportase dan sesudah menyelesaikan berita regular, bahan dari Abah Yadi mulai saya baca. Juga membuat catatan kecil sebagai bahan menulis feature Peristiwa Pacerebon. Apalagi, alur dari manuskrip Sajarah Banten tidak runut seperti buku sejarah tulisan para peneliti sejarah.

Kisah di dalamnya bernada langgam tembang. Kita butuh mengonstruksi agar alurnya lebih sitematis dan enak dibaca. Juga memberi makna pada setiap narasinya.

Mungkin ini yang dahulu sempat dilakukan oleh Hoesein Djajadiningrat. Kala ia menyelesaikan desertasinya di Universitas Leiden Belanda. Karya yang kini kita kenal dengan buku berjudul ‘Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten’. Desertasi yang juga menghantarkanya menjadi Doktor pertama asal Indonesia (dulu masih Hindia Belanda).

Itulah, capaian prestasi salah satu putra Banten yang mengagumkan. Capaian yang menempatkan Hoesien sebagai Bapak Metodologi Sejarah di Indonesia. Founder dari Fakultas Sejarah di Universitas Indonesia. Bahkan, patung Hoesien, kini berdiri tegak di audiotorium Universitas Ledian Belanda. (Khusus Hoesien Djajadiningrat, saya menulis catatan khusus “jeda reportase.” Seminar: Studi Islam masa Kolonial).

Data-data dari manuskrip Sajarah Banten, saya padupadankan dengan beberapa literasi dari buku lainnya. Termasuk hasil tulisan pada historia.id.

Terus terang saat tulisan jadi dalam bentuk feature, saya masih merasa belum puas. Rasanya masih ingin banyak yang ditumpahkan. Padahal, tulisan itu saya buat dalam empat seri. Judul besarnya ‘Peristiwa Pacerobon’ Penyerangan Cirebon ke Banten. Peristiwa yang oleh Halawany Michrop dan Mujdjahid Chudori dalam bukunya Cacatan Masa Lalu Banten disebut Pagarage atau Pacarebonan. Empat seri itu saya beri sub judul: Asal Mula Julukan Orang Bendul untuk Mataram; Wasiat Panembahan Ratu Cirebon yang Terlupakan; Diplomasi dan Muslihat Perjodohan Mataram; serta, Serangan Mendadak Lumpuhkan Pasukan Cirebon.

Isi cerita tulisan itu tidak perlu saya cerita ulang di catatan ini. Terlalu panjang bahasannya. Lagi pula, empat tulisan itu sudah terbit berseri di halaman depan koran Radar Banten. Edisinya, saya lupa persis hari dan tanggalnya, tapi kurang lebih minggu akhir Juni 2019.

Yang pasti, peristiwa pada akhir Ramadan sampai lebaran pada sekira 1650 itu, dimenangkan pasukan Banten. Pasukan Cirebon yang dibawa dengan 60 kapal luluh lantah, menyisakan satu kapal yang kabur dan 50 kapal ditangkap.

Daerah peristiwa itu, di sekitar pesisir Tanara, Kabupaten Serang. Sayang, terbatasnya waktu dan deadline tayang membuat saya tak sempat langsung ke lokasi. Tentu, ini menjadi catatan khusus. Setidaknya untuk memberi deskripsi kondisi daerah itu kini.

Capaian kemenangan atas Cirebon tak lantas membuat Sultan senang. Ini lantaran pasukan Banten yang dipimpin Lurah Astrasusila berbuat di luar batas. Mereka tak memberi ampun pasukan Cirebon yang tertangkap, dan tetap membunuhnya. Konon, kepala pasukan Cirebon yang terbunuh, sampai digantungkan di tiang-tiang kapal saat menuju Surosowan. Dan, Lurah Astrasusila diusir Sultan sebagai hukuman.

Dalam petuahnya, Sultan berujar, “Jangankan sesama Islam, sekali pun semua orang kafir, jika sudah (bertaubat) menjadi muslim harus diampuni.” Sultan pun mengutus Ki Wangsapraja ke Sumur Angsana untuk mengurus jenazah pasukan Cirebon.

*****

Manuskrip Sajarah Banten dari Abah Yadi, benar-benar membantu sekaligus menuntun saya menulis. Tak hanya untuk empat tulisan peristiwa Pacarebonan, juga feature-feature sejarah Banten lainnya. Tak terkecuali, catatan saya atas perjalanan Abah Yadi sendiri.

Saya kagum atas kegigihan Abah Yadi mendedikasikan diri, merawat warisan khasanah kebudayaan “manuskrip”. Bukan saja manuskrip Sajarah Banten, juga manuskrip-manuskrip lain yang lebih banyak catatan soal ajaran agama.

Untuk mengabadikan dedikasi Abah Yadi itulah, saya menulis feature khusus tentang dirinya. Tulisan itu saya beri judul ‘Yadi Ahyadi: Sang Perawat Naskah Kuno Banten’.

Keberaniannya menapaki jalan sunyi melacak jejak sejarah lewat manuskrip itu yang tak banyak orang lakukan. Naskah-naskah itu adalah sumber primer riset sejarah. Jangan heran, jika peneliti dari Belanda, Prancis, dan beberapa negara lain pernah meminta dipandunya. Kendati dalam penulisan sejarah modern, sumber dari perlu ada validitas akurasinya. Tak terkecuali saat jurnalis saat menulis berita yang bersumber dari manuskrip.

Dua dekade keliling kampung untuk melacak manuskrip adalah bukti tak terbantahkan seorang Abah Yadi. Bermula dari tugas kuliah mencari manuskrip itu, berlanjut menjadi misi kebudayaan. Ini serasa tugas jurnalisme yang berpangkal dari konsep story telling.

Saya jadi ingat sosok kenamaan dalam dunia jurnalisme. Sebut saja, Daniel Dofoe decade 1970-an, Mark Twain di abad 19, serta Stephen Crane, Jhon Steibeck, Ernest Hemingway dan George Orweell di abad 20. Pada merekalah, kita (jurnalis) belajar alternatif pencarian kerja jurnalisme mendalam. Khusunya pencarian lewat bentuk sastra. Lewat kerja jurnalisme, kita belajar menangkap dan merekam soal-soal sosial dan politik lebih dari sekadar informasi.

Atau sosok seperti Tom Wofie, yang mulanya memperkasai metode jurnalisme yang tak lazim pada zamannya (Sekadar menarasikan informasi/peristiwa ke dalam pelaporan jurnalisme). Wofie, menjadikan sastra sebagai lahan untuk gaya dan isi paparannya. Fakta sebagai dasar bagi laporan jurnalisme diarahkan literaty journalism ke banyak warna, bentuk, dan kedalaman pengisahan.

Tidak lagi selinier laporan berita biasa, atau sentuhan kisah human interest dalam gaya pemberitaan feature. Namun, gaya dan isi karya-karya dari literaty journalism menjadi semirip novel-novel sastra saat itu, dengan perbedaan pada proses yang memakai jejak rekam reportase kewartawanan. Gerak sebagai pelaku kewartawanannya benar-benar eksploratif. Mereka benar-benar menjadikannya sebagai gaya kerja jurnalisme. Bahkan gaya hidupnya sekalu jurnalis di elan jurnalisme yang kita kenal sekarang dengan istilah jurnalisme sastrawi.

Kisah pengalaman Abah Yadi dari pencarian manuskrip, sekali lagi menggugah penghayatan saya sebagai jurnalis. Dari informasi yang didapat, ia datang ke pemilik manuskrip. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Datang lagi, lagi dan lagi, sampai akhirnya si pemilik mengizinkan melihat. Juga mengizinkan membuka dan membaca benda, yang sebagian orang mempercayai sebagai keramat.

Lambat laun, upayanya mulai mendapatkan kepercayaan dari si pemilik naskah. Bahkan, ada beberapa orang menitipkan naskah miliknya. Di antaranya manuskrip tafsir, ilmu tasawuf, catatan dari ulama yang mengikuti pengajian Syekh Nawawi Albantani di Mekkah, tafsir jalalen, dan hikayat tarekat.

Termasuk, beberapa koleksi naskah kuno yang didapatkan dari Arsip Perpustakaan Nasional. Mulai dari naskah berkode BR625, KDG219, wawacan Haji Mansyur dalam bentuk tiga varian, dan Undang-undang masa Kesultanan Banten.

Konon, untuk mendapatkan satu naskah utuh Sajarah Banten, ia harus bolak-balik ke Perpusnas di Jakarta. Ia kumpulkan naskah-naskah itu dengan penuh kesabaran. Mencicil dengan memfotokopi naskah yang tak boleh lebih dari 15 halaman. Totalnya, hampir lima tahun lamanya.

Selain mencari, Abah Yadi juga mengadvokasi. Mulai dari cara merawat sampai memelihara agar tak semakin lapuk dimakan waktu. Kesabaran dan kegigihannya adalah modal mendapat kepercayaan. Jalan advokasi yang goalnya demi menjaga warisan budaya untuk disambungkan ke masa depan.

Sebagaimana pengakuan Abah Yadi, menyelamatkan naskah-naskah kuno yang merekam sejarah Banten, seperti menyelamatkan masa depan keberlanjutan Banten. Dari sejarah-lah orang belajar untuk menatap masa depannya.

Secangkir kopi pun hampir habis. Sampailah pada petuah Sultan Abdul Mufakir, dalam sepenggal Kitab Sajarah Banten menjadi penutup. “Wong Banten kudu ngagurat tapak leluhur. Aje sampe udan guru banjir ilmu, wong salah malah kaprah, wong bener ora lumrah.”

“Orang Banten harus melacak peristiwa-peristiwa masa lalunya. Jangan sampai kita hari ini menghadirkan banyak guru dan belajar banyak ilmu, tapi orang berbuat salah semakin merajarela dan orang berbuat baik semakin terkubur.”

Mari kita insyafi dan memberi makna atas keberlanjutan sejarah dan jalan kebudayaan kita. (*)


Ken Supriyono, Koordinator Journalist Lecture.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button