Opini

Eko Supriatno: Teologi Sosial Isra Miraj

biem.co — Isra Miraj sungguh suatu hal yang luar biasa dan menakjubkan. Di dalamnya mengandung nilai spiritual, nilai ritual dan nilai sosial yang menjadi hikmah dan pelajaran bagi umat Islam.

Perjalanan Isra Miraj berkaitan langsung dengan keimanan seseorang. Ketika mendapatkan kabar yang di luar jangkauan logika. Tentu hanya imanlah yang bisa mempercayainya.

Isra Miraj adalah peristiwa penting bagi umat Islam. Peristiwa ini terjadi pada 27 Rajab di tahun ke delapan kenabian. Pada tahun 2020 Isra Miraj diperingati pada Minggu (22/3). Kisah Isra Miraj terdapat dalam Alquran surat Al Isra.

Tidak semua Nabi diberikan kesempatan bertemu langsung dengan Allah. Nabi Muhammad satu-satunya yang mendapatkan kehormatan diundang dan berdialog dengan Allah.

Dari segi istilah, Isra adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari Masjidilharam Mekkah ke Masjidilaqsha Yerusalem dilakukan pada malam hari.

Di malam itu, Rasulullah bersama Malaikat Jibril melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Lalu, Nabi diangkat ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Allah.

Jangan Terpaku Seremoni!

Tahun ini, peringatan Isra Mi’raj berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, peringatan hari besar keagamaan tersebut kebetulan datang di tengah pandemik global korona. Dalam konteks saat ini, kita memperingati Isra Miraj diharapkan tak terpaku pada seremoni yang menghimpun massa atau jamaah.

Terlepas dari seremoni peringatan, hal lebih penting adalah kemampuan kita mendapatkan makna dari peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Salah satu buah dari peristiwa yang dialami Nabi Muhammad adalah pelaksanaan ibadah shalat. Bagi Muslim, shalat merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah SWT serta mendekatkan diri kepada-Nya.

Makin intens menjalin komunikasi dan terus selalu mendekat kepada-Nya semestinya membuat kita mampu terus mengingat-Nya dalam menjalani kehidupan keseharian. Maksudnya, kita dapat menunaikan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Seperti banyak kita ketahui, ditegaskan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Karena itu, kita berharap ibadah shalat wajib yang ditegakkan selama lima kali dalam sehari menuntun kita untuk selalu berbuat kebaikan.

Miraj Cinta Pada Semesta

Isra Miraj tidak hanya bersubtansi pada pemaknaan yang bersifat perenial– transenden (vertikal) demi mencurahkan kecintaan terhadap Sang Khaliq, melainkan bersubtansi pada pemaknaan yang bersifat sosial (horizontal).

Keseimbangan dalam menjalani kehidupan akan terasa hambar jika salah satunya sengaja diterbengkalaikan. Miraj tidak hanya identik dengan kesucian melainkan segala cinta pada semesta.

Menurut KH. Ali Yafie (1997), bahwa kecintaan itu merupakan dari fitrah (bawaan lahir yang alamiyah) dalam diri makhluk manusia, maka iman itu merupakan stabilisator dari cinta itu, menjaga keseimbangannya supaya tidak dikuasai nafsu amarah (yang menjurus kepada sikap mementingkan sendiri, sikap angkuh dan sekarah, sikap pelit dan materialistis, sikap pemerasan dan pemerkosaan hak orang lain, dan sikap-sikap yang merugikan dirinya sendiri atau merugikan orang lain dan masyarakat).

Sikap yang mengedepankan hawa nafsu hanya akan meruntuhkan nilai-nilai kemanfaatan, keadilan, kesejahteraan, dan keseimbangan di dalam menjalani hidup ini. Yang ada hanya bentuk kejahatan, penipuan, dan tindakan korupsi yang jauh dari makna hari kemenangan sejati.

Sebagaimana hadits Rasul yang berbunyi: a-lmuhâjiru man hâ jara as-su’a, wal mujâhidu man jâhada hawâhu. Orang yang hijrah ialah orang meninggalkan kejahatan, sedangkan orang yang berjihad ialah orang yang perang atau melawan hawa nafsunya.

Oleh karena itu, Miraj cinta pada semesta harus termanifestasikan dalam bentuk solidaritas antar sesama; saling membantu, tolong menolong, berbuat baik kepada keluarga, tetangga, lingkungan sekitar, dan masyarakat secara keseluruhan. Menjalin ukhuwah dengan sesama Muslim sehingga melahirkan persatuan yang kokoh juga harmoni dengan umat lainnya.

Selain itu, bersikap dermawan, mengeluarkan harta yang kita miliki untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang ditimpa kesusahan. Baik itu dilakukan secara langsung maupun menitipkannya kepada badan atau lembaga zakat.

Apalagi, saat ini beragam cara disediakan badan dan lembaga zakat yang memudahkan kita menyalurkan harta kita untuk kegiatan filantropi. Beragam program juga ditawarkan untuk membantu mustahik dari pemberdayaan ekonomi hingga pendidikan.

Peristiwa Isra Mikraj mengajarkan agar tidak mengabaikan hak anak yatimpiatu, mendidik mereka sampai mampu berdikari. Ini adalah bagian dari tugas pemerintah dan orang-orang yang dikaruniai kelebihan rezeki dan ilmu. Dari sudut ekonomi, ribawi adalah sistem yang sedang dipraktikkan bangsa Ini. Keuangan syariah hanya mendapat sekitar 5%. Itu artinya, riba telah menjadi denyut nadi perekonomian di Indonesia. Kurangnya perhatian pemerintah pada keuangan syariah menjadi salah satu penyebabnya, di samping rendahnya pemahaman masyarakat terkait bahaya riba. Kendati riba bertingkat-tingkat, namun setidaknya ada dua jenis riba yang harus dihindari, yaitu adanya unsur zhulm, atau kezaliman, dan adh’afan mudha’afan, bunga yang berlipat ganda.

Telah jelas sabda Rasullah SAW yang berbunyi: lâyu’minu ahadukum hattâ yuhibbu liakhîhi mâ tuhibbu linafsihî. Belum sempurna imam seseorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya. (HR. Bukhari).

Secara implementatif, meringankan beban oleh lain dengan cara memberikan bantuan maupun menyantuni fakir miskin dengan cara bersedekah dapat menaifkan sifat egoisme, tidak kenyang sendiri, melainkan menerapkan kesalehan sosial. Sebaliknya sikap apatisme, antipati sosial, vandalisme maupun segala bentuk anarkisme justru yang menciderai hari nan suci tersebut.

Seseorang yang berperilaku baik, selalu mendatangkan kebaikan pula. Sejalan dengan peribahasa Arab; al-ihsanu riqqun, wal mukafaatu ‘itqun. Kebaikan adalah bentuk kelembutan, dan kebercukupan adalah pembebasan.

Maka jelaslah, Isra Miraj tidak hanya dijadikan momentum maupun seremonial belaka, melainkan sebagai bentuk rasa kemanusiaan yang menyeluruh, sebagaimana Jalaluddin Rakhmat menegaskan bahwa pesan Isra Miraj haruslah terbebas dari egoisme personal yang meruntuhkan rasa kemanusiaan yang berbingkai rasa kasih sayang dan menyantuni antar satu sama lain.

Last but not least, sejatinya umat Islam agar tetap menguatkan nilai-nilai ketauhidan dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta mengharap ampunan-Nya

Adagium arab mengatakan “laisal jamâlu bi-atswâbin tuzayyinunâ, innal jamalâ-jamalul ‘ilmi wal adabi” Artinya: bukanlah keindahan itu terletak pada baju yang kita pakai, sesungguhnya keindahan itu terletak pada ilmu dan adab.

Orang yang berilmu tidak mengedepankan kesombongan melainkan rendah hati. Orang yang beradab tidak akan melakoni hal-hal tercela yang tidak sejalan dengan subtansi Isra Miraj yaitu kembalinya manusia yang Miraj.

Semoga meski tak ada seremoni besar terkait peringatan Isra Mi’raj seperti tahun-tahun sebelumnya karena kondisi seperti yang kini kita hadapi, tak membuat kita lupa akan makna hakiki dari Teologi Sosial Isra Miraj. (*)


Eko Supriatno, M.Si, M.Pd. Penekun Kajian di Sahalang.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button