Kesehatan

Mengenal Corona Baru Varian Kappa

Satu induk dengan Delta dan sudah bermutasi

Belum selesai berperang dengan varian Delta, kini muncul lagi varian baru virus Corona.

Dari keterangan Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio, varian itu telah ditemukan di Jakarta dan Sumatera Selatan. Ia adalah varian Kappa, atau yang bernomor B1617.1. Varian itu masih satu induk dengan varian Delta dan pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020.

Robert Booy, ahli penyakit infeksi di Universitas Sydney sendiri meyakini varian itu adalah hasil dari mutasi ganda secara berulang-ulang. Buktinya, varian Kappa sudah punya ‘kembaran’ yaitu E484Q dan L452R. Nah, mutasi L452R ternyata bisa lolos dari respons antibodi tubuh, lho.

Waduh, semoga aja vaksin-vaksin yang ada masih menang lawan varian ini, deh.

Varian Kappa juga punya banyak mutasi spike protein, yang fungsinya menempel ke wadah protein di sel manusia. Itulah alasan di balik kemampuan menularnya yang tinggi. Meski enggak separah Delta, kita tetap harus waspada dengan varian ini, guys.

Soalnya, pada April 2021, WHO menyebut varian itu termasuk variant of interest (VoI). Kalau sebuah varian masuk dalam klasifikasi itu, artinya ada beberapa kemungkinan varian itu mampu: mempengaruhi sifat penularan; kepekaan alat tes; tingkat keparahan gejala; hingga menghindari imunitas.

Sejauh ini, varian ini sudah merangsek ke 27 negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Varian Kappa sendiri jadi biang kerok wabah yang kembali merebak di Victoria, Australia. Kata Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, varian ini lebih menular dan dapat memperparah infeksi.

Bahkan, kata Dicky, bisa menular saat kamu berpapasan dengan orang yang terinfeksi varian tersebut dalam 10 detik. Saking cepatnya, kemampuan itu lalu dinamai fleeting atau menular secara sepintas. Memang, sih, varian Kappa tercatat 50 persen lebih menular daripada varian Delta, menurut ABC News.

Sementara, gejala varian ini juga cukup mencolok dari gejala pada umumnya. Dicky juga bilang, gejala yang ditimbulkan mirip penyakit campak. Itu, lho, saat kamu mengalami ruam sekujur tubuh disertai demam tinggi. Biasanya orang yang terkena campak juga batuk, pilek, hingga mata merah dan berair.

Karena berasal dari induk yang sama, varian Kappa juga kemungkinan sama berbahayanya dengan varian Delta. Kata Dicky, ini kabar buruk bagi orang-orang yang punya komorbid atau riwayat penyakit serius. Kalau kelompok itu terinfeksi, bisa jadi infeksinya parah.

Gejala-gejalanya memang tak beda jauh dari varian lain. Namun, kemampuan penularan yang tinggi-lah yang jadi kekhawatiran Dicky. Takutnya, ini jadi beban baru bagi nakes yang kini sudah di ambang batas.

Tapi, tenang, hasil studi dari Public Health England (PHE) menyebut bahwa vaksin yang ada masih ampuh mengatasi varian Kappa, kok. Mereka adalah Pfizer, AstraZeneca, dan Moderna. Hasil studi menyatakan, mereka mampu mencegah risiko rawat inap akibat Covid-19 sebanyak 90 persen.

Pokoknya enggak usah takut, deh, sama macam-macam varian yang muncul. Tapi ingat, virus Corona akan terus mengembangkan kemampuannya sampai pada taraf yang tak kita bayangkan sekalipun. Namun, seberapa beringas mutasi yang ada, enggak bakal mempan kalau kita bisa memproteksi diri dengan baik.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Andi Khomeini Takdir bilang, kuncinya sederhana: pakai masker, terutama masker dobel. Jangan lupa juga untuk melindungi diri dengan vaksinasi penuh, mematuhi prokes, jaga jarak, dan kurangi aktivitas tak perlu di luar rumah.

Kita sudah terlalu banyak kehilangan orang-orang tercinta, tetaplah hidup dan #JanganNungguGiliran. (Andara Rose, Narasi, Understanding Today in 10 Minutes)

Editor: Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button