InspirasiOpini

Spanduk Politik. Milenial: Omong Kosong!!!

Oleh Ade Novianto

biem.coPada halaman kedua koran Pos Kota tertanggal 16 November 2022 yang saya baca pada suatu sore memuat kolom aspirasi, di mana kolom itu diperuntukan bagi warga urban yang merasa dizhalimi atas birokrasi yang semerawut penataannya. Tata letak apa pun yang sifatnya publik akan cenderung memuat emosional setiap orang yang melintasinya, termasuk Spanduk Politik, bukan lantaran rusak atau bopak aspalnya melainkan rasa perih seperti tersengat gas air mata.

“Banyak spanduk liar bergambar partai politik dipasang asal-asalan hingga terkesan semerawut di Jalan Adhiyajsa Raya, Lebak Bulus…” tutur salah seorang warga.

Spanduk politik yang bertengger di pinggir-pinggir sudut adalah ajang rutinitas elit. Tentu, kita semua paham itu muatannya marketing. Di mana muka terpampang senyum (meskipun dipaksa-paksakan), warna, identitas, dan kata-kata bijaknya adalah pergumulan klasik yang kerap kita temui, bahwa kemudian kita juga diingatkan bel pemilu di depan rumah sudah bunyi, di situ ‘uang dibungkus amplop’ akan masuk jauh ke dalam di mana tempat mobil tinja berdebum dan anak-anak tik-tok berdiri di mulut gang.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Kota yang disulap dengan gedung-gedung jangkung dan segala gemerlap pernak-perniknya tidak serta menjangkungkan pendapatan warga urban, hidup dengan segala himpitan paylatter, gengsi, outfit, juga tekanan komentar sana-sini yang membentuk selera dan levelnya sendiri, mengubah arah hidupnya yang guyub menjadi apatis juga penuh siksaan. Sialnya, kondisi itu diperparah dengan tingkah-tingkah konyol para elit politik yang saban hari hadir bukan karena prestasi, elektabilitas, dan kemauan menyejahterakan rakyat, sehingga milenial kini bukan hanya muak dengan kebijakannya tapi juga merasa ingin muntah jika melihat meskipun melalui spanduk.

Dipajang di jalan seperti barang dagangan. Tidak lebih beda dari spanduk pecel atau martabak. Di zaman googling, kampanye tanpa panggung debat di ruang media yang mencakup luas sama halnya kita hidup dalam lampu templok dan kayu bakar, bukan dalam bentuk proposal publik yang diajukan lewat strategi profesionalisme marketing lewat gagasannya kepada milenial, tapi jauh lebih mundur ke belakang, lihatlah di sana, banyak tempat di pojok kota di mana segala tukang dapat blak-blak-an membuka tabir gelap kebijakan ampas yang terus bergema di bawah terpal murahan atau spanduk parpol hasil curian.

Estetika dalam ruang hidup bagi masyarakat atau warga kota yang menderita kelelahan sangat dibutuhkan, mengingat tekanan BOS di tempat kerja, tuntutan rumah tangga, dan usaha mengelak ejekan, terus menyetir hidup dan prinsipnya. Seni gambar yang menjulang di kota-kota besar seperti Mural atau pesan semangat dapat me-recharge tubuh masyarakat urban saat pulang dan menjadi energi atau baterai tambahan setiap pergi kerja, kini dirusak oleh janji dan ungkapan utopis.

Milenial hidup dalam abad digital, good performance, skincare, narsistik, branded (meski palsu), personal branding (meski sikut-sikutan), dan lepas landas, menggantikan manusia otot yang hidup dengan kuantitas nasi lebih nampak dibanding lauk. Kini harus berhadapan dengan kenyataan di mana elit gemar membungkus kata-kata dewa lewat cetakan 2 x 4 meter. Jelas tidak ada korelasi antara cuap-cuap elit politik di cetakan spanduk dengan tantangan juga kebiasaan milenial seperti sekarang, karena bagi milenial jauh lebih paripurna mendaku jabatan terhormat seperti mandor di tempat kerja daripada simpatik untuk mendukung wajah elit yang di poles photoshop.

Setidaknya kita belum luput dari ingatan tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan nyawa. Selang beberapa hari, ramai-ramai elite memejeng gambar partai dan tubuhnya di sebuah halaman koran, media official, dan website partai untuk mengucapkan belasungkawa tanpa kejelasan hak korban sampai sekarang, entah pakai alat ukur apa milenial dapat mengungkapkan emosi untuk menilai ketidak-normalan dunia yang semakin mapan.

Laporan citizen di Koran Pos Kota yang saya baca memuat makna ketegasan warga kota yang memilih lebih baik macet daripada lancar jaya dengan berkelebat spanduk-spanduk partai yang omong kosong. (Red)

Editor: Irvan Hq

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button