InspirasiSosok

Eko Supriatno: Sang Arsitek Perlawanan Sosial dan Intelektual

PANDEGLANG, biem.co – Eko Supriatno, sosok yang tak hanya dikenal sebagai akademisi dan peneliti, tetapi juga sebagai arsitek berbagai gerakan sosial dan intelektual yang menggugah kesadaran masyarakat.

Melalui inisiatif-inisiatifnya seperti Tadarus Sosial, Laboratorium Sosial, dan Lorong Diskusi, Eko Supriatno telah membawa angin segar dalam dinamika pemikiran dan aksi sosial di Indonesia.

Dedikasinya untuk menciptakan ruang-ruang dialog dan pembelajaran bersama mencerminkan semangat kebersamaan dan pemberdayaan, menjadikan setiap langkahnya sebagai pijakan penting dalam perjalanan menuju perubahan sosial yang lebih baik.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Dalam setiap program yang digagasnya, Eko Supriatno menekankan pentingnya pemahaman mendalam dan kolaborasi, membangun jembatan antara teori dan praktik, serta menginspirasi banyak orang untuk turut serta dalam upaya transformasi sosial.

Lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi sosial, budaya, dan politik di Indonesia, Eko menciptakan ruang-ruang dialog yang memfasilitasi pemahaman dan solusi atas berbagai permasalahan masyarakat.

Perlawanan Sosial Dimulai dari Secangkir Kopi

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kian individualistis, Eko Supriatno muncul sebagai sosok yang tak hanya memikirkan perubahan sosial, tetapi juga menggerakkannya melalui cara-cara yang sederhana namun bermakna. Sebagai arsitek perlawanan sosial dan intelektual, Eko menyadari pentingnya menciptakan ruang-ruang diskusi yang inklusif, salah satunya melalui konsep diskusi sambil ngopi santai.

Dalam pandangan Eko, diskusi tidak harus selalu berada dalam ruang formal dan kaku. Justru, suasana santai sambil menikmati secangkir kopi bisa menjadi medium yang efektif untuk mengalirkan ide-ide segar dan mendalam. Diskusi sambil ngopi santai memungkinkan semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, untuk terlibat aktif dalam perbincangan mengenai isu-isu sosial yang relevan. Dengan cara ini, hierarki dan jarak antara narasumber dan peserta diskusi bisa diminimalisir, menciptakan suasana egaliter yang kondusif bagi pertukaran gagasan yang jujur dan terbuka.

Di banyak kesempatan, Eko menggelar acara diskusi yang ia sebut sebagai “Lorong Diskusi” di berbagai sudut kota. Mulai dari warung kopi kecil hingga kedai-kedai modern, Eko selalu berusaha menghadirkan tema-tema yang hangat dan menantang. Lorong Diskusi ini tidak hanya menjadi tempat berbagi pandangan, tetapi juga menjadi wadah untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang ada.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep “Tadarus Sosial” yang Eko gagas, di mana masyarakat diajak untuk bersama-sama memeriksa dan merenungkan situasi sosial-politik dengan cara yang inklusif dan partisipatif. Diskusi sambil ngopi santai menjadi salah satu metode dalam Tadarus Sosial untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan solidaritas di tengah masyarakat.

Menurut Eko, ada kekuatan yang luar biasa dalam kebersamaan dan dialog. Ketika orang-orang duduk bersama di meja yang sama, berbicara dari hati ke hati, mereka bukan hanya bertukar pendapat, tetapi juga membangun ikatan sosial yang kuat. Diskusi-diskusi ini menjadi ajang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya, mendengarkan satu sama lain, dan menemukan solusi bersama untuk tantangan-tantangan yang dihadapi.

Namun, Eko juga menyadari bahwa untuk mengubah peradaban, diskusi tidak cukup hanya berhenti pada tataran wacana. Harus ada langkah nyata yang diambil sebagai tindak lanjut dari setiap pertemuan. Oleh karena itu, dalam setiap Lorong Diskusi, Eko selalu mendorong adanya follow-up yang jelas, baik dalam bentuk aksi sosial, advokasi kebijakan, maupun inisiatif-inisiatif lainnya yang berdampak langsung pada masyarakat.

Di masa yang serba cepat ini, Eko Supriatno mengajak kita semua untuk melambat sejenak, menghirup aroma kopi, dan berdiskusi tentang masa depan yang lebih baik. Dalam kesederhanaan sebuah diskusi sambil ngopi santai, tersimpan potensi besar untuk menggerakkan perubahan sosial yang substansial dan berkelanjutan. Eko, dengan visi dan aksinya, mengingatkan kita bahwa perlawanan sosial dan intelektual bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti secangkir kopi dan percakapan yang tulus.

Konsep Tadarus Sosial

Sebagai seorang pengamat sosial, Eko Supriatno terinspirasi oleh berbagai tokoh dan gerakan sosial dalam menciptakan perubahan yang bermakna. Salah satu tokoh yang mempengaruhi pandangan dan gerakannya adalah Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab dipanggil Cak Nun.

Setelah Reformasi, Cak Nun memilih jalan damai dan mengabdikan diri bersama masyarakat di berbagai pelosok Indonesia melalui kelompok musik Kiai Kanjeng. Kegiatan mereka mencakup dekonstruksi nilai, komunikasi, hubungan kultural, pendidikan cara berpikir, dan solusi masalah masyarakat.

Mengambil inspirasi dari konsep Maiyah yang diperkenalkan Cak Nun pada tahun 2001, Eko Supriatno mengembangkan konsep Tadarus Sosial. Tadarus Sosial menekankan kebersamaan dan sinergi antara masyarakat untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Seperti Maiyah yang berasal dari kata Arab “ma’a” yang berarti bersama, Tadarus Sosial juga menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun tatanan nilai, keyakinan, dan kepercayaan yang kuat dalam masyarakat.

Tadarus Sosial, seperti Maiyah, berfungsi sebagai gerakan sosial budaya baru yang memberikan harapan bagi kebangkitan sosial di Indonesia. Gerakan ini menjadi ruang belajar bersama atau laboratorium sosial terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat. Eko Supriatno memandang Tadarus Sosial sebagai dinamika tafsir berkelanjutan yang mendukung berbagai organisasi dan institusi dalam menciptakan perubahan positif.

Konsep ini berawal dari pengajajaran dan diskusi sosial yang digagas oleh Eko Supriatno di berbagai komunitas. Seperti halnya pengajian Padhangmbulan yang dimulai Cak Nun pada tahun 1994 di Jombang, Tadarus Sosial berkembang menjadi oase di tengah krisis sosial, budaya, agama, dan keadilan. Gerakan ini menekankan pentingnya kecerdasan kolektif melalui kegiatan belajar bersama (Sinau Bareng).

Seperti kisah Musa dalam kitab suci, gerakan Tadarus Sosial dimulai dengan semangat pembebasan tanpa nafsu kekuasaan, membangun tatanan nilai, keyakinan, dan kepercayaan. Gerakan ini berkembang menjadi himpunan-himpunan komunitas yang mandiri dan otonom, saling berhubungan atas dasar saling menghormati, memberi manfaat, dan menerima maslahat bersama.

Dalam konteks ini, Eko Supriatno melihat peran penting Tadarus Sosial sebagai inspirasi bagi gerakannya sendiri dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan dan bermakna. Melalui Tadarus Sosial, Eko Supriatno berharap dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan penuh kebersamaan.

Tadarus Sosial

Tadarus Sosial adalah sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama merenungi dan mendiskusikan masalah-masalah sosial. Dalam Tadarus Sosial, Eko mengajak partisipan untuk memahami dinamika sosial melalui perspektif yang kritis namun konstruktif. Kegiatan ini tidak hanya berbentuk diskusi, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan edukatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan aksi sosial.

Laboratorium Sosial

Melalui Laboratorium Sosial, Eko menciptakan sebuah wadah untuk eksperimen sosial yang mengajak masyarakat berpikir out of the box.

Di sini, berbagai ide dan teori sosial diuji coba dalam konteks nyata, dengan tujuan menemukan model-model intervensi sosial yang efektif dan dapat diimplementasikan dalam skala lebih besar. Laboratorium Sosial berfungsi sebagai think-tank yang terus berinovasi dalam upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya.

Lorong Diskusi

Lorong Diskusi adalah ruang dialog yang dibentuk untuk menampung aspirasi dan gagasan dari berbagai lapisan masyarakat. Eko melihat pentingnya komunikasi yang terbuka dan transparan sebagai fondasi bagi perubahan sosial. Melalui Lorong Diskusi, Eko mengumpulkan berbagai pandangan dan opini untuk dijadikan bahan kajian dan rekomendasi kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dari Kritik Sosial ke Aksi Konkret

Sebagai seorang jurnalis, Eko Supriatno tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga memberikan kritik sosial yang tajam terhadap kebijakan dan praktik yang merugikan masyarakat. Ia percaya bahwa media memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengkritisi kekuasaan, serta menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar. Karyanya sering kali mencerminkan keberpihakan kepada masyarakat kecil dan memperjuangkan keadilan sosial.

Diskusi bukanlah sekadar retorika kosong, melainkan fondasi bagi aksi eksekusi yang efektif dan berarti. Eko Supriatno menonjolkan pentingnya dialog terbuka untuk menggalang kekuatan kolektif, menghubungkan gagasan-gagasan kritis dengan tindakan konkret dalam merespons tantangan sosial-politik yang dihadapi masyarakat.

Melalui pengalaman dan intelektualitasnya, Eko Supriatno mengajarkan bahwa setiap langkah aksi haruslah terencana dengan matang, didukung oleh pemahaman mendalam akan akar permasalahan yang dihadapi. Diskusi tidak hanya sebagai seremoni intelektual, tetapi sebagai strategi untuk membangun solidaritas, menggugah kesadaran kolektif, dan mendorong perubahan nyata di tengah masyarakat yang dinamis. Dengan fokus pada kritik sosial yang tajam, Eko Supriatno mengajak untuk tidak hanya mengkritik dari pinggiran, tetapi turut serta merancang solusi dan mengimplementasikannya dalam aksi-aksi yang dapat mengubah paradigma dan struktur sosial yang tidak adil.

Ia mengilhami generasi baru untuk tidak hanya berkata-kata, melainkan bertindak sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Sebagai seorang arsitek perlawanan sosial dan intelektual, Eko Supriatno bukan hanya menciptakan ruang bagi diskusi, tetapi juga membangun jembatan antara teori dan praktik, menghadirkan inspirasi bagi mereka yang berjuang untuk perubahan yang lebih baik dalam masyarakat.

Epilog

Sebagai Sang Arsitek Perlawanan Sosial dan Intelektual, Eko Supriatno tidak hanya menyumbang gagasan-gagasan kritis yang mengubah paradigma, tetapi juga merevolusi cara pandang tentang bagaimana aksi nyata dapat mempengaruhi perubahan sosial yang signifikan. Dalam semangat revolusi kopi, setiap cangkir dihidangkan dengan cerita perjuangan dan keberanian untuk berdiri di garis depan perubahan.

Dengan keberanian dan ketekunan, Eko Supriatno mengajarkan kepada kita bahwa transformasi yang berarti dimulai dari pemahaman mendalam akan akar permasalahan, didorong oleh dialog terbuka dan aksi konkret yang terencana. Ia mengilhami generasi baru untuk tidak hanya mengkritik dari pinggiran, tetapi juga aktif merancang solusi dan mengimplementasikannya dalam masyarakat.

Seperti revolusi kopi yang meracik kehangatan dari biji-biji keras, Eko Supriatno meracik kehangatan dalam setiap diskusi dan aksi, membangun solidaritas yang kuat dan menggugah kesadaran kolektif. Melalui peranannya sebagai arsitek perlawanan sosial dan intelektual, ia membangun jembatan antara teori dan praktik, menjadikan kritik sosial sebagai pendorong utama untuk menciptakan perubahan nyata yang berkelanjutan dalam masyarakat yang dinamis ini. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button