biem.co – Bulan Ramadhan termasuk bulan suci dalam agama Islam. Kesucian bulan Ramadhan ini terkait dengan diturunkannya Alquran di bulan ini seperti yang dijelaskan QS. 2: 185 dan diwajibkannya menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan sesuai dengan keterangan QS. 2: 183-184.
Selain bulan suci, bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang istimewa dan utama bagi umat Islam. Keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan ini selain di dalamnya diturunkan Alquran dan diwajibkannya menjalankan ibadah puasa, juga ada beberapa keistimewaan dan keutamaan lainnya.
Di antara keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan adalah pada bulan ini pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup serta setan dirantai. Hal ini sesuai dengan keterangan hadits Nabi:
“Ketika Ramadhan masuk, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dirantai.” (HR. Bukhari)
Di dalam bulan Ramadhan ada satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Rasulullah bersabda:
“Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang penuh berkah, yang diperintahkan Allah Swt. kepadamu untuk berpuasa. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setiap setan dirantai. Di dalamnya Allah mempunyai malam yang lebih baik dari seribu bulan; barangsiapa dirampas kebaikannya, maka sesungguhnya ia dirampas.” (HR. An-Nasa’i).
Keutamaan lainnya, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan jika niat puasanya mencari ridho dan pahala dari Allah maka dosa-dosanya di masa lalu diampuni. Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa masa lalunya akan diampuni. Barangsiapa yang shalat malam bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang melewati Lailatul Qadr dalam shalat dengan iman dan mencari pahala dari Allah, maka dosa masa lalunya akan diampuni.” (HR. Bukhari Muslim).
Apabila balasan Allah bagi ibadah lain sudah pasti dan jelas hitungannya yaitu kelipatan sepuluh hingga tujuh ratus, sedangkan ibadah puasa itu balasannya sesuai dengan kehendak Allah yang jumlahnya tidak terbatas. Rasulullah bersabda
“Setiap amal yang dilakukan anak Adam, akan dilipatgandakan, suatu amal kebaikan yang nilainya sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman: Kecuali puasa yang merupakan hak-Ku, dan Aku akan membalasnya sesuai dengan itu. Sebab, seseorang meninggalkan nafsu dan makanannya demi Aku. Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: yang pertama ketika ia berbuka, dan yang kedua ketika ia bertemu Tuhannya, dan bau mulut (orang yang berpuasa) lebih baik di sisi Allah daripada harumnya bau mulut orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari)
Inilah beberapa keistimewaan dan keutamaan puasa Ramadhan. Karena itu wajar jika umat Islam sangat antusias menunggu kedatangan bulan Ramadhan. Ketika bulan Ramadhan itu semakin dekat kedatangannya, maka umat Islam akan menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh harapan dan kebahagiaan.
Cara umat Islam menyambut kedatangan bulan Ramadhan ini di setiap daerah di Indonesia memiliki caranya masing-masing. Tradisi menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang beragam ini mencerminkan nilai ajaran Islam yang terbuka serta toleran terhadap nilai dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Di daerah Jawa Barat dan Banten ada tradisi Munggahan. Munggahan berasal dari bahasa Sunda berarti naik. Munggahan berarti memasuki bulan puasa. Dalam rangka menyambut bulan puasa masyarakat di Jawa Barat dan Banten melakukan makan bersama dengan menu makanan tradisional sebagai sarana untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah, melakukan silaturrahim serta saling maaf memaafkan.
Di masyarakat Jakarta ada tradisi Nyorog. Nyorog merupakan kebiasaan masyarakat Betawi menjelang memasuki bulan Ramadhan dengan cara memberikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua serta tokoh masyarakat. Tradisi nyorog ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, sekaligus menjalin silaturahmi guna mempererat persaudaraan, saat akan memasuki bulan Ramadhan.
Di Yogyakarta ada tradisi Apeman. Apeman ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya oleh masyarakat Yogyakarta menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini dilakukan dengan membuat kue apem oleh anggota keluarga Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Di Jawa Tengah ada tradisi Padusan. Padusan merupakan tradisi mandi di mata air untuk membersihkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadan. Tradisi Padusan ini bertujuan untuk membersihkan diri di mata air tersebut. Harapannya, dengan melakukan tradisi ini, masyarakat dapat memasuki bulan Ramadan dengan niat yang lurus dan jiwa yang bersih.
Di Jawa Timur ada tradisi Magengan dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini umumnya ditandai dengan selamatan yang diadakan di masjid maupun mushola yang dihadiri oleh warga di sekitarnya yang dipimpin seorang ustadz dalam memimpin doa. Ketika Megengan, warga yang hadir ke selamatan akan membawa nasi yang disebut sego berkat, yang berisi sayur, lauk pauk, dan kue khas Jawa Timur. Tradisi ini dilakukan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi rezeki, menanamkan sifat ikhlas, dan memupuk kebersamaan antar sesama umat Muslim.
Umat Islam di Pulau Sumatera juga memiliki tradisi dalam menyambut bulan Ramadhan.
Masyarakat Aceh memiliki tradisi meugang dengan cara menyembelih kambing, kerbau, atau bahkan sapi sebelum memasuki bulan puasa. Di Sumatera Utara terdapat tradisi marpangir Atau mandi menjelang bulan Ramadhan. Dalam pelaksanaannya marpangir diperlukan ramuan seperti bunga-bunga dan jeruk purut.
Masyarakat Sumatera Barat memiliki tradisi malamang, yaitu tradisi menyambut Ramadan dengan membuat lemang. Masyarakat Jambi memiliki tradisi bebantai yang diartikan sebagai tradisi membantai atau memotong hewan seperti kerbau dan sapi dalam rangka menyambut datangnya Ramadan.
Masyarakat Sumatra Selatan memiliki tradisi ziarah kubro. Yaitu zirah yang dilakukan secara massal ke makam-makam para ulama dan pendiri kesultanan Palembang Darussalam. Sedangkan masyarakat Lampung memiliki tradisi belangiran atau mandi suci. Yaitu mandi dengan menggunakan air langir, bunga tujuh rupa, setanggi, dan daun pandan.
Tradisi yang berbeda di setiap daerah di Indonesia ini menunjukkan adanya harmoni antara Islam dengan budaya lokal. Islam memang memberikan tempat bagi pelestarian budaya lokal. IsIam mendorong budaya lokal tetap dipraktikkan di masyarakat selama budaya lokal itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Apresiasi Islam terhadap budaya lokal terlihat jelas dalam kaidah hukum Islam atau ushul fiqih, melalui konsep al ‘adah al muhakkamah. Kaidah al-’ādah muḥakkamah mengisyaratkan bahwa tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat islam menjadi bagian dari syariat Islam.
Selain itu ada juga kaidah lain hukum Islam yaitu ‘urf. ‘Urf adalah tradisi yang berlaku dan berkembang di tengah masyarakat, ‘Urf dikenal menjadi dua macam, yaitu: al-’urf al-shahih (tradisi yang benar) dan al-’urf al-fāsid (tradisi yang dianggap rusak). Suatu ‘Urf dianggap rusak jika bertentangan dengan nash atau ajaran agama yang terkandung dalam Alquran dan Hadits, namun jika tidak bertentangan, maka ‘Urf dapat dibenarkan. ***
Penulis: Muhamad Afif, Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten








