Kabar

Mahasiswa PGSD UPG Dalami Literasi Budaya dan Etnosains Melalui Batik Banten

SERANG, biem.co – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Primagraha (UPG) memperkuat pemahaman terhadap budaya lokal melalui kegiatan pembelajaran lapangan bertajuk Penguatan Literasi Budaya dan Pembelajaran Etnosains Berbasis Batik Banten yang berlangsung di Batik Banten Mukarnas, Kota Serang, pada 12–13 Juni 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Literasi Budaya ini dirancang untuk memperkenalkan mahasiswa pada nilai-nilai budaya Banten sekaligus mengintegrasikan konsep etnosains ke dalam pembelajaran sekolah dasar. Melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, mahasiswa diajak mengenal lebih dekat sejarah, filosofi, hingga proses pembuatan Batik Banten yang sarat dengan nilai budaya dan pengetahuan ilmiah.

Dosen pengampu mata kuliah Literasi Budaya, Dr. Anna Maria Oktaviani, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya Program Studi PGSD dalam membekali calon guru dengan pengalaman belajar autentik yang menghubungkan budaya, pendidikan, dan sains.

“Mahasiswa tidak hanya mempelajari budaya sebagai warisan daerah, tetapi juga memahami bagaimana unsur-unsur sains hadir dalam proses budaya tersebut. Ini menjadi bekal penting bagi calon guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna bagi peserta didik,” ujarnya.

Menurut Anna Maria, pembelajaran berbasis budaya dan etnosains mampu menjadi sarana efektif dalam membangun karakter, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan materi langsung dari tokoh budaya Banten, Saifun Nufus, S.H., M.H., yang dikenal aktif dalam pelestarian sejarah dan budaya daerah.

Di hadapan peserta, Saifun menegaskan bahwa Batik Banten bukan sekadar produk kerajinan, melainkan representasi sejarah dan peradaban masyarakat Banten yang memiliki nilai filosofis tinggi.

“Setiap motif Batik Banten memiliki makna yang berasal dari peninggalan Kesultanan Banten. Ini adalah identitas budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” katanya.

Selain mendapatkan pemaparan materi, mahasiswa juga melakukan observasi langsung terhadap proses pembuatan batik, mulai dari pengenalan motif, teknik pewarnaan, hingga penggunaan bahan-bahan yang berkaitan dengan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai konsep etnosains yang ditemukan selama kegiatan kemudian didiskusikan sebagai alternatif sumber belajar yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar.

Mahasiswa PGSD, Eli Zahraeni, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran langsung di lapangan membuat materi yang dipelajari lebih mudah dipahami.

“Kami bisa melihat secara langsung proses pembuatan Batik Banten sekaligus memahami filosofi di balik setiap motifnya. Pengalaman ini membuat pembelajaran budaya menjadi lebih nyata,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Arifin, yang menilai kegiatan tersebut membuka wawasan baru mengenai keterkaitan budaya dan ilmu pengetahuan.

“Saya baru menyadari bahwa proses membatik ternyata mengandung banyak konsep sains yang bisa dijadikan bahan pembelajaran di sekolah dasar. Ini membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan dekat dengan kehidupan siswa,” katanya.

Selama dua hari pelaksanaan, mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka aktif berdiskusi, melakukan observasi, serta mendokumentasikan berbagai informasi yang diperoleh sebagai bahan pengembangan pembelajaran berbasis budaya dan kearifan lokal.

Melalui kegiatan ini, Program Studi PGSD Universitas Primagraha terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya daerah sekaligus mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang relevan dengan karakteristik lingkungan dan budaya peserta didik.

Penguatan literasi budaya berbasis Batik Banten tersebut diharapkan mampu melahirkan calon guru yang tidak hanya kompeten dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan pendidikan yang berkelanjutan. ***

Editor:

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button