Eko SupriatnoKolomTerkini

Dolar, Rupiah, dan Kegelisahan Orang Kampung

Oleh: Eko Supriatno, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mathla'ul Anwar

KOLOM, biem.co – Pagi itu seorang ibu di sebuah pasar tradisional kembali meletakkan sebotol minyak goreng yang semula sudah masuk ke keranjang belanjanya. Ia berhenti sejenak, menghitung uang yang tersisa di dompetnya, lalu memilih membeli setengah kilogram gula daripada membawa pulang minyak goreng tersebut. Di saat yang hampir bersamaan, layar-layar televisi dan gawai menampilkan kabar yang sama: nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Bagi pelaku pasar keuangan, perubahan kurs merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang hampir setiap hari terjadi. Mereka membicarakan arah suku bunga, arus modal asing, hingga pergerakan obligasi pemerintah. Namun bagi masyarakat kecil, pelemahan rupiah tidak hadir sebagai angka di layar monitor. Ia datang dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang perlahan merangkak naik, ongkos transportasi yang semakin berat, dan daya beli yang terus menyusut.

Di kampung-kampung, orang tidak setiap hari mengikuti konferensi pers bank sentral atau membaca analisis pasar valuta asing. Mereka mungkin tidak memahami istilah depresiasi mata uang, capital outflow, atau yield treasury. Tetapi mereka memahami satu kenyataan sederhana: uang yang sama tidak lagi mampu membeli kebutuhan yang sama.

Di situlah pelemahan rupiah kehilangan sifatnya sebagai angka statistik dan berubah menjadi pengalaman hidup sehari-hari.

Seorang pedagang gorengan mulai mengurangi jumlah minyak yang dibeli agar usahanya tetap bertahan. Pemilik warung kelontong menunda menambah stok barang karena harga distributor berubah lebih cepat daripada kemampuan pembeli. Sopir angkutan menghitung ulang biaya operasionalnya. Seorang nelayan berpikir dua kali sebelum melaut karena solar semakin mahal. Sementara seorang ibu rumah tangga kembali menyusun daftar belanja agar cukup hingga akhir pekan.

Tidak ada yang marah kepada dolar. Tidak ada pula yang menyalahkan pasar global. Namun ada kegelisahan yang tumbuh pelan-pelan: mengapa setiap kali dunia bergejolak, dapur orang kecil selalu menjadi tempat pertama yang merasakan sesaknya?

Banyak ekonom menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh faktor-faktor eksternal. Ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, serta tingginya suku bunga Amerika Serikat mendorong investor mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman. Dolar kembali menjadi tempat berlindung sehingga permintaannya meningkat, sementara mata uang negara-negara berkembang mengalami tekanan.

Penjelasan itu benar.

Namun belum cukup menjawab persoalan yang sesungguhnya.

Hampir semua negara menghadapi badai global yang sama. Yang membedakan bukanlah besarnya ombak, melainkan seberapa kuat kapal yang menghadapinya. Kapal yang dibangun dengan konstruksi kokoh mungkin tetap bergoyang diterpa gelombang besar, tetapi tidak mudah karam. Sebaliknya, kapal yang rapuh akan kehilangan keseimbangan meskipun ombaknya tidak terlalu tinggi.

Ombak memang tidak bisa diperintah untuk tenang. Tetapi kita selalu bisa memperkuat lambung kapal.

Analogi itu juga berlaku dalam perekonomian. Guncangan global memang sulit dihindari, tetapi dampaknya sangat ditentukan oleh kekuatan struktur ekonomi domestik. Di sinilah Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai.

Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi relatif terjaga. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, inflasi dapat dikendalikan, dan berbagai proyek pembangunan terus berjalan. Namun di balik capaian tersebut masih tersimpan sejumlah kerentanan yang belum berhasil diatasi.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor masih tinggi. Nilai tambah industri manufaktur belum berkembang optimal. Diversifikasi ekspor belum cukup luas, sementara penerimaan devisa masih bertumpu pada komoditas yang sangat bergantung pada fluktuasi harga dunia. Pada saat yang sama, kebutuhan belanja publik terus meningkat sehingga ruang fiskal pemerintah semakin terbatas.

Soalnya bukan sekadar dolar menguat.

Persoalan utamanya adalah bagaimana membangun ekonomi nasional yang tidak mudah goyah setiap kali angin dari luar berubah arah.

Kita terlalu sering mengukur keberhasilan pembangunan melalui angka pertumbuhan ekonomi. Padahal pertumbuhan dan ketahanan bukanlah dua hal yang sama. Sebuah negara dapat tumbuh tinggi, tetapi tetap rapuh ketika menghadapi krisis. Sebaliknya, ekonomi yang tangguh bukan hanya mampu berkembang dalam situasi normal, melainkan juga mampu bertahan ketika tekanan datang tanpa diduga.

Angka pertumbuhan dapat dicetak setiap triwulan. Ketahanan ekonomi baru benar-benar terlihat ketika badai datang.

Karena itu, pembahasan mengenai nilai tukar seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah dolar akan naik atau turun minggu depan. Pertanyaan yang jauh lebih penting ialah apakah Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi yang semakin kokoh untuk menghadapi tantangan jangka panjang.

Dalam ekonomi modern, nilai tukar juga mencerminkan kepercayaan. Investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan atau tingkat inflasi. Mereka menilai kepastian hukum, kualitas tata kelola pemerintahan, konsistensi kebijakan publik, serta kemampuan negara menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.

Kepercayaan adalah modal yang tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata.

Ketika kepercayaan tumbuh, investasi meningkat, dunia usaha lebih berani berekspansi, dan lapangan pekerjaan bertambah. Sebaliknya, ketika kepercayaan melemah, pelaku usaha menjadi lebih berhati-hati, investasi tertunda, dan aktivitas ekonomi melambat.

Ironisnya, ketika indikator ekonomi dibicarakan dengan optimisme di ruang-ruang berpendingin udara, banyak keluarga justru semakin lama berdiri di depan rak kebutuhan pokok sambil menghitung ulang isi dompet mereka.

Pelemahan rupiah, karena itu, tidak cukup dipahami sebagai fenomena moneter. Ia juga menjadi cermin mengenai seberapa besar keyakinan publik terhadap arah pembangunan ekonomi nasional.

Diskusi publik sering kali terjebak pada pertanyaan sederhana: berapa nilai tukar rupiah besok?

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa ekonomi kita masih begitu mudah tertekan setiap kali dunia mengalami gejolak.

Pertanyaan itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar. Apakah pembangunan benar-benar memperkuat sektor produksi nasional? Apakah kebijakan industri telah mengurangi ketergantungan terhadap impor? Apakah investasi yang masuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri? Apakah pendidikan, riset, inovasi, dan pengembangan teknologi sungguh-sungguh menjadi prioritas pembangunan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih menentukan masa depan ekonomi Indonesia dibanding sekadar menebak arah pergerakan dolar beberapa minggu ke depan.

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang berhasil keluar dari tekanan ekonomi bukanlah negara yang tidak pernah mengalami krisis. Negara yang berhasil adalah negara yang menjadikan krisis sebagai kesempatan untuk berbenah.

Krisis memang menghadirkan ketidaknyamanan.

Namun krisis juga memiliki satu kejujuran yang sering kali tidak dimiliki masa-masa normal. Ia memperlihatkan kelemahan yang selama ini tertutup oleh angka pertumbuhan.

Di tengah situasi seperti ini, ada langkah sederhana yang sesungguhnya memiliki makna besar. Jika memiliki kemampuan lebih, belanjalah di warung tetangga. Dukung pedagang pasar tradisional. Pilih produk UMKM. Beli hasil usaha masyarakat di sekitar tempat tinggal kita.

Langkah kecil itu mungkin tidak akan langsung menguatkan rupiah.

Namun langkah itu menjaga denyut ekonomi rakyat tetap hidup.

Pada akhirnya, kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan fiskal, kebijakan moneter, atau pergerakan pasar keuangan. Ia juga ditentukan oleh jutaan pelaku usaha kecil yang setiap pagi membuka warung, menggelar dagangan, dan bekerja tanpa kepastian pendapatan.

Ketika rupiah melemah, merekalah kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Bukan investor besar. Bukan spekulan valuta asing. Melainkan pedagang sayur di pasar tradisional, penjual gorengan di pinggir jalan, tukang bakso keliling, nelayan, petani, pengemudi ojek, serta jutaan pekerja informal lainnya.

Bagi mereka, setiap kenaikan harga bukan sekadar angka statistik. Ia berarti keuntungan yang semakin tipis, tabungan yang semakin kecil, dan harapan yang semakin berat dipertahankan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukanlah seberapa tinggi angka pertumbuhan yang dicatat lembaga statistik, melainkan seberapa tenang seorang ibu ketika berbelanja kebutuhan rumah tangga, seberapa yakin seorang petani menanam musim berikutnya, dan seberapa optimistis seorang ayah berkata kepada anaknya bahwa masa depan akan lebih baik daripada hari ini.

Sebab ekonomi yang sehat bukan hanya menghasilkan angka-angka yang indah di atas kertas. Ia menghadirkan rasa aman di meja makan, harapan di ruang keluarga, dan keyakinan bahwa kerja keras masih mampu mengubah kehidupan.

Jika semua itu belum dirasakan oleh mereka yang hidup di kampung-kampung, jauh dari gedung pencakar langit dan ruang-ruang tempat kebijakan disusun, maka pekerjaan membangun ekonomi Indonesia belum benar-benar selesai. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button