Eko SupriatnoKolom

Lolos SNBP, Gagal Kuliah

Oleh: Eko Supriatno, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mathla'ul Anwar.

KOLOM, biem.co – Sekitar 60 ribu peserta yang dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 dilaporkan tidak melakukan daftar ulang. Angka ini memantik perdebatan. Sebagian mengaitkannya dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT), sebagian menunjuk kondisi ekonomi keluarga, sebagian lagi menyebut pilihan kampus lain atau persoalan administratif. Penyebabnya mungkin tidak tunggal. Namun, di balik semua kemungkinan itu, tersimpan satu pertanyaan yang lebih penting: mengapa anak yang berhasil masuk perguruan tinggi justru tidak selalu mampu menjadi mahasiswa?

Pertanyaan ini layak diajukan karena selama ini kita terlalu sibuk membicarakan bagaimana cara masuk kampus, tetapi kurang serius membicarakan bagaimana cara bertahan di dalamnya.

Di ruang-ruang tamu yang sederhana, kelulusan tidak selalu disambut sorak-sorai. Ada orang tua yang menerima kabar itu dengan mata berbinar, lalu beberapa jam kemudian duduk terdiam menghitung isi dompet, tabungan, dan kemungkinan yang tersisa. Ada anak-anak yang mengunggah kabar kelulusan di media sosial, tetapi malam harinya diam-diam mendengar percakapan orang tua tentang biaya kuliah, biaya kos, dan kebutuhan hidup yang terus naik.

Bagi mereka, surat kelulusan sering kali bukan akhir perjuangan. Ia justru awal dari kegelisahan baru.

Selama puluhan tahun, pendidikan dipercaya sebagai jalan untuk mengubah nasib. Anak petani dapat menjadi guru. Anak nelayan dapat menjadi dokter. Anak buruh dapat menjadi akademisi. Pendidikan menjadi jembatan yang memungkinkan seseorang melampaui batas-batas yang diwariskan oleh keadaan.

Karena itu, ketika anak-anak yang telah membuktikan kemampuan akademiknya justru gagal melanjutkan pendidikan karena alasan ekonomi, yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan biaya.

Kita sedang berhadapan dengan retaknya salah satu fondasi terpenting dalam masyarakat modern: mobilitas sosial.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya.

Selama ini kita mengira masalah pendidikan adalah mahalnya UKT. Mungkin kita keliru. Masalah yang lebih mendasar adalah negara terlalu fokus membuka pintu masuk perguruan tinggi, tetapi belum sepenuhnya memastikan siapa yang mampu berjalan sampai ke dalam.

Kita merayakan angka kelulusan setiap tahun. Namun jarang membicarakan mereka yang berhenti sebelum perjalanan dimulai.

Perdebatan mengenai UKT memang penting, tetapi kehidupan mahasiswa tidak berhenti pada lembar pembayaran semester. Ada biaya kos, transportasi, makan, buku, internet, praktik perkuliahan, hingga kebutuhan sehari-hari yang terus bergerak mengikuti inflasi. Di banyak keluarga, kuliah bukan sekadar keputusan akademik. Ia adalah keputusan ekonomi yang memengaruhi seluruh anggota rumah tangga.

Itulah sebabnya persoalan ini tidak bisa disederhanakan menjadi perdebatan tentang mahal atau murahnya UKT.

Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan membayar kuliah, melainkan kesempatan.

Kesempatan untuk belajar.

Kesempatan untuk berkembang.

Kesempatan untuk mengubah kehidupan.

Dan ketika kesempatan mulai lebih ditentukan oleh kondisi ekonomi daripada kemampuan akademik, pendidikan perlahan kehilangan fungsi pembebasannya.

Yang kalah bukan kecerdasan. Yang kalah adalah peluang.

Peluang untuk bergerak naik.

Peluang untuk memutus rantai keterbatasan.

Peluang untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik daripada hari ini.

Kita hidup di tengah optimisme tentang bonus demografi. Indonesia disebut akan menikmati ledakan usia produktif yang dapat menjadi kekuatan pembangunan. Namun sejarah banyak negara menunjukkan bahwa bonus demografi tidak pernah otomatis menjadi berkah.

Ia hanya menjadi berkah ketika negara mampu mengubah jumlah manusia menjadi kualitas manusia.

Di titik ini, pendidikan tinggi memegang peran yang sangat strategis. Kampus bukan sekadar tempat mencari gelar. Ia adalah ruang tempat lahirnya pengetahuan, inovasi, kepemimpinan, dan berbagai kemampuan yang menentukan masa depan bangsa.

Karena itu, setiap bangku kuliah yang kosong akibat hambatan ekonomi tidak boleh dipandang sebagai urusan pribadi mahasiswa dan keluarganya semata.

Ia adalah alarm sosial.

Alarm yang memberi tahu bahwa ada potensi yang gagal tumbuh.

Ada kemampuan yang tidak berkembang.

Ada mimpi yang tertahan di tengah jalan.

Ada masa depan yang tertunda sebelum sempat dimulai.

Lebih jauh lagi, ada biaya sosial yang sering luput dari perhatian.

Ketika seorang anak batal kuliah, yang hilang bukan hanya satu kursi di ruang kelas.

Yang hilang bisa jadi seorang guru yang kelak mengubah kehidupan murid-muridnya.

Yang hilang bisa jadi seorang dokter yang dibutuhkan daerah terpencil.

Yang hilang bisa jadi seorang peneliti yang menemukan solusi bagi bangsanya.

Yang hilang bisa jadi seorang pemimpin yang membawa perubahan bagi masyarakatnya.

Karena itu, yang mahal sesungguhnya bukan UKT.

Yang mahal adalah masa depan yang gagal tumbuh.

Yang mahal adalah kesempatan yang hilang sebelum sempat berkembang.

Yang mahal adalah bakat yang dikalahkan oleh keadaan.

Negara, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat tentu memiliki tanggung jawab untuk memperluas akses pendidikan. Namun persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan menambah kuota atau membuka jalur penerimaan baru. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa mereka yang berhasil masuk benar-benar memiliki peluang untuk menyelesaikan pendidikan dengan layak.

Sebab pendidikan tidak boleh berhenti pada seleksi.

Pendidikan harus berlanjut menjadi kesempatan.

Dan kesempatan harus berlanjut menjadi masa depan.

Pendidikan tinggi tidak boleh berubah menjadi ruang yang hanya ramah bagi mereka yang mampu. Ia harus tetap menjadi ruang harapan bagi mereka yang berusaha.

Pada akhirnya, angka 60 ribu itu bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ribuan cerita yang tidak pernah masuk laporan resmi. Ada orang tua yang membatalkan kebutuhan pribadinya demi anak. Ada keluarga yang menjual aset terakhirnya. Ada anak-anak yang memilih diam karena tidak ingin menambah beban orang tuanya.

Mereka bukan sekadar angka.

Mereka adalah wajah-wajah masa depan Indonesia.

Dan ketika seorang anak berhasil lolos SNBP tetapi gagal duduk di bangku kuliah karena keadaan ekonomi, yang tertunda bukan hanya pendidikannya.

Yang ikut tertunda adalah harapan sebuah keluarga.

Dan sedikit demi sedikit, harapan sebuah bangsa. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button