Eko SupriatnoKabarKolomTerkini

Rumah Kiai Embay Tak Pernah Sepi

Oleh: Eko Supriatno, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mathla'ul Anwar (UNMA) Banten; penulis buku Kiai Embay Mulya Syarief: Jejak Pemimpin Inklusif dari Banten.

 

KOLOM, biem.co – Ada rumah yang hanya menjadi tempat kembali setelah pekerjaan selesai. Ada rumah yang ramai pada pagi hari, lalu perlahan tenggelam dalam kesunyian ketika malam datang dan pintunya ditutup rapat. Namun ada pula rumah yang hidup oleh percakapan yang nyaris tidak pernah berhenti, rumah yang tidak hanya menjadi tempat tinggal seseorang, melainkan menjadi tempat singgah banyak orang yang membawa persoalan, harapan, kegelisahan, bahkan masa depan mereka sendiri. Rumah Kiai Embay Mulya Syarief di Serang termasuk rumah yang terakhir itu.

Rumah tersebut tidak dikenal karena ukuran bangunannya, bukan pula karena kemegahan ruang tamunya. Orang mengenalnya karena sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih langka pada zaman sekarang: pintunya mudah diketuk dan pemilik rumahnya masih menyediakan waktu untuk mendengar. Di sana, percakapan sering kali lebih penting daripada jadwal. Secangkir teh lebih berarti daripada ruang tunggu yang rapi dan formal. Orang datang tanpa protokol yang rumit dan pulang tanpa merasa baru saja bertemu seseorang yang harus dijaga jaraknya oleh jabatan ataupun posisi sosial.

Di Banten, orang mengenal rumah itu dengan alasan yang beragam. Ada yang datang untuk membicarakan persoalan organisasi dan pendidikan. Ada yang ingin berdiskusi mengenai arah pembangunan daerah atau masa depan generasi muda. Ada yang membawa persoalan pertanian, nelayan, pesantren, hingga ekonomi keluarga yang semakin sulit dipertahankan di tengah perubahan zaman. Sebagian datang untuk meminta nasihat, sebagian datang untuk meminta pandangan, dan tidak sedikit yang datang hanya karena ingin memastikan bahwa masih ada tempat di mana mereka bisa berbicara tanpa merasa sedang diadili.

Yang datang pun tidak pernah benar-benar sama. Suatu hari seorang menteri terlihat duduk di ruang tamu itu. Pada kesempatan lain seorang kepala daerah datang bersilaturahmi. Di hari yang berbeda hadir mahasiswa, aktivis, wartawan, pengusaha, tokoh masyarakat, hingga seorang kiai dari kampung yang jauh. Tidak jarang pula seorang warga biasa datang dengan wajah letih dan pulang dengan langkah yang terasa sedikit lebih ringan. Rumah itu seperti memiliki kemampuannya sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, tetapi dipersatukan oleh kebutuhan yang sama: didengar.

Pemandangan seperti itu menjadi semakin penting di tengah kehidupan publik yang semakin dipenuhi prosedur, agenda, dan batas-batas birokrasi. Kita hidup pada masa ketika jabatan sering melahirkan jarak. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin panjang pula prosedur untuk menemuinya. Percakapan yang dahulu berlangsung di teras rumah perlahan berpindah ke ruang rapat yang dingin, formal, dan dipenuhi jadwal yang ketat. Tidak semua orang merasa nyaman dengan dunia yang seperti itu. Sebagian masih percaya bahwa persoalan hidup kadang lebih mudah dijelaskan di hadapan secangkir teh daripada di balik meja panjang yang dipenuhi notulen dan presentasi.

Karena itulah rumah seorang kiai tetap memiliki arti yang penting. Ia menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan dalam kehidupan publik kita, yakni kesediaan untuk mendengar. Tidak semua orang yang datang ke rumah Kiai Embay mencari jawaban. Sebagian hanya membutuhkan telinga yang sabar. Sebagian lain hanya ingin memastikan bahwa kegelisahan mereka tidak dianggap terlalu kecil untuk dibicarakan. Ada saat ketika manusia tidak sedang mencari solusi, melainkan hanya ingin mengetahui bahwa masih ada seseorang yang bersedia mendengarkan sampai cerita itu selesai tanpa tergesa-gesa menyela atau terlalu cepat memberi kesimpulan.

Barangkali di situlah pengaruh bekerja dengan cara yang paling tenang. Bukan melalui keputusan, bukan melalui kewenangan administratif, dan bukan pula melalui jabatan formal, melainkan melalui kemampuan membuat orang lain merasa bahwa kehadiran mereka masih penting dan cerita mereka masih layak untuk didengar. Dalam banyak keadaan, manusia tidak selalu mengingat siapa yang paling berkuasa. Mereka lebih sering mengingat siapa yang bersedia meluangkan waktu ketika mereka membutuhkan seseorang untuk berbicara.

Dalam beberapa tahun terakhir, Banten menyaksikan pemandangan yang menarik. Ketika banyak tokoh sibuk menjaga panggung politik dan mempertahankan ruang kekuasaan mereka masing-masing, Kiai Embay justru terlihat semakin nyaman berdiri sedikit di belakang panggung itu. Namun pada saat yang sama, rumahnya justru semakin ramai. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pengaruh dan jabatan bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan. Jabatan memiliki batas waktu, sementara pengaruh sering kali justru mulai tumbuh ketika masa jabatan selesai.

Karena itulah tidak mengherankan apabila tokoh nasional, kepala daerah, pimpinan organisasi, aktivis muda, hingga pelaku usaha masih datang bersilaturahmi. Mereka datang bukan untuk urusan administratif ataupun kepentingan seremonial. Mereka datang untuk sesuatu yang lebih tua daripada birokrasi dan lebih panjang usianya daripada kekuasaan, yakni pengalaman, kebijaksanaan, dan ingatan sejarah yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah melewati banyak musim dalam kehidupan publik.

Dalam tradisi pesantren, seorang kiai memang tidak pernah benar-benar pensiun. Ia mungkin menyerahkan kepemimpinan organisasi kepada generasi berikutnya. Ia mungkin tidak lagi berdiri di garis depan berbagai perdebatan publik. Namun masyarakat tidak pernah berhenti melihatnya sebagai tempat bertanya ketika keadaan menjadi rumit, sebagai penengah ketika hubungan mulai retak, atau sebagai pengingat ketika orang mulai berjalan terlalu jauh dari arah yang selama ini diyakini bersama.

Mungkin itulah fase yang sedang dijalani Kiai Embay hari ini. Ia bergerak dari seorang pemimpin organisasi menuju peran yang jauh lebih jarang dimiliki oleh banyak tokoh publik, yakni menjadi penjaga ingatan kolektif. Pada titik tertentu, seorang tokoh tidak lagi diukur dari banyaknya jabatan yang pernah dipegang, melainkan dari banyaknya orang yang masih merasa perlu datang menemuinya. Bukan untuk meminta tanda tangan atau rekomendasi, tetapi untuk meminta pandangan, pertimbangan, atau sekadar memastikan bahwa arah yang mereka pilih tidak terlalu jauh meninggalkan jalan yang selama ini diyakini bersama.

Karena itulah rumah itu tidak pernah benar-benar sepi. Ia telah berubah menjadi ruang sosial tempat berbagai generasi Banten saling bersilang cerita dan pengalaman. Di sana seorang mahasiswa dapat duduk tidak jauh dari seorang menteri. Seorang aktivis dapat berbincang dengan seorang pengusaha. Seorang kepala daerah dapat mendengar cerita seorang petani. Dan seorang kiai menjadi tuan rumah bagi semuanya tanpa membedakan siapa yang datang lebih dulu dan siapa yang datang dengan jabatan lebih tinggi.

Ada sesuatu yang terasa sangat Indonesia dalam pemandangan seperti itu. Sesuatu yang perlahan mulai hilang di banyak tempat: kedekatan, percakapan, dan keyakinan bahwa persoalan besar tidak selalu membutuhkan gedung besar untuk dibicarakan. Kadang persoalan itu cukup dibawa ke sebuah ruang tamu, ditemani secangkir teh dan waktu yang tidak diburu-buru. Dari ruang-ruang seperti itulah sering kali lahir pandangan yang lebih jernih daripada keputusan yang diambil dalam suasana yang terlalu tergesa-gesa.

Mungkin itulah sebabnya rumah Kiai Embay tak pernah sepi.

Dan mungkin pula karena pengaruh yang sesungguhnya tidak selalu tinggal di kantor-kantor besar atau ruang-ruang kekuasaan. Kadang ia tinggal di sebuah rumah yang pintunya tetap terbuka, bahkan ketika jabatan telah lama berlalu.

Sebab pada akhirnya, orang jarang kembali ke tempat yang paling berkuasa.

Orang lebih sering kembali ke tempat yang membuat mereka merasa didengar. (Red)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button