Eko SupriatnoKabarKolomTerkini

Politik Londo Ireng

Oleh: Eko Supriatno (Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mathla'ul Anwar (UNMA) Banten)

KOLOM, biem.co – Tidak ada kekuasaan yang hidup tanpa bahasa. Yang membedakan satu kekuasaan dengan yang lain adalah cara bahasa itu dipakai: untuk membuka percakapan atau menutupnya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan istilah londo ireng terhadap pihak-pihak yang dinilai menyerang pemerintah tidak berhenti sebagai persoalan pilihan kata. Seorang presiden tidak pernah berbicara hanya sebagai individu. Kata-katanya selalu bekerja dua kali: sebagai ucapan dan sebagai isyarat. Ia bukan sekadar mengatakan sesuatu, tetapi juga mengajarkan publik cara memandang sesuatu.

Karena itu, yang penting bukan bunyi istilah londo ireng. Yang penting adalah ingatan yang dibawanya. Dalam pengalaman kolonial, istilah itu tidak lahir sebagai ejekan biasa. Ia lahir sebagai penanda bagi mereka yang dianggap berpihak kepada kekuasaan asing dan mengkhianati bangsanya sendiri. Sejarah membuat sebuah kata lebih berat daripada kamusnya.

Tetapi berhenti pada asal-usul istilah itu saja justru membuat kita kehilangan persoalan yang lebih besar.

Mengapa kekuasaan hampir selalu merasa perlu memberi nama kepada orang yang mengkritiknya?

Pertanyaan itu lebih penting daripada polemik mengenai londo ireng.

Sebab setiap kali kritik berubah menjadi persoalan identitas, perdebatan kehilangan arah. Yang diuji bukan lagi kekuatan alasan, melainkan asal-usul orang yang berbicara. Sejak saat itu, ruang publik perlahan bergeser: dari tempat menguji gagasan menjadi tempat menguji kesetiaan.

Di sinilah bahasa menjalankan fungsi politiknya yang paling halus. Ia tidak memenjarakan orang. Ia hanya mengubah cara orang dipandang. Dan sering kali, itu sudah cukup.

Setiap zaman mengenal godaan yang sama. Ketika argumentasi tidak lagi mudah meyakinkan, pelabelan menjadi jalan pintas. Julukan bekerja lebih cepat daripada penjelasan. Stigma menyebar lebih luas daripada data. Politik menemukan cara yang paling murah untuk memenangkan perhatian: bukan dengan memperkuat alasan, melainkan dengan memperlemah lawan bicara.

Yang mengkhawatirkan bukanlah kerasnya sebuah istilah. Demokrasi memang tidak menjanjikan percakapan yang selalu santun. Yang mengkhawatirkan adalah ketika bahasa mulai dipakai untuk menentukan siapa yang pantas didengar dan siapa yang sejak awal boleh diabaikan. Di titik itu, kritik tidak lagi diperlakukan sebagai argumen. Ia telah berubah menjadi identitas.

Perubahan semacam itu selalu berlangsung perlahan. Mula-mula hanya sebuah julukan. Lama-kelamaan, julukan menjadi cara berpikir. Orang tidak lagi bertanya apakah sebuah kritik benar, melainkan dari pihak mana kritik itu datang. Ketika itu terjadi, demokrasi masih memiliki pemilu, parlemen, dan konstitusi. Yang mulai hilang justru sesuatu yang lebih mendasar: kebiasaan mendengarkan.

Pemerintah tentu dapat berbeda pendapat dengan para pengkritiknya. Bahkan boleh jadi banyak kritik yang keliru. Namun demokrasi tidak pernah meminta pemerintah menyetujui semua kritik. Demokrasi hanya meminta satu hal yang jauh lebih sederhana: menjawab kritik dengan argumentasi, bukan dengan identitas.

Sebab pemerintah bukanlah negara. Pemerintah adalah penyelenggara kekuasaan yang dapat dipuji, dikritik, lalu suatu hari diganti. Negara adalah rumah bersama yang tetap berdiri setelah semua pergantian itu selesai. Ketika kritik kepada pemerintah mulai terasa seperti ancaman terhadap negara, batas di antara keduanya perlahan mengabur. Dan setiap kali batas itu mengabur, kebebasan sipil selalu menjadi pihak yang pertama kali membayar harganya.

Barangkali republik ini tidak sedang kekurangan orang yang mencintai negaranya. Yang lebih langka adalah keberanian menerima kritik tanpa lebih dahulu mencurigai niat orang yang menyampaikannya. Sebab demokrasi tidak runtuh ketika warga terlalu banyak bertanya. Demokrasi mulai rapuh ketika kekuasaan lebih sibuk memberi nama kepada para penanya daripada menjawab pertanyaan mereka.

Sejarah akhirnya tidak terlalu tertarik mengingat siapa yang paling piawai memberi cap kepada lawannya. Sejarah lebih lama mengingat siapa yang, di tengah godaan untuk membungkam, tetap memilih mendengar. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button