KabarKampusSosokTerkini

Profil Aninda Cahya Gumintang, Mahasiswi Metalurgi Untirta Berprestasi dan Aktif Berorganisasi

Dari ruang rapat OSIS, meja sekretaris, lomba debat, hingga karya tulis ilmiah, Aninda Cahya Gumintang tumbuh bersama pengalaman yang kelak dibawanya memasuki dunia Teknik Metalurgi.

Tidak semua orang tumbuh dengan sebuah peta di tangan. Tidak semua anak sekolah sejak awal tahu persis ke mana hidup akan membawanya. Sebagian berjalan saja. Mula-mula mengikuti satu kegiatan, kemudian menerima sebuah tugas, masuk organisasi, mencoba lomba, kalah atau menang, lalu mengambil kesempatan lain. Tanpa sadar, tahun-tahun berlalu dan pengalaman mulai menumpuk seperti buku-buku di rak. Ketika suatu hari menoleh ke belakang, baru tampak bahwa semuanya ternyata saling berhubungan.

Perjalanan Aninda Cahya Gumintang tumbuh dengan cara seperti itu.

Hari ini ia menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Metalurgi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dunia yang kini dimasukinya penuh dengan ketelitian, perhitungan, bahan, proses, dan kerja akademik yang menuntut kesabaran. Namun sebelum mengenal ruang kuliah dan pelajaran metalurgi, Aninda lebih dahulu ditempa oleh banyak ruang lain. Ada ruang rapat yang kadang terlalu panjang, meja sekretaris dengan urusan administrasi yang tak habis-habis, kegiatan sekolah yang harus dipersiapkan, forum debat, dan karya tulis ilmiah yang mengajarinya bahwa sebuah pendapat harus memiliki kaki untuk berdiri.

Di SMAN 4 Pandeglang, Aninda pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS. Jabatan itu terdengar gagah ketika ditulis dalam riwayat hidup. Dalam kenyataannya, organisasi lebih sering berisi daftar pekerjaan daripada tepuk tangan. Ada program yang harus dijalankan, anggota yang perlu dihubungi, kegiatan yang mesti disiapkan, dan persoalan yang kadang muncul tepat ketika semua orang mengira pekerjaan sudah selesai. Dari keadaan seperti itu, ia mengenal sisi lain dari kepemimpinan. Memimpin tidak selalu berarti memegang mikrofon. Sering kali justru berarti tetap tinggal ketika orang lain mulai pulang karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.

Ia ikut mengoordinasikan program kerja, berkomunikasi dengan anggota, mendampingi kegiatan, dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Pekerjaan organisasi membuatnya berhadapan dengan satu kenyataan sederhana: gagasan yang baik tidak akan berjalan sendiri. Ia membutuhkan orang, pembagian tugas, komunikasi, dan seseorang yang bersedia memastikan bahwa apa yang direncanakan benar-benar dikerjakan.

Setelah itu ada pengalaman sebagai sekretaris di English Conversation Club dan Karya Ilmiah Remaja. Posisi sekretaris membawa Aninda ke bagian organisasi yang lebih sunyi. Tidak banyak sorotan di sana. Administrasi tetap harus beres. Informasi harus sampai. Dokumen harus tersimpan. Jadwal tidak boleh berantakan. Kegiatan yang kelak tampak lancar di mata banyak orang sering kali dimulai dari pekerjaan kecil yang dikerjakan seseorang jauh sebelum acara berlangsung.

Tidak ada orang yang bertepuk tangan hanya karena sebuah arsip tersusun rapi. Jarang pula ada yang memberikan penghargaan khusus kepada orang yang berhasil memastikan sebuah informasi tidak salah alamat. Tetapi satu dokumen yang hilang dapat membuat banyak orang kebingungan. Satu informasi yang terlambat dapat mengacaukan rencana. Dari pekerjaan-pekerjaan kecil itulah Aninda berkenalan dengan ketelitian dan tanggung jawab. Ia belajar bahwa menjadi penting tidak selalu berarti menjadi yang paling terlihat.

Dunia ilmiah kemudian membuka pintu yang lain. Aninda pernah meraih Juara III dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan oleh BPOM. Prestasi itu mempertemukannya dengan cara berpikir yang lebih tertib. Dalam karya ilmiah, gagasan tidak dapat hanya mengandalkan bunyi yang meyakinkan. Ia harus punya dasar. Harus disusun. Harus dapat dijelaskan. Dan ketika orang lain datang membawa pertanyaan, gagasan itu harus sanggup bertahan.

Pengalaman tersebut berjalan berdampingan dengan prestasinya sebagai Juara I Debat Bahasa Indonesia di SMAN 4 Pandeglang. Menulis karya ilmiah dan berdebat memang seperti dua jalan yang berbeda. Menulis memberi waktu untuk berhenti, membaca kembali, mencoret, lalu memperbaiki. Debat tidak selalu semurah hati itu. Waktu berjalan, lawan bicara menunggu, dan jawaban harus keluar sebelum kesempatan lewat. Namun keduanya sama-sama mengajarkan Aninda untuk tidak memperlakukan pikiran sebagai barang sembarangan. Sebelum sebuah pendapat keluar, ada alasan yang harus dipikirkan.

Ia juga meraih Juara Umum I di SMAN 4 Pandeglang. Tetapi pencapaian, seperti foto di atas panggung, hanya memperlihatkan satu bagian dari cerita. Ada hari-hari ketika tugas sekolah bertemu dengan agenda organisasi. Ada persiapan yang harus dilakukan ketika orang lain mungkin sedang beristirahat. Ada kegiatan yang tidak berjalan persis seperti rencana. Ada rapat yang lebih panjang dari yang seharusnya. Dari hal-hal seperti itulah seseorang belajar mengatur waktu, mengendalikan diri, dan menerima bahwa tidak semua persoalan datang dengan jawaban yang sudah tersedia.

Sekarang Aninda memasuki bab yang berbeda. Ia adalah mahasiswi Teknik Metalurgi Untirta. Tuntutan akademiknya bertambah, persoalan yang dipelajari semakin rumit, dan pengetahuan yang harus dikuasai semakin luas. Ia membawa dirinya ke lingkungan baru dengan bekal yang dikumpulkan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ketika muncul kesempatan mengikuti seleksi Asisten Laboratorium Fisika Terapan, ia melihatnya sebagai ruang untuk belajar lebih dekat dengan disiplin akademik.

Laboratorium memiliki bahasanya sendiri. Ada prosedur yang harus dipatuhi, ketelitian yang tidak bisa ditawar, dan tanggung jawab yang tidak dapat digantikan oleh alasan. Sebuah langkah yang terburu-buru dapat membuat hasil berubah. Sebuah prosedur yang diabaikan dapat mengacaukan pekerjaan. Lingkungan seperti itu menuntut kebiasaan bekerja secara cermat dan sistematis.

Pengalaman organisasi memberi Aninda dasar untuk menghadapi tuntutan tersebut. Ia telah mengenal kerja tim, komunikasi, koordinasi, dan pembagian tugas. Karya tulis ilmiah melatihnya menyusun pikiran dengan lebih tertib. Debat mengajarinya mengutarakan pendapat. Pekerjaan sebagai sekretaris membiasakannya berurusan dengan ketelitian. Semua pengalaman itu datang dari tempat yang berbeda, tetapi masing-masing meninggalkan sesuatu yang dapat dibawa ke tempat berikutnya.

Ia juga mengembangkan keterampilan teknis dan digital, mulai dari Microsoft Office, Google Workspace, Minitab, AutoCAD, hingga Canva. Keterampilan tersebut menjadi bagian dari persiapan akademiknya. Meski begitu, hidup di kampus tidak pernah hanya ditentukan oleh berapa banyak aplikasi yang dapat dibuka dari layar komputer. Ada pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Ada tugas yang meminta kerja sama. Ada keadaan ketika seseorang harus berani mencoba, meski belum sepenuhnya yakin.

Aninda masih berada di awal perjalanan kuliahnya. Masih banyak yang akan dipelajari. Masih ada pelajaran yang mungkin terasa sulit pada pertemuan pertama. Masih ada tugas yang akan membuat malam terasa lebih pendek. Masih ada pengalaman yang belum datang. Tetapi dari sekolah hingga kampus, satu kebiasaan tampak terus menyertainya: ketika sebuah kesempatan datang, ia memilih untuk terlibat.

Ia pernah berada di ruang rapat dan belajar berkoordinasi. Ia pernah duduk di meja sekretaris dan belajar bahwa ketelitian tidak boleh dianggap sepele. Ia pernah masuk ke ruang kompetisi ilmiah dan memahami bahwa gagasan harus mempunyai dasar. Ia pernah berhadapan dalam debat dan belajar mempertanggungjawabkan pendapat. Kini ia masuk ke dunia Teknik Metalurgi dengan membawa seluruh pengalaman itu sebagai bekal.

Jalannya masih panjang. Dan itu justru kabar baik.

Sebab tidak ada alasan untuk tergesa-gesa ketika seseorang masih memiliki banyak hal untuk dipelajari. Hidup tidak selalu meminta kita mengetahui seluruh tujuan sejak hari pertama. Kadang yang diperlukan hanya keberanian untuk mengambil pekerjaan yang ada di depan mata, menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh, lalu bersedia menerima pelajaran dari pekerjaan berikutnya.

Dari Pandeglang, dari sekolah, dari rapat organisasi, dari lembar-lembar karya tulis, dari forum debat, Aninda melangkah menuju ruang kuliah dan dunia metalurgi. Satu per satu pengalaman yang semula berdiri sendiri kini ikut membentuk jalan yang ditempuhnya.

Dan jalan itu masih terus terbuka. (Red)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button