SERANG, biem.co – Uang Rp100 ribu milik Rahmawati sobek setelah dimainkan anaknya. Bagi warga Pulau Tunda, Kabupaten Serang itu bukan sekadar uang rusak, tetapi juga persoalan ketika uang tersebut sulit digunakan untuk bertransaksi.
Kesempatan menukarkan uang pun tak datang setiap saat. Karena itu, ketika Bank Indonesia (BI) Banten kembali menyeberang ke Pulau Tunda melalui Kas Keliling Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB), Rahmawati langsung memanfaatkan layanan tersebut.
“Ya senang lah, apalagi kalau ada uang sobek, uang pecahan yang ujungnya hilang atau disobek-sobek itu kan bisa ditukarkan karena memang kan nggak ada potongan,” kata Rahmawati, Selasa (29/9/2026).
Selama ini, kata dia, warga tidak memiliki banyak pilihan ketika menemukan uang yang rusak atau lusuh.
Ada pihak-pihak tertentu yang menerima uang tersebut dengan nilai yang sudah berkurang. Rahmawati mencontohkan, uang Rp50 ribu bisa dihargai hanya sekitar Rp25 ribu.
“Kalau selama ini nggak ada pelayanan ke sini, cuma ada yang minta, ya kena potongan,” ujarnya.
Bagi Rahmawati yang sehari-hari berdagang, keberadaan uang layak edar juga penting. Sebab, tidak semua pedagang mau menerima uang yang sudah lusuh atau rusak.
“Kalau saya masih terima, nanti dibawa belanja,” katanya.
Karena itu pula, kehadiran BI di Pulau Tunda selalu dinantikan warga. Rahmawati menyebut layanan Kas Keliling BI biasanya hanya hadir sekitar setahun sekali. Ia bahkan berharap pelayanan tersebut bisa datang lebih sering.
“Kalau ada dananya, sanggupnya, senang sih sebulan sekali,” ucapnya.
Menurut Rahmawati, warga bahkan kerap menanyakan kapan BI kembali datang ke pulau mereka.
“Kadang ditunggu-tungguin, ‘kapan sih ada BI, kapan ada BI lagi?’ katanya begitu,” tuturnya.

Pada kegiatan kali ini, Rahmawati membawa uang Rp100 ribu yang sobek untuk ditukarkan.
“Uang Rp100 ribu, disobek anak kemarin,” katanya sambil tertawa.
Kepala Desa Wargasara, Pulau Tunda, Hasim, turut mengapresiasi kehadiran BI Banten di Pulau Tunda.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut sudah menjadi kali kelima BI hadir menyapa masyarakat melalui program penukaran uang Rupiah.
“Alhamdulillah, ini sudah kelima kalinya BI hadir menyapa masyarakat dengan program penukaran uang Rupiah, sekaligus sosialisasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah dan pembayaran digital QRIS. Kami merasa sangat terbantu,” katanya.
Menurut Hasim, kehadiran BI memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh uang Rupiah yang layak edar. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kehadiran negara hingga ke wilayah kepulauan.
Kas Keliling ERB BI Banten sendiri tidak hanya menghadirkan layanan penukaran uang. Warga juga mendapatkan edukasi mengenai Cinta, Bangga, Paham Rupiah serta penggunaan QRIS untuk transaksi digital.
Ekspedisi ke Pulau Tunda kali ini juga dipadukan dengan layanan kesehatan gratis yang mendapat dukungan dari Rumah Sakit Fatimah.
Sebanyak 100 warga Pulau Tunda mendapatkan kesempatan untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Salah satunya Nurjana. Perempuan sekitar 50 tahun itu datang untuk memeriksakan sejumlah keluhan, mulai dari gatal-gatal, asam urat hingga tekanan darah.
“Gatal, terus darah tinggi lagi ini,” ujar Nurjana saat ditanya mengenai keluhannya.
Layanan kesehatan gratis tersebut menjadi bagian lain dari kegiatan yang dibawa dalam ekspedisi ke wilayah kepulauan. ***








