CILEGON, biem.co – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya mengetahui jumlah produk yang terjual dan uang yang masuk. Kemampuan mencatat dan mengelola keuangan menjadi salah satu kunci agar usaha dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Literasi Akuntansi Keuangan Berbasis Green Accounting bagi Pelaku UMKM dalam Mendukung Kinerja dan Keberlanjutan Usaha” yang digelar di UMKM Keripik Kacang Ijo “Mang Salman”, Jalan KH Abdul Latif Palas, Desa Bendungan, Cilegon, Banten.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (8/10/2026) tersebut memberikan edukasi kepada pelaku UMKM mengenai pengelolaan dan pencatatan keuangan, sekaligus memperkenalkan konsep green accounting dalam aktivitas usaha.
Ketua Pelaksana PKM, Listia Aulia Indy, S.Ak., M.Ak., menjadi pemateri utama. Sementara sesi tanya jawab diisi oleh Vani Vauliyanti, S.E., M.Ak.
Dalam kegiatan tersebut, pelaku UMKM diajak memahami pentingnya pencatatan keuangan secara tertib. Sebab, masih terdapat pelaku usaha yang melakukan pencatatan secara sederhana dan belum konsisten, bahkan mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha.
“Pelaku UMKM tidak cukup hanya mengetahui berapa besar omzet yang diperoleh. Mereka juga perlu memahami bagaimana kondisi keuangan usahanya, mulai dari pencatatan transaksi, pengelolaan kas, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana,” ujar Listia.
Menurutnya, pencatatan keuangan yang baik dapat membantu pelaku usaha mengetahui pendapatan, biaya, laba, arus kas hingga kondisi keuangan secara lebih jelas.
“Dengan pencatatan yang lebih tertib, pelaku UMKM dapat mengetahui pendapatan, biaya, laba, serta kondisi usahanya secara lebih jelas. Informasi tersebut penting untuk mengevaluasi kinerja sekaligus menentukan langkah pengembangan usaha,” katanya.
Selain literasi akuntansi keuangan, kegiatan PKM tersebut juga mengenalkan konsep green accounting kepada pelaku UMKM.
Konsep ini mengajak pelaku usaha untuk melihat bahwa penggunaan listrik, air, bahan baku, kemasan hingga pengelolaan limbah juga memiliki keterkaitan dengan biaya usaha.
“Green accounting kami kenalkan agar pelaku UMKM mulai melihat bahwa penggunaan listrik, air, bahan baku, kemasan hingga pengelolaan limbah juga berkaitan dengan biaya usaha,” jelas Listia.
Dengan pemahaman tersebut, pelaku UMKM diharapkan dapat mengidentifikasi penggunaan sumber daya sekaligus menemukan peluang efisiensi untuk mengurangi pemborosan.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis. Program juga dilakukan melalui edukasi, praktik, dan pendampingan.
Pelaku UMKM diarahkan untuk memahami konsep dasar akuntansi, mencatat transaksi, mengelola kas, memisahkan uang pribadi dan usaha, hingga menyusun laporan keuangan sederhana.
Peserta juga dikenalkan dengan cara mengidentifikasi penggunaan energi, air, bahan baku, kemasan serta aktivitas yang menghasilkan limbah sebagai bagian dari penerapan green accounting.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pemahaman teori. Pelaku UMKM dapat menerapkan pencatatan keuangan dan mulai mengidentifikasi biaya lingkungan dalam aktivitas usahanya, sehingga keputusan bisnis yang diambil menjadi lebih terukur dan efisien,” tuturnya.
Untuk mendukung penerapan materi setelah kegiatan, tim PKM juga menyiapkan media dan panduan praktis yang dapat digunakan pelaku UMKM secara mandiri.
Panduan tersebut dirancang menggunakan bahasa sederhana dan dilengkapi contoh transaksi, format pencatatan, identifikasi biaya lingkungan, serta contoh penyusunan laporan keuangan.
Melalui kegiatan ini, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga mampu membangun tata kelola usaha yang lebih sehat dengan memperhatikan efisiensi sumber daya dan lingkungan.
“Literasi akuntansi dan pemahaman green accounting diharapkan dapat membantu pelaku UMKM mengelola usaha secara lebih tertib, efisien, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, sehingga usaha dapat berkembang dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” pungkas Listia. ***








